{"id":415,"date":"2019-05-13T02:55:50","date_gmt":"2019-05-13T02:55:50","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=415"},"modified":"2019-05-13T02:55:50","modified_gmt":"2019-05-13T02:55:50","slug":"menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah\/","title":{"rendered":"MENYAMBUT RAMADHAN DENGAN PUASA SUNNAH"},"content":{"rendered":"<p>\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a\u0652 \u0647\u064f\u0631\u064e\u064a\u0652\u0631\u064e\u0629\u0650 \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 \u0642\u0627\u064e\u0644\u064e : \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647 \u00a0\u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e :<\/p>\n<p>\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0642\u064e\u062f\u0651\u064e\u0645\u064f\u0648\u0627 \u0631\u064e\u0645\u064e\u0636\u064e\u0627\u0646\u064e \u0628\u0650\u0635\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064d , \u0623\u064e\u0648\u0652 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e\u064a\u0652\u0646\u0650 \u0625\u0644\u0627\u0651\u064e \u0631\u064e\u062c\u064f\u0644\u0627\u064b \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u064a\u064e\u0635\u064f\u0648\u0645\u064f \u0635\u064e\u0648\u0652\u0645\u0627\u064b \u0641\u064e\u0644\u0652\u064a\u064e\u0635\u064f\u0645\u0652\u0647\u064f<\/p>\n<p><em>Dari Abu Hurairah\u00a0Radhiyallahu anhu\u00a0, dia berkata, \u201cRas\u00fblull\u00e2h\u00a0Shallallahu \u2018alaihi wa sallam\u00a0bersabda:<\/em>\u00a0<em>Janganlah kalian dahului Ramadhan dengan berpuasa satu hari atau dua hari, kecuali seseorang yang biasa berpuasa, maka (tidak mengapa) ia berpuasa.<\/em><\/p>\n<p><strong>HADITS INI DIRIWAYATKAN:<\/strong><\/p>\n<p>Imam al-Bukh\u00e2ri, no. 1914; Muslim, no. 1082; Abu Daud, no. 2335; At-Tirmidzi, no. 685; An-Nasa\u2019i 4\/149, 154; Ibnu Majah, no. 1650; Al-Baghawi, no. 1718; Ibnul J\u00e2r\u00fbd 378; Al-Baihaqi, 4\/207; Ahmad 2\/234, 237, 408, 438; Ibnu Hibb\u00e2n, no. 3586, 3592; Abdur Razz\u00e2q, no. 7315; Ibnu Abi Syaibah, 3\/23; Ad-D\u00e2rimi 2\/4.<\/p>\n<p><strong>PENJELASAN HADITS:<\/strong><\/p>\n<p>* Dalam hadits ini terdapat dalil bolehnya mengatakan: Ramadhan tanpa menyebut kata (bulan diawalnya), tanpa ada kemakruhan. Dan inilah yang shahih, baik ketika ada\u00a0<em>qar\u00eenah<\/em>\u00a0(indikator) yang menunjukkannya ataupun tidak ada. Ada pendapat yang mengatakan bahwa itu dimakruhkan, kecuali bila diucapkan bergandengan dengan kata bulan. Ada hadits yang menunjukkan hal itu, akan tetapi hadits tersebut dha\u2019if.<\/p>\n<p>Ada lagi pendapat lain yang mengatakan, bila ada qarinah yang menunjukkan bulan, maka itu tidak dimakruhkan. Kalau tidak ada\u00a0<em>qar\u00eenah<\/em>, maka dimakruhkan.<\/p>\n<p>* Dalam hadits ini terdapat penegasan larangan untuk memulai satu atau dua hari sebelum Ramadhan dengan berpuasa sunnah yang bukan menjadi kebiasaannya. Yaitu ketika itu dilakukan dalam rangka kehati-hatian terhadap masuknya bulan Ramadhan. Konsekuensi dari hal ini adalah boleh berpuasa 3 atau 4 atau 5 hari sebelum masuk Ramadhan. Ini adalah yang menjadi konsekuensi ucapan al-Bandaniji dan Ibnu ash-Shabbagh dari kalangan Ulama Sy\u00e2fi\u2019iyyah.<\/p>\n<p>Mengenai puasa sunnah menjelang Ramadhan, para Ulama syafi\u2019iyah terbagi dalam empat\u00a0 pendapat:<\/p>\n<ol>\n<li>Pendapat yang disebut di atas.<\/li>\n<li>Bila telah menginjak pertengahan bulan Sya\u2019ban , diharamkan berpuasa. Pendapat inilah yang diputuskan oleh para ahli tahqiq dari kalangan Ulama syafi\u2019iyah. Ini berdasarkan pada sabda Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam :<\/li>\n<\/ol>\n<p>\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0627\u0646\u0652\u062a\u064e\u0635\u064e\u0641\u064e \u0634\u064e\u0639\u0652\u0628\u064e\u0627\u0646\u064e \u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0635\u064f\u0648\u0645\u064f\u0648\u0627<\/p>\n<p><em>Bila Sya\u2019ban telah berada di pertengahan, maka janganlah kalian berpuasa!<\/em>.\u201d<a name=\"_ftnref2\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n<p>Hadits ini diriwayatkan para penyusun Kitab Sunan yang empat dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu . Hadits ini dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibb\u00e2n.<\/p>\n<p>Ulama yang berpendapat seperti ini memberikan jawaban terhadap hadits Abu Hurairah yang disebutkan di awal. Yaitu bahwa ucapan sabda Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam : \u201c<em>(jangan kalian dahului) dengan satu hari atau dua hari<\/em>\u201d itu tidak menunjukkan makna pilihan (yaitu memilih dengan tidak mendahului satu hari atau dua hari). Akan tetapi itu hanyalah untuk menjelaskan adanya larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa sebelumnya. Karena biasanya itulah yang \u00a0dilakukan dan yang terjadi pada orang yang bermaksud menyambut bulan Ramadhan. Rentang waktu larangan Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam tersebut adalah sejak pertengahan Sya\u2019ban, seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang terakhir tadi.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Hal itu boleh, tidak dimakruhkan. Ini yang diputuskan oleh al-Mutawalli. Ia berkata mengenai hadits yang dibawakan di atas (yaitu mengenai hadits pertengahan Sya\u2019ban), bahwa hadits tersebut tidaklah valid menurut pandangan para ahli.<a name=\"_ftnref3\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftn3\">[3]<\/a><\/li>\n<li>Dimakruhkan\u00a0<em>kar\u00e2hah tanz\u00eeh<\/em>(dilarang syara\u2019, namun bukan keharusan. Yang melakukannya tidak disiksa karenanya). Ini dipilih ar-Rauy\u00e2ni.<\/li>\n<\/ol>\n<p>* Sebagian Ulama menyebutkan bahwa hikmah larangan mendahului Ramadhan dengan berpuasa adalah untuk menjaga stamina dan kekuatan dalam berpuasa Ramadhan. Namun ini tidak tepat. Karena bila hal itu menyebabkan lemah dalam berpuasa dalam Ramadhan, maka berpuasa selama bulan Sya\u2019ban lebih-lebih membuat lemah (untuk puasa Ramadhan). Padahal telah terjadi\u00a0<em>ijma\u2019<\/em>\u00a0dibolehkannya berpuasa pada bulan Sya\u2019ban keseluruhannya, bahkan hal tersebut sunnah. Para penyusun Kitab Sunan yang empat telah meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa, \u201cTidak pernah Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam berpuasa satu bulan penuh dari suatu tahun kecuali Sya\u2019ban, di mana Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menyambungnya dengan Ramadhan.\u201d<a name=\"_ftnref4\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftn4\">[4]<\/a>\u00a0At-Tirmidzi berkata, \u201c(Hadits ini) hasan.\u201d<\/p>\n<p>Al-M\u00e2ziri membawa pengertian larangan tersebut pada orang yang berpuasa dalam rangka pengagungan dan sambutan terhadap bulan Ramadhan. Artinya itu dilarang, agar suatu ibadah tidak ditambahi sesuatu yang bukan bagian dari ibadah tersebut. Adapun bila berpuasa pada hari\u00a0<em>syakk<\/em>\u00a0(hari yang diragukan antara Sya\u2019ban dan Ramadhan) sebagai puasa sunnah belaka, maka ada perselisihan di dalamnya. Seperti yang akan disebutkan nanti.<\/p>\n<p>* Sebagian Ulama menyebutkan: bahwa zahir hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu di awal pembahasan ini bertentangan dengan ucapan Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam yang bertanya kepada seseorang:<\/p>\n<p>\u0647\u064e\u0644\u0652 \u0635\u064f\u0645\u0652\u062a\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0633\u064f\u0631\u064e\u0631\u0650 \u0634\u064e\u0639\u0652\u0628\u064e\u0627\u0646\u064e \u0634\u064e\u064a\u0652\u0626\u064b\u0627<\/p>\n<p><em>Apakah engkau ada berpuasa sesuatupun pada akhir Sya\u2019ban?<\/em><\/p>\n<p>Ia menjawab, \u201cTidak.\u201d Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda, \u201cBila engkau telah berbuka (yakni usai melaksanakan puasa Ramadhan), maka berpuasalah satu hari.\u201d<a name=\"_ftnref5\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftn5\">[5]<\/a>\u00a0Dalam riwayat lain: \u201cdua hari.\u201d Ini diriwayatkan Al-Bukh\u00e2ri dan Muslim dari hadits Imran bin al-Hushain Radhiyallahu anhu .<\/p>\n<p>Yang dimaksud dengan surar Sya\u2019ban adalah akhirnya. Karena hilal (bulan sabit) akan menyembunyikan diri pada satu atau dua malam terakhir.<\/p>\n<p>Namun dua hadits ini bisa dikompromikan, bahwa orang tersebut telah mewajibkan dirinya untuk berpuasa akhir bulan karena ia telah bernadzar. Maka Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam memerintahkannya untuk memenuhinya. Atau bisa juga karena berpuasa akhir bulan sudah menjadi kebiasaannya, lalu ia tinggalkan dalam rangka menyambut Ramadhan, karena ada larangan mendahuluinya (dengan puasa); dan Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam ingin orang tersebut mengqadha\u2019 nya, karena itu sudah menjadi kebiasaannya.<\/p>\n<p>Sebagian Ulama lain berkata: Bahkan ucapan Nabi,\u00a0<em>\u201cApakah engkau berpuasa pada akhir Sya\u2019ban?\u201d<\/em>\u00a0adalah pertanyaan dalam rangka mengingkari dan melarang. Karena Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam telah melarang mendahului Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya. Sehingga tidak ada kontradiksi antara keduanya.<\/p>\n<p>Kalau yang dimaksudkan dengan\u00a0<em>surar<\/em>\u00a0Sya\u2019ban adalah awal bulan, seperti yang disebutkan sebagian Ulama, bahwa surar asy-syahr adalah awalnya, maka tidak ada kontradiksi diantara dua hadits tersebut.<\/p>\n<p>* \u00a0Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap kaum rafidhah, yang memandang perlunya mendahulukan puasa daripada melihat hilal Ramadhan. Karena Ramadhan adalah nama untuk sebutan untuk (rentang waktu) yang berada di antara dua hilal. Maka bila seseorang berpuasa satu hari sebelumnya, berarti ia telah mendahului Ramadhan (dengan berpuasa).<\/p>\n<p>* \u00a0Di dalam hadits tersebut terdapat penjelasan makna hadits:<\/p>\n<p>\u0635\u064f\u0648\u0645\u064f\u0648\u0627 \u0644\u0650\u0631\u064f\u0624\u0652\u064a\u064e\u062a\u0650\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0641\u0652\u0637\u0650\u0631\u064f\u0648\u0627 \u0644\u0650\u0631\u064f\u0624\u0652\u064a\u064e\u062a\u0650\u0647\u0650<\/p>\n<p><em>Berpuasalah saat kalian melihatnya (hilal) dan berbukalah saat kalian melihatnya<\/em>!<\/p>\n<p>* Di dalam hadits ini tidak terdapat larangan mendahulukan puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan, bagi orang yang punya kebiasaan berpuasa di akhir-akhir bulan di luar Sya\u2019ban. Sama saja, apakah kebiasaannya itu karena nadzar atau murni sebagai puasa sunnah. Hal itu masuk dalam\u00a0 cakupan kemutlakan hadits tersebut. Dan di antara bentuk nadzar adalah kala seseorang berkata, \u201cAku bernadzar kepada All\u00e2h untuk berpuasa pada hari datangnya si fulan.\u201d Lalu kebetulan si fulan datang bertepatan dengan akhir Sya\u2019ban sebelum Ramadhan.<\/p>\n<p>* Termasuk dari yang dilarang adalah berpuasa pada hari\u00a0<em>syakk<\/em>\u00a0(hari yang meragukan), yaitu hari yang mana orang-orang masih memperbincangkan tentang apakah hilal benar-benar sudah terlihat atau belum? \u00a0Atau telah ada orang yang bersaksi bahwa dia telah melihat hilal, namun dia masih anak-anak atau budak atau orang yang fasik.<\/p>\n<p>Para Ulama salaf telah berselisih pendpat tentang orang yang berpuasa sunnah (pada hari itu) dengan tanpa sebab.<\/p>\n<p>Dan yang paling sah menurut Ulama kalangan Syafi\u2019iyah adalah puasa sunnah tersebut terlarang.<\/p>\n<p>Dan dalam madzhab Malikiyah terdapat tiga pendapat:<\/p>\n<p>(Pendapat) yang ketiga dari pendapat-pendapat Malikiyyah adalah bagi orang yang punya kebiasaan menyambung puasa, ia boleh berpuasa pada saat itu, tapi tidak bagi yang lainnya. Dan menurut mereka, boleh berpuasa pada saat itu bagi orang yang telah bernadzar.<\/p>\n<p>Sedangkan Ahmad dan sekelompok Ulama, mereka mewajibkan untuk berpuasa pada saat itu sebagai puasa Ramadhan, dengan syarat saat itu ada mendung (yang menghalangi terlihatnya hilal).<\/p>\n<p><strong>Footnote<\/strong><\/p>\n<p><a name=\"_ftn1\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftnref1\">[1]<\/a>\u00a0Pembahasan ini diringkas oleh redaksi dari kitab\u00a0<em>al-I\u2019lam bi Fawa\u2019id Umdatil Ahk\u00e2m<\/em>, 5\/158-170<\/p>\n<p><a name=\"_ftn2\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftnref2\">[2]<\/a>\u00a0At-Tirmidzi, no. 738; Abu Daud, no. 2337 dalam kitab Shaum Bab Dimakruhkannya Hal Tersebut; Ibnu M\u00e2jah, no. 1651; Ad-Darimi, 2\/17; Ahmad, 2\/442; Ibnu Hibb\u00e2n, 3589; Al-Baihaqi, 4\/209, Abdur Razz\u00e2q 7325<\/p>\n<p><a name=\"_ftn3\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftnref3\">[3]<\/a>\u00a0Sebagian ulama ada yang melemahkan hadits ini, karena \u2018Ala menyendiri dalam meriwayatkannya. Namun sebagian ulama lain, menilainya Shahih, tidak ada yang menodai keshahihannya. Imam Muslim juga mengeluarkan beberapa riwayat hadits dalam Shahihnya dari \u2018Ala, dari ayahnya Abu Hurairah. Syaikh Al-Bani menilainya Shahih dalam Shahih al-Jami\u2019ash-Shaghir wa Ziyadatuh no. 397 (red)<\/p>\n<p><a name=\"_ftn4\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftnref4\">[4]<\/a>\u00a0HR. An-Nasa\u2019i 4\/150, At-Turmudzi 736 dalam Ash-shiy\u00e2m bab mengenai orang yang menyambung Sya\u2019ban dengan Ramadhan, juga Ad-Darimi 2\/17.<\/p>\n<p><a name=\"_ftn5\"><\/a><a href=\"https:\/\/almanhaj.or.id\/7018-menyambut-ramadhan-dengan-puasa-sunnah.html#_ftnref5\">[5]<\/a>\u00a0Teks hadits yang dibawakan di atas, sesuai dengan salah satu riwayat Abu Daud. Dan sebagian riwayat ada tambahan: atau dua hari. Ini diriwayatkan al-Bukh\u00e2ri, no.1983; Muslim, no. 1161; Abu Daud, no. 2231; Al-Baihaqi 4\/210; Ad-Darimi 2\/18; Ibnu Hibb\u00e2n, no. 3587; Ahmad 4\/428, 432, 439<\/p>\n<p>[ Majalah As-Sunnah Edisi 01\/Tahun XX\/1437H\/2016M ].<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u0639\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0628\u0650\u064a\u0652 \u0647\u064f\u0631\u064e\u064a\u0652\u0631\u064e\u0629\u0650 \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 \u0642\u0627\u064e\u0644\u064e : \u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f \u0627\u0644\u0644\u0647 \u00a0\u0635\u064e\u0644\u0651\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0651\u064e\u0645\u064e : \u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0642\u064e\u062f\u0651\u064e\u0645\u064f\u0648\u0627 \u0631\u064e\u0645\u064e\u0636\u064e\u0627\u0646\u064e \u0628\u0650\u0635\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":416,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[7],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=415"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":417,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/415\/revisions\/417"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/416"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=415"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=415"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=415"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}