{"id":615,"date":"2020-03-07T13:48:03","date_gmt":"2020-03-07T13:48:03","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=615"},"modified":"2020-03-07T13:52:04","modified_gmt":"2020-03-07T13:52:04","slug":"antara-ruqyah-dan-aqidah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/antara-ruqyah-dan-aqidah\/","title":{"rendered":"Antara Ruqyah dan Aqidah"},"content":{"rendered":"<div>\n<p>Oleh: <strong>Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA<\/strong><\/p>\n<p><strong>S<\/strong><strong>umpah Iblis<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p>Alkisah, setelah menciptakan Adam <em>Alaihissallam<\/em>, All\u00e2h <em>Azza wa Jalla<\/em> memerintahkan para penghuni surga saat itu; Malaikat dan setan untuk bersujud kepadanya. Sujud dalam arti penghormatan bukan penyembahan. Para penghuni surga terbelah menjadi dua. Sekelompok mematuhi perintah tersebut, mereka adalah para Malaikat. Sebagian lagi enggan, dengan dalih dia lebih hebat dibanding Adam <em>Alaihissallam<\/em>. Makhluk tersebut adalah iblis. Dia bermain logika bukan pada tempatnya, <em>\u201cAku terbuat dari api, sedangkan Adam hanya terbuat dari tanah\u201d<\/em> [Al-A\u2019r\u00e2f\/7:12]<\/p>\n<p>All\u00e2h <em>Azza wa Jalla<\/em> murka dengan pembangkangan tersebut. Akibatnya iblis diusir dari surga. Dalam keadaan hina dina, iblis masih menyempatkan diri untuk bersumpah guna membalas \u2018dendam kesumatnya\u2019.<\/p>\n<p>All\u00e2h <em>Azza wa Jalla<\/em> menceritakan hal itu dalam firman-Nya:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0641\u064e\u0628\u0650\u0639\u0650\u0632\u0651\u064e\u062a\u0650\u0643\u064e \u0644\u064e\u0623\u064f\u063a\u0652\u0648\u0650\u064a\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064e\u062c\u0652\u0645\u064e\u0639\u0650\u064a\u0646\u064e<\/strong> <strong>\ufd3f\u0668\u0662\ufd3e<\/strong> <strong>\u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0639\u0650\u0628\u064e\u0627\u062f\u064e\u0643\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062e\u0652\u0644\u064e\u0635\u0650\u064a\u0646\u064e<\/strong><\/p>\n<p><em>(Iblis) berkata, \u201c<strong>Demi kemuliaan-Mu<\/strong>, <strong>pasti aku akan menyesatkan mereka<\/strong> semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka. <\/em>[Sh\u00e2d\/38:82-83]<\/p>\n<p>Iblis juga memploklamirkan kegigihannya untuk menyesatkan bani Adam:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0641\u064e\u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u063a\u0652\u0648\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e\u0646\u0650\u064a \u0644\u064e\u0623\u064e\u0642\u0652\u0639\u064f\u062f\u064e\u0646\u0651\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0635\u0650\u0631\u064e\u0627\u0637\u064e\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0633\u0652\u062a\u064e\u0642\u0650\u064a\u0645\u064e<\/strong> <strong>\ufd3f\u0661\u0666\ufd3e<\/strong> <strong>\u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0644\u064e\u0622\u062a\u0650\u064a\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0628\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0623\u064e\u064a\u0652\u062f\u0650\u064a\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u0652 \u062e\u064e\u0644\u0652\u0641\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u064a\u0652\u0645\u064e\u0627\u0646\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0634\u064e\u0645\u064e\u0627\u0626\u0650\u0644\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>\u06d6<\/strong><strong> \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u062c\u0650\u062f\u064f \u0623\u064e\u0643\u0652\u062b\u064e\u0631\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0634\u064e\u0627\u0643\u0650\u0631\u0650\u064a\u0646\u064e<\/strong><\/p>\n<p><em>(Iblis) berkata, \u201cKarena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. <\/em><em>Kemudian <strong>pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka.<\/strong> Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. <\/em>[Al-A\u2019r\u00e2f\/7:16-17]<\/p>\n<p><strong>P<\/strong><strong>erangkap Setan<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p>Guna melancarkan proyek penyesatannya, iblis dan keturunan berikut kroninya menebarkan banyak ranjau untuk menjerat bani Adam.<\/p>\n<p>Menurut Imam Ibn al-Qayyim (w. 751 H),<strong> perangkap setan ada enam jenis:<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kekufuran dan kesyirikan.<\/strong> Inilah target utama setan, jika berhasil maka manusia akan menjadi tentara iblis dan pasukannya. Namun bila gagal, maka insan akan dijerat dengan perangkap berikutnya:<\/li>\n<li><strong>Bid\u2019ah.<\/strong> Sebab, kata Imam ats-Tsauri, <em>\u201cBid\u2019ah lebih disukai iblis dibandingkan maksiat. Karena pelaku maksiat akan bertaubat sedangkan pelaku bid\u2019ah tidak bertaubat\u201d<\/em>.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn1\" name=\"_ftnref1\">[1]<\/a> Jika tidak berhasil maka manusia akan dijerat dengan ranjau ketiga, yaitu:<\/li>\n<li><strong>Dosa besar<\/strong> dengan berbagai macam jenisnya. Setan berusaha keras untuk menjerumuskan seorang hamba ke dalam perbuatan dosa besar. Apalagi jika ia adalah seorang panutan di masyarakat, seperti para Ulama misalnya. Setelah terjerumus, setan bekerjasama dengan kroni-kroninya untuk mem\u2019publikasikan\u2019 \u2018kecelakaan\u2019 tersebut di hadapan umat, agar mereka menjauhinya. Jika gagal, setan akan menebar ranjau keempat, yakn:i<\/li>\n<li><strong>Dosa kecil.<\/strong> Seorang hamba dijadikan meremehkan dosa kecil, sehingga dilakukannya berkali-kali sampai berbalik menjadi dosa besar. Kalau tidak berhasil, setan memasang perangkap kelima, yaitu dengan:<\/li>\n<li><strong>Menyibukkan manusia dalam hal-hal yang mubah,<\/strong> sehingga terlalaikan dari amalan-amalan yang berpahala. Andaikan target yang diincar adalah orang yang senantiasa menjaga waktunya dan sadar akan keterbatasan masa hidupnya di dunia, maka setan akan menjerumuskannya ke ranjau yang keenam. Yakni:<\/li>\n<li><strong>Menyibukkannya dengan amalan-amalan yang utama, namun dijadikan lupa akan amalan-amalan yang lebih utama,<\/strong> karena keterbatasan ilmu dia. Seperti sebagian kalangan yang tersibukkan dengan dakwah kepada akhlak, sehingga melalaikan dakwah kepada tauhid. Sedemikian halusnya perangkap ini, sehingga banyak orang yang terjerumus ke dalamnya, dan mengira bahwa ia berada di jalan kebenaran.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Seorang hamba tidak akan selamat dari berbagai perangkap di atas melainkan dengan taufiq dari All\u00e2h <em>Azza wa Jalla<\/em> dan dengan terus mempelajari ilmu syar\u2019i yang berisikan tuntunan Ras\u00fblull\u00e2h <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em>. <a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn2\" name=\"_ftnref2\">[2]<\/a><\/p>\n<p><u><\/u><strong>T<\/strong><strong>ernyata Setan pun Punya Prioritas<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p>Dari keterangan di atas kita bisa memahami bahwa setan itu punya skala prioritas dalam menjerumuskan bani Adam. Kubangan favorit utama setan adalah kekufuran dan kesyirikan. Atau dengan kata lain <strong>akidah<\/strong>lah yang target pertama yang disasar mereka. Sebab akidah merupakan pondasi fundamental seseorang. Bila rusak, maka dijamin akan rusak pula sisi-sisi lain dalam kehidupannya.<\/p>\n<p>Dari sini kita mengetahui mengapa Ras\u00fblull\u00e2h<em> Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> dan para rasul lainnya memulai dakwah mereka terhadap akidah atau tauhid. Sebab itu merupakan pondasi dasar beragama. Bila kuat, maka bangunan di atasnya pun akan kuat. Sebaliknya bila rapuh, maka niscaya akan lebih rapuh lagi yang di atasnya.<\/p>\n<p>Karena itulah, setan menjadikan akidah seorang Muslim sebagai target utama perusakan. Bila gagal, maka ia akan membidik sisi-sisi lainnya. Seperti amaliah, akhlak atau yang lainnya.<\/p>\n<p><strong>Jurus-jurus Setan<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p>Dalam merusak akidah seorang Muslim, setan akan melancarkan berbagai jurus dan trik licik. Terkadang menggunakan pendekatan kultus tokoh. Di lain kesempatan melalui pintu pelestarian budaya nenek moyang. Tidak jarang pula memakai <strong>alasan \u2018pengobatan\u2019 dan ikhtiar<\/strong>.<\/p>\n<p>Alasan terakhir di atas yang <em>insya All\u00e2h <\/em>akan kita soroti lebih banyak pada kesempatan kali ini<em>.<\/em><\/p>\n<p>Setan tentu merasa senang saat melihat bani Adam tersiksa, karena perasaan dendam yang disimpannya. Sehingga seringkali ia berusaha keras untuk menyakiti manusia dengan berbagai cara. Setelah itu ia datang, bak \u2018dewa penyelamat\u2019 yang akan membantu manusia untuk melepaskannya dari rasa sakit yang dialaminya. Padahal sebenarnya dia punya misi untuk menjerumuskan manusia ke dalam lobang hitam yang jauh lebih dalam.<\/p>\n<p>Bila kemarin yang sakit adalah fisiknya dan efeknya duniawi belaka. Maka setelah \u2018ditolong\u2019 setan, sekarang yang sakit adalah rohaninya dan efeknya akan terasa hingga alam akhirat kelak.<\/p>\n<p>Sering penulis didatangi orang-orang yang mengeluhkan gangguan yang mereka derita. Entah itu yang bersifat supranatural, seperti sihir dan kesurupan. Atau yang berupa penyakit fisik dan medis. Di antara advis pokok yang selalu kami sampaikan, \u201cJangan sekali-kali mengambil jalan pintas dengan mendatangi dukun! Sebab derita yang Anda alami saat ini adalah bersifat fisik. Seperti pusing berkepanjangan, sakit perut yang tak kunjung sembuh dan yang semisal. <strong>Tapi bila Anda sampai meminta pertolongan kepada dukun, maka derita yang akan Anda alami jauh lebih mengerikan<\/strong>. Sebab akan terbawa hingga akhirat kelak.<\/p>\n<p>Orang masuk neraka bukan karena ia penderita kanker atau tumor atau penyakit fisik lainnya. Namun penyebab utama masuk neraka adalah penyakit rohani. Terutamanya akidah yang rusak.\u201d<\/p>\n<p><strong>K<\/strong><strong>roni Setan<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p>Demi melancarkan proyek penyesatan manusia, setan berkolaborasi dengan rekan-rekan seprofesi dari bangsa lain. All\u00e2h <em>Azza wa Jalla<\/em> menjelaskan:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0648\u064e\u0643\u064e\u0630\u064e\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e \u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0644\u0650\u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0646\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064d \u0639\u064e\u062f\u064f\u0648\u0651\u064b\u0627 \u0634\u064e\u064a\u064e\u0627\u0637\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u0646\u0652\u0633\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u062c\u0650\u0646\u0651\u0650 \u064a\u064f\u0648\u062d\u0650\u064a \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064f\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0628\u064e\u0639\u0652\u0636\u064d \u0632\u064f\u062e\u0652\u0631\u064f\u0641\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0648\u0652\u0644\u0650 \u063a\u064f\u0631\u064f\u0648\u0631\u064b\u0627<\/strong><\/p>\n<p><em>Begitulah ketetapan Kami. Setiap nabi, Kami hadapkan dengan <strong>musuh dari golongan manusia dan jin.<\/strong> Mereka <strong>saling membisikkan kepada yang lain <\/strong>perkataan manis yang penuh tipuan. <\/em>[Al-An\u2019\u00e2m\/6: 112]<\/p>\n<p>Dalam <em>Shahih al-Bukh<\/em><em>\u00e2<\/em><em>ri <\/em>disebutkan secara spesifik siapa rekan utama setan tersebut:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u00a0<\/strong><strong>\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e\u062a\u0652 \u0639\u064e\u0627\u0626\u0650\u0634\u064e\u0629\u064f <\/strong><strong>\u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647\u0627<\/strong><strong> : \u0633\u064e\u0623\u064e\u0644\u064e \u0623\u064f\u0646\u064e\u0627\u0633\u064c \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064e<\/strong> <strong>\u00a0<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><strong>\u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e<\/strong><strong> \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0643\u064f\u0647\u0651\u064e\u0627\u0646\u0650 \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0644\u064e\u064a\u0652\u0633\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d!. \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064f\u0648\u0627: \u064a\u064e\u0627 \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u064a\u064f\u062d\u064e\u062f\u0651\u0650\u062b\u064f\u0648\u0646\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u064a\u0652\u0621\u0650 \u064a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0646\u064f \u062d\u064e\u0642\u0651\u064b\u0627\u061f!. \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0641\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064f <\/strong><strong>\u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e<\/strong> <strong>: \u062a\u0650\u0644\u0652\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0643\u064e\u0644\u0650\u0645\u064e\u0629\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0642\u0651\u0650 \u064a\u064e\u062e\u0652\u0637\u064e\u0641\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u062c\u0650\u0646\u0651\u0650\u064a\u0651\u064f \u0641\u064e\u064a\u064f\u0642\u064e\u0631\u0652\u0642\u0650\u0631\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0641\u0650\u064a \u0623\u064f\u0630\u064f\u0646\u0650 \u0648\u064e\u0644\u0650\u064a\u0651\u0650\u0647\u0650 \u0643\u064e\u0642\u064e\u0631\u0652\u0642\u064e\u0631\u064e\u0629\u0650 \u0627\u0644\u062f\u0651\u064e\u062c\u064e\u0627\u062c\u064e\u0629\u0650\u060c \u0641\u064e\u064a\u064e\u062e\u0652\u0644\u0650\u0637\u064f\u0648\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0643\u0652\u062b\u064e\u0631\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0645\u0650\u0627\u0626\u064e\u0629\u0650 \u0643\u064e\u0630\u0652\u0628\u064e\u0629\u064d<\/strong><\/p>\n<p>Aisyah Radhiyallahunahuma bertutur, <em>\u201cSuatu hari ada orang yang bertanya kepada Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam tentang <strong>para dukun.<\/strong>\u201d Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab, \u201cMereka tidak ada apa-apanya!\u201d. Para Shahabat menyambung, \u201cWahai Ras\u00fblull\u00e2h, sungguh mereka terkadang menyampaikan suatu berita dan ternyata benar.\u201d Maka Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjelaskan, \u201cBerita benar itu dicuri oleh jin, lalu dibisikkannya ke telinga rekan dekatnya layaknya kotekan ayam. Lalu diramunya dengan lebih dari seratus kedustaan.\u201d <\/em>[HR. Al-Bukh\u00e2ri, no. 7561]<\/p>\n<p>Jadi, antara setan dan dukun terjadi \u2018simbiosis mutualisme\u2019. Setan merasa memiliki prestise dan perasaan bangga; sebab dukun menyembahnya. Sedangkan dukun kegirangan; karena mendapatkan amunisi bantuan banyak dari setan.<\/p>\n<p>Seringkali para dukun dan tukang sihir bisa melakukan atraksi-atraksi yang mencengangkan. Orang yang beriman tidak mudah termakan; karena ia tahu bahwa sejatinya mereka telah berkolaborasi dengan setan untuk melakukan atraksi tersebut.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn3\" name=\"_ftnref3\">[3]<\/a><\/p>\n<p>Setan tidak mungkin membantu para tukang sihir secara cuma-cuma. Mereka harus melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama, sebagai bentuk kompensasi bantuan tersebut.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn4\" name=\"_ftnref4\">[4]<\/a> Semakin kufur atau syirik perbuatan yang dipersembahkan, maka bantuan yang diberikan setan semakin besar.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn5\" name=\"_ftnref5\">[5]<\/a><\/p>\n<p>Kenyataan ini bukanlah isapan jempol belaka atau fitnah murahan, namun fenomena tersebut diakui oleh para mantan dukun yang telah bertaubat. Mereka bersaksi bahwa untuk menggapai \u2018kesaktian\u2019 yang dimiliki, mereka diharuskan untuk melakukan kesyirikan dan kekufuran. Ada yang mengatakan bahwa mereka dulunya memohon bantuan kepada iblis, ada yang tidak menunaikan shalat lima waktu dan berpuasa Ramadhan, ada yang menempelkan lembaran-lembaran mushaf al-Qur\u2019an di tembok WC dan berbagai tindak kekufuran lainnya.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn6\" name=\"_ftnref6\">[6]<\/a><\/p>\n<p>Adanya kolaborasi para dukun dengan setan telah dijelaskan para Ulama Islam sejak dulu kala. Sebagaimana dipaparkan antara lain oleh Imam Sy\u00e2fi\u2019i<em> rahimahullah<\/em> (w. 204 H)<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn7\" name=\"_ftnref7\">[7]<\/a>, al-Baidhawi<em> rahimahullah<\/em> (w. 685 H)<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn8\" name=\"_ftnref8\">[8]<\/a> dan Ibn Hajar al-\u2018Asqalani <em>rahimahullah<\/em> (w. 852 H)<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn9\" name=\"_ftnref9\">[9]<\/a><\/p>\n<p>Pembahasan di atas bukan hanya membidik para dukun yang notabene beraliran hitam. Yang\u00a0 biasanya ditandai dengan blangkon atau iket di kepala dan pakaian serba hitam. Tidak lupa menyelipkan sebilah keris di pinggang serta menyalakan kemenyan dan dupa di depannya. Namun peringatan di atas juga terarah kepada mereka yang menamakan diri dukun putih. Yang kerap berbusana bak seorang wali, dengan sorban di kepala dan jubah putih, serta tidak lupa bersenjatakan seuntai tasbih yang biji-bijinya terkadang mengalahkan besarnya bola pingpong. Mereka semua sama!<\/p>\n<p>Seyogyanya kaum Muslimin bersikap cerdas dalam menilai sesuatu. Tidak mudah terkecoh dengan tipuan penampilan. Justru dia tetap menjadikan substansi sesuatu sebagai tolok ukur penilaian.<\/p>\n<p><strong>R<\/strong><strong>ambu-rambu Ikhtiar<br \/>\n<\/strong><\/p>\n<p>Di antara potret keindahan ajaran Islam, selain mengajarkan tawakkal, agama kita juga memotivasi umatnya agar berikhtiar, berdaya upaya dan berusaha untuk menggapai keinginan serta cita-citanya.<\/p>\n<p>Guna mendulang rezeki misalnya, Islam memerintahkan umatnya untuk bekerja. Ras\u00fblull\u00e2h <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> bersabda:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0644\u064e\u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u062d\u0652\u062a\u064e\u0632\u0650\u0645\u064e \u0623\u064e\u062d\u064e\u062f\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u062d\u064f\u0632\u0652\u0645\u064e\u0629\u064b \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062d\u064e\u0637\u064e\u0628\u064d\u060c \u0641\u064e\u064a\u064e\u062d\u0652\u0645\u0650\u0644\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0638\u064e\u0647\u0652\u0631\u0650\u0647\u0650\u060c \u0641\u064e\u064a\u064e\u0628\u0650\u064a\u0639\u064e\u0647\u064e\u0627\u061b \u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u064c \u0644\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064e\u0633\u0652\u0623\u064e\u0644\u064e \u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u064b\u0627 \u064a\u064f\u0639\u0652\u0637\u0650\u064a\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u064a\u064e\u0645\u0652\u0646\u064e\u0639\u064f\u0647\u064f<\/strong><\/p>\n<p><em>Seseorang mencari seikat kayu bakar lalu dipanggul di atas pundaknya dan dijual, lebih mulia dibandingankan dia meminta-minta kepada orang lain, diberi atau tidak. <\/em>[HR. Al-Bukh\u00e2ri dan Muslim dari Abu Hurairah <em>Radhiyallahu anhu<\/em> dengan redaksi Muslim]<\/p>\n<p>Orang yang sakit dan menginginkan kesembuhan, diperintahkan oleh Islam untuk berobat. Ras\u00fblull\u00e2h <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> bersabda:<\/p>\n<p><strong>\u062a\u064e\u062f\u064e\u0627\u0648\u064e\u0648\u0652\u0627! \u0641\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0639\u064e\u0632\u0651\u064e \u0648\u064e\u062c\u064e\u0644\u0651\u064e \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0636\u064e\u0639\u0652 \u062f\u064e\u0627\u0621\u064b \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0636\u064e\u0639\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f \u062f\u064e\u0648\u064e\u0627\u0621\u064b\u060c \u063a\u064e\u064a\u0652\u0631\u064e \u062f\u064e\u0627\u0621\u064d \u0648\u064e\u0627\u062d\u0650\u062f\u064d\u061b \u0627\u0644\u0652\u0647\u064e\u0631\u064e\u0645\u064f<\/strong><\/p>\n<p><em>Berobatlah! Sesungguhnya All\u00e2h l tidaklah menurunkan penyakit melainkan menciptakan obatnya. Kecuali satu penyakit, yaitu penyakit tua. <\/em>[HR. Abu Dawud (IV\/125 no. 3855) dari Usamah bin Syarik <em>Radhiyallahu anhu<\/em> dan dinilai <em>hasan sahih <\/em>oleh at-Tirmidzi, hlm. 461, no. 2039]<\/p>\n<p>Namun demikian, dalam hal ikhtiar, Islam tidak membebaskan umatnya berlaku sekehendaknya tanpa aturan. Justru agama kita membuat rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Yang pada hakikatnya bertujuan untuk kemaslahatan insan, dalam perkara duniawi maupun ukhrawi.<\/p>\n<p>Di antara rambu-rambu ikhtiar, yang amat disayangkan masih sering dilanggar, termasuk di negeri kita, larangan Islam untuk memanfaatkan \u2018jasa\u2019 dukun, paranormal, tukang sihir dan yang semisal.<\/p>\n<p>Padahal sejak empat belas abad lalu, panutan kita Ras\u00fblull\u00e2h<em> Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> telah mengingatkan dengan tegas,<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062a\u064e\u0649 \u0639\u064e\u0631\u0651\u064e\u0627\u0641\u064b\u0627 \u0641\u064e\u0633\u064e\u0623\u064e\u0644\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0646\u0652 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d\u061b \u0644\u064e\u0645\u0652 \u062a\u064f\u0642\u0652\u0628\u064e\u0644\u0652 \u0644\u064e\u0647\u064f \u0635\u064e\u0644\u064e\u0627\u0629\u064c \u0623\u064e\u0631\u0652\u0628\u064e\u0639\u0650\u064a\u0646\u064e \u0644\u064e\u064a\u0652\u0644\u064e\u0629\u064b<\/strong><\/p>\n<p><em>Barangsiapa mendatangi peramal, lalu ia bertanya tentang sesuatu padanya; maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam. <\/em>[HR. Muslim (IV\/1751 no. 2230] dari sebagian istri Rasul Shallallahu \u2018alaihi wa sallam <em>.<\/em><\/p>\n<p>Hadits lain memberikan statemen yang lebih keras lagi,<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062a\u064e\u0649 \u0643\u064e\u0627\u0647\u0650\u0646\u064b\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0633\u064e\u0627\u062d\u0650\u0631\u0627\u064b \u0641\u064e\u0635\u064e\u062f\u0651\u064e\u0642\u064e\u0647\u064f \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0642\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f\u061b \u0641\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0643\u064e\u0641\u064e\u0631\u064e \u0628\u0650\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064f\u0646\u0652\u0632\u0650\u0644\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0645\u064f\u062d\u064e\u0645\u0651\u064e\u062f\u064d <\/strong><strong>\u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e<\/strong><\/p>\n<p><em>Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang sihir lalu mempercayai apa yang dikatakannya; maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam . <\/em>[HR. Al-Bazzar (V\/315 no. 1931) dari Ibn Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu dan <em>sanad<\/em>nya dinilai sahih oleh Ibn Katsir]<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn10\" name=\"_ftnref10\">[10]<\/a><\/p>\n<p>Barangkali ada sebagian kalangan yang bertanya-tanya, mengapa Islam begitu \u2018keras\u2019 dalam hal ini? Bukankah para dukun itu hanya ingin berbuat baik kepada sesama, dengan memberdayakan \u2018daya linuwih\u2019 yang dimiliki. Lantas apa salahnya?<\/p>\n<p>Satu hal yang seharusnya selalu diingat setiap insan, manakala Islam melarang suatu perbuatan, pasti perbuatan tersebut memuat kerusakan fatal atau mengakibatkan bahaya besar bagi pelakunya, baik di dunia maupun akhirat. Sekalipun barangkali perbuatan itu mengandung beberapa manfaat. Jika dicermati ulang dengan teliti, ternyata manfaat tadi bila dibandingan dengan keburukan yang ditimbulkannya, jelas tidak ada apa-apanya.<\/p>\n<p><strong>Pengobatan Islami untuk Korban Sihir<\/strong><\/p>\n<p>Disamping mempelajari tata cara pencegahan dari sihir, perlu kiranya kita mempelajari pula cara pengobatan jika seseorang telah terkena sihir. Sebab banyak orang yang keliru dalam hal ini. Mereka memilih jalan pintas dengan mendatangi dukun atau \u2018orang pintar\u2019. Sehingga yang terjadi adalah fenomena \u2018jeruk makan jeruk\u2019!<\/p>\n<p>Padahal Ras\u00fblull\u00e2h<em> Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> manakala ditanya tentang <em>nusyrah <\/em>(pengobatan orang yang terkena sihir), Beliau <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> menjawab:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0647\u064f\u0648\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0639\u064e\u0645\u064e\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u064a\u0652\u0637\u064e\u0627\u0646\u0650<\/strong><\/p>\n<p><em>Itu adalah perbuatan setan. <\/em>[HR. Abu Dawud (IV\/201 no. 3868) dari J\u00e2bir bin Abdullah <em>Radhiyallahu anhu<\/em> dan <em>isnad<\/em>nya dinilai sahih oleh Syaikh al-Alb\u00e2ni <em>rahimahullah<\/em>]<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn11\" name=\"_ftnref11\">[11]<\/a><\/p>\n<p>Yang dikategorikan termasuk perbuatan setan adalah jenis pengobatan sihir orang-orang jahiliyah.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn12\" name=\"_ftnref12\">[12]<\/a> Di antaranya adalah pengobatan sihir dengan sihir serupa. Sebab hal tersebut sama saja melariskan tukang sihir dan membenarkan perilaku mereka yang berkolaborasi dengan setan dalam menjalankan pekerjaannya.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn13\" name=\"_ftnref13\">[13]<\/a><\/p>\n<p>Apalagi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa pengobatan sihir dengan sihir serupa hanya akan mengakibatkan terjadinya silsilah yang tidak ada putusnya. Sebab manakala tukang sihir tersebut kalah, maka pelaku akan mencari tukang sihir lain yang lebih \u2018sakti\u2019. Tatkala korban terdesak ia akan mencari tukang sihir lain yang lebih kuat, begitu seterusnya. Ia berpindah dari satu tukang sihir ke tukang sihir lainnya. Bahkan ada korban yang selama delapan tahun menyambangi lebih dari seratus dukun! Sampai akhirnya <em>alhamdulill<\/em><em>\u00e2<\/em><em>h<\/em> ia mendapat petunjuk untuk menempuh pengobatan islami.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn14\" name=\"_ftnref14\">[14]<\/a><\/p>\n<p>Andaikan sejak awal ia berlindung kepada Dzat Yang Maha Kuat; yakni All\u00e2h <em>Azza wa Jalla<\/em><em>, <\/em>jangankan satu dukun, sejuta dukun yang paling kuatpun tidak akan berdaya!<\/p>\n<p>Berikut sebagian kiat pengobatan sihir yang All\u00e2h<em> Azza wa Jalla<\/em> ajarkan dalam al-Qur\u2019\u00e2n maupun lewat lisan Rasul-Nya <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> dalam sunnah.<\/p>\n<p><strong>1. Ruqyah Syar\u2019iyyah<\/strong><\/p>\n<p>Atau pembacaan ayat-ayat suci al-Qur\u2019\u00e2n dan dzikir-dzikir yang diajarkan Rasul <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/em> All\u00e2h <em>Azza wa Jalla<\/em> berfirman:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0648\u064e\u0646\u064f\u0646\u064e\u0632\u0651\u0650\u0644\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u064f\u0631\u0652\u0622\u0646\u0650 \u0645\u064e\u0627 \u0647\u064f\u0648\u064e \u0634\u0650\u0641\u064e\u0627\u0621\u064c<\/strong><\/p>\n<p><em>K<\/em><em>ami turunkan al-Qur\u2019an sebagai penyembuh. <\/em>[Al-Isr\u00e2\u2019\/17:82]<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn15\" name=\"_ftnref15\">[15]<\/a><\/p>\n<p><strong>Al-Qur\u2019\u00e2n merupakan obat penyakit jasmani maupun rohani<\/strong>.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn16\" name=\"_ftnref16\">[16]<\/a><\/p>\n<p>Adapun dalil dari Sunnah Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> antara lain: kisah ruqyah Jibril <em>alaihis salam<\/em> atas Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> saat Beliau <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> disihir oleh Labid bin al-A\u2019sham. Di mana saat itu Beliau <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> diruqyah dengan dibacakan surat al-Falaq dan an-N\u00e2s. Hadits yang menceritakan kejadian tersebut akan kami sebutkan di akhir makalah ini.<\/p>\n<p><strong>Seluruh ayat al-Qur\u2019an bisa dipakai untuk ruqyah, tidak harus dipilih ayat-ayat tertentu<\/strong>. Dengan memberikan perhatian khusus terhadap surat-surat yang pernah dipakai di zaman Nabi <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> untuk meruqyah atau surat yang dijelaskan secara spesifik berkhasiat mengusir setan. Semisal surat al-F\u00e2tihah, al-Baqarah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-N\u00e2s.<\/p>\n<p>Kemudian ditambahkan dengan bacaan-bacaan yang disebutkan dalam hadits sahih. Semisal:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0651\u064e \u0631\u064e\u0628\u0651\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0645\u064f\u0630\u0652\u0647\u0650\u0628\u064e \u0627\u0644\u0652\u0628\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0627\u0634\u0652\u0641\u0650 \u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e \u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u0627\u0641\u0650\u064a \u0644\u064e\u0627 \u0634\u064e\u0627\u0641\u0650\u064a\u064e \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e \u0634\u0650\u0641\u064e\u0627\u0621\u064b \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064f\u063a\u064e\u0627\u062f\u0650\u0631\u064f \u0633\u064e\u0642\u064e\u0645\u064b\u0627<\/strong><\/p>\n<p><em>All<\/em><em>\u00e2<\/em><em>humma Rabbann\u00e2s mudzhibal ba\u2019s, isyfi Antasy Sy\u00e2f\u00ee l\u00e2 sy\u00e2fiya ill\u00e2 Anta syif\u00e2\u2019an l\u00e2 yugh<\/em><em>\u00e2<\/em><em>diru saqaman (Ya All\u00e2h, Rabb para manusia, Yang menghilangkan penyakit. Sembuhkanlah sesungguhnya Engkau Maha penyembuh. Tidak ada penyembuh selain engkau. Berilah kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit. <\/em>[HR. Al-Bukh\u00e2ri dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu]<\/p>\n<p>Juga:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0628\u0650\u0627\u0633\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0631\u0652\u0642\u0650\u064a\u0643\u064e\u060c \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0621\u064d \u064a\u064f\u0624\u0652\u0630\u0650\u064a\u0643\u064e\u060c \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0634\u064e\u0631\u0651\u0650 \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u064d \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0639\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u062d\u064e\u0627\u0633\u0650\u062f\u064d\u060c \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u064a\u064e\u0634\u0652\u0641\u0650\u064a\u0643\u064e\u060c \u0628\u0650\u0627\u0633\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0623\u064e\u0631\u0652\u0642\u0650\u064a\u0643\u064e<\/strong><\/p>\n<p><em>Bismill\u00e2hi arq\u00eek, min kulli syai\u2019in yu\u2019dz\u00eek, min syarri kulli nafsin au \u2018ainin <u>h<\/u>\u00e2sidin, All<\/em><em>\u00e2<\/em><em>hu yasyf\u00eek, bismill\u00e2hi arq\u00eek <\/em><\/p>\n<p><em>Dengan nama All\u00e2h aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu. Berupa kejahatan setiap jiwa atau mata yang dengki. Semoga All\u00e2h menyembuhkanmu. Dengan nama All\u00e2h aku meruqyahmu.<\/em> [HR. Muslim dari Abu Sa\u2019id al-Khudri Radhiyallahu anhu]<\/p>\n<p>Metode ruqyah yang dibawa Islam tentu berbeda dengan metode ruqyah \u2018gadungan\u2019. Ia memiliki karakteristik yang jelas. Di antaranya yang paling menonjol: <strong>ia bersih dari praktek kesyirikan<\/strong><\/p>\n<p>Hal itu ditunjukkan oleh keumuman ayat-ayat dan hadits-hadits yang melarang syirik. Masih ditambah larangan spesifik memasukkan praktek syirik dalam ruqyah. Sebagaimana termaktub dalam hadits \u2018Auf bin Malik al-Asyja\u2019<em>i Radhiyallahu anhu :<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0627\u0639\u0652\u0631\u0650\u0636\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0651\u064e \u0631\u064f\u0642\u064e\u0627\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0644\u0627\u064e \u0628\u064e\u0623\u0652\u0633\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0631\u0651\u064f\u0642\u064e\u0649 \u0645\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0643\u064f\u0646\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650 \u0634\u0650\u0631\u0652\u0643\u064c<\/strong><\/p>\n<p><em>Ruqyah-ruqyah itu tidak mengapa selama di dalamnya tidak bermuatan syirik.<\/em> [HR. Muslim]<\/p>\n<p>Tidak ada perselisihan pendapat di antara para Ulama mengenai haramnya berobat dengan cara syirik.<\/p>\n<p>Contoh ruqyah <em>syirkiyyah<\/em> adalah ruqyah yang bermuatan permintaan tolong kepada selain All\u00e2h Azza wa Jalla .<\/p>\n<p>Semisal permintaan tolong kepada Nabiyullah Adam Alaihissallam atau Hawa\u2019 agar menyembuhkan penyakit.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn17\" name=\"_ftnref17\">[17]<\/a> Begitu pula permohonan bantuan kepada Ras\u00fblull\u00e2h <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, <\/em>Syaikh Ahmad ar-Rif\u00e2\u2019i,<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn18\" name=\"_ftnref18\">[18]<\/a> Syaikh Abdul Qadir al-Jailani,<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn19\" name=\"_ftnref19\">[19]<\/a> para Malaikat,<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn20\" name=\"_ftnref20\">[20]<\/a> bahkan ada pula yang meminta tolong kepada iblis raja diraja setan. <a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn21\" name=\"_ftnref21\">[21]<\/a><\/p>\n<p><strong>Siapa yang Boleh Merukyah?<\/strong><\/p>\n<p>Ruqyah bukanlah monopoli ustadz ataupun kyai. Siapapun orang yang beriman dan bisa membaca al-Qur\u2019an boleh meruqyah. Namun seyogyanya ia khusyu\u2019 saat meruqyah, berusaha memahami bacaan ruqyah dan mengiringinya dengan keyakinan penuh akan khasiat dan kemujaraban ruqyah tersebut. Baik dalam diri peruqyah maupun yang diruqyah. Tidak cukup jika niatnya hanya coba-coba.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn22\" name=\"_ftnref22\">[22]<\/a><\/p>\n<p>Ras\u00fblull\u00e2h <em>Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> mengingatkan:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0627\u062f\u0652\u0639\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0645\u064f\u0648\u0642\u0650\u0646\u064f\u0648\u0646\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u062c\u064e\u0627\u0628\u064e\u0629\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0639\u0652\u0644\u064e\u0645\u064f\u0648\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064e \u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u062c\u0650\u064a\u0628\u064f \u062f\u064f\u0639\u064e\u0627\u0621\u064b \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0644\u0652\u0628\u064d \u063a\u064e\u0627\u0641\u0650\u0644\u064d \u0644\u064e\u0627\u0647\u064d<\/strong><\/p>\n<p><em>Mohonlah kepada All\u00e2h dalam keadaan kalian yakin dikabulkan. Ketahuilah All\u00e2h tidak mengabulkan permohonan yang muncul dari hati yang lalai. <\/em>[HR. Tirmidzi (hlm. 790 no. 3479) dan dinyatakan <em>hasan <\/em>oleh Syaikh al-Albani]<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn23\" name=\"_ftnref23\">[23]<\/a><\/p>\n<p>Sebagian orang tatkala berobat kepada dokter terkenal dan diberi resep mahal begitu yakin akan sembuh dari penyakitnya. Padahal ilmu kedokteran bersumber dari eksperimen yang yang bisa jadi benar dan bisa jadi pula keliru. Mengapa ia tidak bisa menumbuhkan keyakinan akan khasiat obat al-Qur\u2019\u00e2n, yang mana itu bukanlah hasil eksperimen, namun wahyu dari Rabbul \u2018alamin, yang pasti benarnya?!<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn24\" name=\"_ftnref24\">[24]<\/a><\/p>\n<p>Penulis bukan sedang menghalangi orang untuk berikhtiar melalui jalur medis, namun penulis hanya ingin mengajak kaum Muslimin bersikap proposional dalam keyakinan di atas.<\/p>\n<p><strong>2. Memusnahkan <\/strong><strong>M<\/strong><strong>edia <\/strong><strong>S<\/strong><strong>ihir<\/strong><\/p>\n<p>Di awal ayat keempat surat al-Falaq dijelaskan bahwa dalam rangka mengerjakan sihirnya para tukang sihir memakai media buhul. <em>Nah<\/em>, salah satu cara tuntas pengobatan sihir adalah dengan memusnahkan media sihir, baik itu buhul ataupun yang lainnya.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn25\" name=\"_ftnref25\">[25]<\/a><\/p>\n<p>Dalilnya, antara lain peristiwa disihirnya Nabi<em> Shallallahu \u2018alaihi wa sallam<\/em> dan penguraian media sihirnya oleh Ali bin Abi Th\u00e2lib <em>Radhiyallahu anhu<\/em>. Zaid bin Arqam <em>Radhiyallahu anhu<\/em> mengisahkan kejadian tersebut:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0633<\/strong><strong>\u064e<\/strong><strong>\u062d\u064e\u0631\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064e <\/strong><strong>n<\/strong> <strong>\u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u064c \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u0647\u064f\u0648\u0652\u062f\u0650\u060c \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0641\u064e\u0627\u0634\u0652\u062a\u064e\u0643\u064e\u0649 \u0641\u064e\u0623\u064e\u062a\u064e\u0627\u0647\u064f \u062c\u0650\u0628\u0652\u0631\u0650\u064a\u0652\u0644\u064f \u0641\u064e\u0646\u064e\u0632\u064e\u0644\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0639\u064e\u0648\u0651\u0650\u0630\u064e\u062a\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650\u060c \u0648\u064e\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u0627\u064b \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u0647\u064f\u0648\u0652\u062f\u0650 \u0633\u064e\u062d\u064e\u0631\u064e\u0643\u064e\u060c \u0648\u064e\u0627\u0644\u0633\u0651\u0650\u062d\u0652\u0631\u064f \u0641\u0650\u064a \u0628\u0650\u0626\u0652\u0631\u0650 \u0641\u064f\u0644\u0627\u064e\u0646\u064d\u060c \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0641\u064e\u0623\u064e\u0631\u0652\u0633\u064e\u0644\u064e \u0639\u064e\u0644\u0650\u064a\u0651\u064b\u0627 \u0641\u064e\u062c\u064e\u0627\u0621\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650\u060c \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0641\u064e\u0623\u064e\u0645\u064e\u0631\u064e\u0647\u064f \u0623\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064f\u062d\u064e\u0644\u0651\u064e \u0627\u0644\u0652\u0639\u064f\u0642\u064e\u062f\u060c \u0648\u064e\u062a\u064f\u0642\u0652\u0631\u064e\u0623\u064e \u0622\u064a\u064e\u0629\u060c \u0641\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e \u064a\u064e\u0642\u0652\u0631\u064e\u0623\u064f \u0648\u064e\u064a\u064e\u062d\u064f\u0644\u0651\u064e \u062d\u064e\u062a\u0651\u064e\u0649 \u0642\u064e\u0627\u0645\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0628\u0650\u064a\u0651\u064f <\/strong><strong>\u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e<\/strong> <strong>\u00a0\u0643\u064e\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0646\u0652\u0634\u064e\u0637\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0639\u0650\u0642\u064e\u0627\u0644\u064d\u060c \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0641\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0630\u064e\u0643\u064e\u0631\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 <\/strong><strong>\u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e<\/strong> <strong>\u0644\u0650\u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u0647\u064f\u0648\u0652\u062f\u0650\u064a\u0651\u0650 \u0634\u064e\u064a\u0652\u0626\u0627\u064b \u0645\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u0635\u064e\u0646\u064e\u0639\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650\u060c \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e: \u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u0623\u064e\u0631\u064e\u0627\u0647\u064f \u0641\u0650\u064a \u0648\u064e\u062c\u0652\u0647\u0650\u0647\u0650<\/strong><\/p>\n<p><em>Seorang Yahudi menyihir Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam . Beliau menderita. Jibrilpun mendatanginya dan menurunkan pada Beliau surat al-Falaq dan an-Nas. Malaikat Jibril berkata, \u201cSeorang Yahudi telah menyihirmu. (Buhul) sihirnya ada di sumur si fulan\u201d. Kemudian <strong>Ali diutus untuk mengambilnya dan menguraikan buhul tersebut sambil dibacakan ayat. Ali pun membaca sambil menguraikannya, <\/strong>hingga Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bangkit kembali seperti orang yang baru lepas dari belenggu. Ras\u00fblull\u00e2h Shallallahu \u2018alaihi wa sallam sama sekali tidak mengomentari perbuatan Yahudi tersebut. Hanya saja Beliau berpesan, \u201cAku tidak mau melihat wajahnya\u201d. <\/em>(HR. \u2018Abd bin Humaid (I\/228 no. 271) dan <em>sanad<\/em>nya dinilai sahih oleh Syaikh Sal\u00eem al-Hil\u00e2li dan Syaikh Muhammad Alu Nashr.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn26\" name=\"_ftnref26\">[26]<\/a><\/p>\n<p>Cara menemukan media sihir tersebut adalah dengan pengakuan tukang sihir, atau jin yang merasuk dalam diri korban sihir. Namun perlu waspada dan tidak gampang percaya dengan omongannya; sebab tabiat asli mereka adalah pendusta.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn27\" name=\"_ftnref27\">[27]<\/a><\/p>\n<p>Jika langkah tersebut tidak memungkinkan, maka seyogyanya korban menghiba dan memohon kepada All\u00e2h<em> Azza wa Jalla<\/em> agar ditunjukkan tempat disembunyikannya media sihir tersebut. Jika ia bersungguh-sungguh dalam permohonannya, seringkali petunjuk tersebut datang dalam mimpi, digambarkan dimanakah \u2018persembunyian\u2019 media tersebut.<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftn28\" name=\"_ftnref28\">[28]<\/a><\/p>\n<p>Setelah media tersebut ditemukan, jika berupa buhul, maka buhul tersebut diuraikan satu persatu dengan dibacakan surat al-Falaq dan an-Nas, sebagaimana dalam hadits di atas. Lalu dipendam dalam tanah, sebagaimana dalam hadits berikut:<\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><strong>\u0641\u064e\u0623\u064e\u0645\u064e\u0631\u064e \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u062f\u064f\u0641\u0650\u0646\u064e\u062a\u0652<\/strong><\/p>\n<p><em>lalu Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam memerintahkan agar buhul itu dipendam. <\/em>[HR. Al-Bukh\u00e2ri dan Muslim dari Aisyah <em>Radhiyallahu anhuma<\/em>])<\/p>\n<p><em>Wallahu a\u2019lam bish shawab\u2026<\/em><\/p>\n<p>Semoga bermanfaat!<\/p>\n<p>_______<br \/>\nFootnote<br \/>\n<a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref1\" name=\"_ftn1\">[1]<\/a> Diriwayatkan oleh al-Lalik\u00e2\u2019i dalam <em>Syarh Ush\u00fbl I\u2019tiq\u00e2d Ahl as-Sunnah <\/em>(I\/149 no. 238) dan Ibn al-Jauzi dalam <em>Talb\u00ees Ibl\u00ees <\/em>(I\/110). Dan dinukil pula oleh al-Baghawi dalam <em>Syarh as-Sunnah <\/em>(I\/216), al-Qurthubi dalam <em>Tafsir<\/em>nya (IX\/121) serta as-Suy\u00fbthi dalam <em>al-Amr bi al-Ittib\u00e2\u2019 <\/em>(hlm. 67)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref2\" name=\"_ftn2\">[2]<\/a> <em>Bad\u00e2\u2019i\u2019 al-Faw\u00e2\u2019id <\/em>(II\/799-802).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref3\" name=\"_ftn3\">[3]<\/a> Lihat: <em>Kitab an-Nubuww\u00e2t <\/em>karya Ibn Taimiyyah (II\/830-831)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref4\" name=\"_ftn4\">[4]<\/a> Lihat: <em>Al-Furq\u00e2n baina Auliy\u00e2\u2019 ar-Rahm\u00e2n wa Auliy\u00e2\u2019 asy-Syaith\u00e2n <\/em>karya Ibn Taimiyyah (hlm. 331-332)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref5\" name=\"_ftn5\">[5]<\/a> Lihat: <em>At-Tafs\u00eer al-Qayyim <\/em>(hlm. 581)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref6\" name=\"_ftn6\">[6]<\/a> Lihat: <em>Majalah Ghoib, <\/em>edisi khusus \u201cDukun-dukun Bertaubat\u201d (hlm. 12-14, 17, 19, 20, 22, 43), edisi 32 (hlm. 5), edisi 56 (hlm. 11), edisi 70 (hlm. 8).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref7\" name=\"_ftn7\">[7]<\/a> Lihat: <em>Tafsir al-Qurthubi <\/em>(II\/274).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref8\" name=\"_ftn8\">[8]<\/a> Lihat: <em>Tafsir al-Baidhawi <\/em>(hlm. 21).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref9\" name=\"_ftn9\">[9]<\/a> Lihat: <em>Fath al-Bary <\/em>(X\/222).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref10\" name=\"_ftn10\">[10]<\/a> Lihat: <em>Tafs\u00eer Ibn Kats\u00eer <\/em>(I\/393).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref11\" name=\"_ftn11\">[11]<\/a> Sebagaimana dalam catatan kaki beliau atas <em>Misyk\u00e2t al-Mash\u00e2b\u00eeh <\/em>karya at-Tibrizy (II\/1284 no. 4553)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref12\" name=\"_ftn12\">[12]<\/a> Cermati: <em>Mirq\u00e2h al-Maf\u00e2t\u00eeh <\/em>karya al-Mulla \u2018Ali al-Q\u00e2ry (VIII\/373) dan <em>\u2018Aun al-Ma\u2019b\u00fbd <\/em>karya Syamsul Haq (X\/249)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref13\" name=\"_ftn13\">[13]<\/a> Lihat: <em>Ma\u2019\u00e2rij al-Qab\u00fbl <\/em>karya Syaikh Hafizh Hakami (II\/711)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref14\" name=\"_ftn14\">[14]<\/a> <em>Majalah Ghoib <\/em>edisi 58 (hlm. 9-10)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref15\" name=\"_ftn15\">[15]<\/a> Huruf <em>min <\/em>dalam ayat di atas bukan bermakna <em>tab\u2019\u00eedh <\/em>(sebagian) namun berfungsi untuk menjelaskan jenis. Sebab seluruh ayat al-Qur\u2019an adalah obat bukan hanya sebagiannya saja. Lihat: <em>Ma\u2019\u00e2n\u00ee al-Qur\u2019\u00e2n <\/em>karya an-Nahhas (IV\/187) dan <em>Z\u00e2d al-Mas\u00eer <\/em>karya Ibn al-Jauzi (V\/79)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref16\" name=\"_ftn16\">[16]<\/a> Lihat: <em>Al-Mufhim <\/em>karya Abu al-Abbas al-Qurthuby (V\/581), <em>Z\u00e2d al-Ma\u2019\u00e2d <\/em>karya Ibn al-Qayyim (IV\/352) dan <em>Fath al-Qad\u00eer <\/em>karya asy-Syaukani (I\/1298)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref17\" name=\"_ftn17\">[17]<\/a> \u00a0Lihat: <em>Bid\u2019ah-bid\u2019ah di Indonesia <\/em>karya Badruddin Hasubky (hlm. 104)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref18\" name=\"_ftn18\">[18]<\/a> Lihat: <em>Saripati Mujarrobat <\/em>karya Fairuz Masduqi (hlm. 47-50)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref19\" name=\"_ftn19\">[19]<\/a> Lihat: <em>Majalah Ghoib, <\/em>edisi khusus \u201cDukun-dukun Bertaubat\u201d (hlm. 37)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref20\" name=\"_ftn20\">[20]<\/a> Lihat: <em>Tabloid Posmo, <\/em>edisi 327, tanggal 27 Juli 2005 (hlm. 20). \u2018Praktisi\u2019 ruqyah yang menyandang gelar Kyai yang dijadikan narasumber dalam tabloid tersebut mengklasifikasikan para malaikat dengan sangat aneh. Katanya: malaikat Adam Ahmad penguasa daratan, malaikat Khidir Ahmad penguasa lautan, malaikat Ifrid penguasa api, malaikat Eva Ahmad penguasa angin, malaikat Jibril Ahmad pemimpin kelima malaikat tersebut di atas. Para malaikat tersebut lah yang membantu praktek pengobatannya, menurut klaim dia tentunya!<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref21\" name=\"_ftn21\">[21]<\/a> Lihat: <em>Majalah Misteri, <\/em>edisi 375, tanggal 5-19 Juni 2005 (hlm. 117)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref22\" name=\"_ftn22\">[22]<\/a> Periksa: <em>At-Tamh\u00eed <\/em>karya Ibn Abd al-Barr (XXIII\/29), <em>Azh\u00e2r ar-Riy\u00e2dh <\/em>karya al-Qadhi \u2018Iyadh (II\/350), <em>Fath al-Bary <\/em>karya Ibn Hajar (X\/196), <em>ath-Thibb an-Nabawy <\/em>karya Ibn al-Qayyim (hal. 101) dan <em>al-Fat\u00e2w\u00e2 adz-Dzahabiyyah f\u00ee ar-Ruq\u00e2 asy-Syar\u2019iyyah <\/em>(hal. 21)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref23\" name=\"_ftn23\">[23]<\/a> Sebagaimana dalam <em>as-Silsilah ash-Shah\u00eehah <\/em>(II\/141 no. 596) dan <em>Shah\u00eeh al-J\u00e2mi\u2019 <\/em>(I\/108 no. 245)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref24\" name=\"_ftn24\">[24]<\/a> Cermati: <em>Fath al-B\u00e2ry <\/em>karya Ibn Hajar (X\/170) cet al-Maktabah as-Salafiyyah.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref25\" name=\"_ftn25\">[25]<\/a> Lihat: <em>Z\u00e2d al-Ma\u2019\u00e2d <\/em>(IV\/125) dan <em>ath-Thibb an-Nabawy <\/em>(hlm. 100).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref26\" name=\"_ftn26\">[26]<\/a> \u00a0Lihat: <em>Al-Ist\u00ee\u2019\u00e2b f\u00ee Bay\u00e2n al-Asb\u00e2b <\/em>(III\/589).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref27\" name=\"_ftn27\">[27]<\/a> <em>Ash-Sh\u00e2rim al-Batt\u00e2r f\u00ee at-Tashadd\u00ee li as-Saharati al-Asyr\u00e2r <\/em>karya Wahid Abdussalam Bali (hal. 117).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/5746-antara-ruqyah-dan-akidah.html#_ftnref28\" name=\"_ftn28\">[28]<\/a> <em>Ash-Shaw\u00e2\u2019iq al-Mursalah f\u00ee at-Tashadd\u00ee li al-Musya\u2019widz\u00een wa as-Saharah <\/em>karya Usamah al-Ma\u2019any (hal. 588-589)<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\"><strong>Majalah As-Sunnah<\/strong><\/a> Edisi 11\/Tahun XVIII\/1435H\/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqoma<strong>h<\/strong> Surakarta, Kompleks <a href=\"http:\/\/bukhari.or.id\"><strong>Pondok Pesantren Imam Bukhari<\/strong><\/a> Jl. Solo \u2013 Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079 ]<\/p>\n<p>Kunjungi <a href=\"https:\/\/toko.majalahassunnah.net\/\"><strong>Toko Online Majalah As-Sunnah<\/strong><\/a>, untuk mendapatkan koleksi majalah yang lebih lengkap dengan harga dan penawaran menarik lainnya.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA Sumpah Iblis Alkisah, setelah menciptakan Adam Alaihissallam, All\u00e2h Azza wa Jalla memerintahkan para penghuni<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":617,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[9,4,1],"tags":[68,104,106,105,101,103,108,107],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/615"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=615"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/615\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":619,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/615\/revisions\/619"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/617"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=615"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=615"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=615"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}