{"id":404,"date":"2019-04-29T07:26:35","date_gmt":"2019-04-29T07:26:35","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=404"},"modified":"2019-04-29T07:26:35","modified_gmt":"2019-04-29T07:26:35","slug":"pentingnya-kejujuran-demi-tegaknya-dunia-dan-agama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/pentingnya-kejujuran-demi-tegaknya-dunia-dan-agama\/","title":{"rendered":"PENTINGNYA KEJUJURAN DEMI TEGAKNYA DUNIA DAN AGAMA"},"content":{"rendered":"<p>Oleh Syaikh Rabi Bin Hadi Al Madkhali<\/p>\n<p>(Diterjemahkan dari Majalah Al Ashalah dengan sedikit perubahan, Edisi 28\/Tahun ke 5, 15 Jumadil Akhirah 1420 H, Halaman 51-62)<\/p>\n<p>Sifat jujur merupakan faktor terbesar tegaknya agama dan dunia. Kehidupan dunia tidak akan baik, dan agama juga tidak bisa tegak di atas kebohongan, khianat serta perbuatan curang.<\/p>\n<p>Jujur dan mempercayai kejujuran, merupakan ikatan yang kuat antara para rasul dan orang-orang yang beriman dengan mereka. Allah berfirman.<\/p>\n<h3>\u0648\u064e\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a \u062c\u064e\u0622\u0621\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0635\u0651\u0650\u062f\u0652\u0642\u0650 \u0648\u064e\u0635\u064e\u062f\u0651\u064e\u0642\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0623\u064f\u0648\u0652\u0644\u064e\u0626\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062a\u0651\u064e\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645 \u0645\u0651\u064e\u0627\u064a\u064e\u0634\u064e\u0622\u0621\u064f\u0648\u0646\u064e \u0639\u0650\u0646\u062f\u064e \u0631\u064e\u0628\u0651\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u062c\u064e\u0632\u064e\u0622\u0621\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062d\u0652\u0633\u0650\u0646\u0650\u064a\u0646\u064e<\/h3>\n<p>\u201cDan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik\u201d. [Az zumar:33-34].<!--more--><\/p>\n<p>Karena (tingginya) kedudukan perbuatan jujur di sisi Allah, juga dalam pandangan Islam serta dalam pandangan orang-orang beradab dan juga karena akibat-akibatnya yang baik, serta bahaya perbuatan bohong dan mendustakan kebenaran; saya ingin membawakan naskah ini. Saya ambil dari Al Qur\u2019an, Sunnah Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, sejarah beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, sejarah dan kenyataan hidup orang-orang jujur dari kalangan shahabat Rasulullah. Dan hanya kepada Allah, saya memohon agar menolong dan memberikan taufiq kepada saya dalam menyampaikan nasihat dan penjelasan kepada kaum muslimin semampu saya. Dan saya memohon kepada Allah, agar Ia menjadikan kita orang-orang jujur yang bertekad memegang teguh kejujuran, serta menjadikan kita termasuk orang orang yang cinta kebenaran, mengikutinya serta mengimaninya. Karena keagungan nilai dan kedudukan perbuatan jujur di sisi Allah dan di sisi kaum muslimin, Allah menyifatkan diriNya dengan kejujuran (benar-pent). Allah berfirman.<\/p>\n<h3>\u0642\u064f\u0644\u0652 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0641\u064e\u0627\u062a\u0651\u064e\u0628\u0650\u0639\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0644\u0651\u064e\u0629\u064e \u0625\u0650\u0628\u0652\u0631\u064e\u0627\u0647\u0650\u064a\u0645\u064e \u062d\u064e\u0646\u0650\u064a\u0641\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627\u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0634\u0652\u0631\u0650\u0643\u0650\u064a\u0646\u064e<\/h3>\n<p>\u201cKatakanlah:\u201dBenarlah (apa yang difirmankan) Allah.\u201d Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik\u201d. [Ali Imran :95]<\/p>\n<p>Ini adalah pujian dari Allah untuk diriNya dengan sifat agung ini. Allah jujur (benar-pent) dalam semua beritaNya, syari\u2019ahNya, dalam kisah-kisahNya tentang para nabi dan umat-umat mereka. Allah berfirman.<\/p>\n<h3>\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0635\u0652\u062f\u064e\u0642\u064f \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u062d\u064e\u062f\u0650\u064a\u062b\u064b\u0627<\/h3>\n<p>\u201cDan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah\u201d. [An Nisa:89].<\/p>\n<h3>\u0648\u064e\u0639\u0652\u062f\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u062d\u064e\u0642\u0651\u064b\u0627 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0635\u0652\u062f\u064e\u0642\u064f \u0645\u0651\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0642\u0650\u064a\u0644\u0627\u064b<\/h3>\n<p>\u201cAllah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah\u201d. [An Nisa :122].<\/p>\n<h3>\u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u062c\u064e\u0632\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0628\u064e\u063a\u0652\u064a\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0644\u064e\u0635\u064e\u0627\u062f\u0650\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e<\/h3>\n<p>\u201cDemikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar\u201d. [Al An\u2019am:146].<\/p>\n<p>Demikianlah Allah menyifatkan diriNya dengan sifat agung ini. Dia jujur dalam ucapan, perbuatan, janji, ancaman dan jujur dalam pemberitaan tentang kehidupan para nabi dan para wali-waliNya serta Allah jujur dalam pemberitaan tentang musuh-musuhNya yang kafir.<\/p>\n<p>Allah juga menyifatkan para nabiNya dengan sifat jujur. Lalu Dia mendukung para nabi itu dengan mukjizat dan tanda-tanda agung sebagai bukti kejujuran (kebenaran) mereka, dan untuk menghancurkan kebohongan para musuh Allah.<\/p>\n<p>Diantara bentuk dukungan terbesar Allah kepada para nabi, ialah pemusnahan musuh-musuh Allah dengan topan, angin ribut, petir, gempa bumi, ada yang di tenggelamkan ke tanah dan air. Sementara para nabi dan pengikut mereka diselamatkan. Semua ini merupakan bukti dari Allah atas kejujuran para nabiNya, bahwa mereka benar utusanNya dan (sebagai) penghinaan kepada musuh Allah dan musuh para rasul.<\/p>\n<p>Diantara para nabi yang disifati dengan sifat jujur dalam Al Qur\u2019an, yaitu: Ibrahim, Ismail dan Idris. [1] Allah menyifatkan mereka dengan sifat jujur. Ini menunjukkan kokohnya sifat itu pada diri mereka. Dan bahwasanya perkataan, perbuatan, janji serta perjanjian-perjanjian mereka, semuanya tegak di atas kejujuran.<\/p>\n<p>Semua ayat dalam Al Qur\u2019an, yang dengannya Allah menantang manusia dan jin untuk membuat yang serupa dengannya -namun mereka tidak bisa- merupakan bukti terbesar atas kejujuran Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, bahwa dia benar-benar Rasulullah dan penutup para nabi. Dan persaksian Allah bahwa Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam penutup para nabi, juga merupakan bukti besar atas kejujurannya Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, karena tidak ada seorangpun yang mengaku menjadi nabi setelah beliau, kecuali pasti Allah Azza wa Jalla membuka kedoknya dan menyingkapkan aib serta kebohongannya. Bahkan tidak ada seorangpun yang berdusta atas nama beliau dengan membawakan sebuah perkataan yang disandarkan kepada nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, melainkan pasti Allah membuka kedoknya dengan penjelasan para pengikut risalahnya yang jujur, yaitu para ahli hadits dan yang lainnya.<\/p>\n<p>Allah berfirman, dalam memujinya Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan kebenaran serta kejujuran yang beliau bawa.<\/p>\n<h3>\u0628\u064e\u0644\u0652 \u062c\u064e\u0622\u0621\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0642\u0651\u0650 \u0648\u064e\u0635\u064e\u062f\u0651\u064e\u0642\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0631\u0652\u0633\u064e\u0644\u0650\u064a\u0646\u064e<\/h3>\n<p>\u201cSebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa kebenaran dan membenarkan raul-rasul (sebelumnya)\u201d. [As Shaffat:37].<\/p>\n<p>Kedudukan yang tinggi ini, Allah Azza wa Jalla berikan kepada hamba sekaligus rasulNya ; Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/p>\n<p>Allah Azza wa Jalla juga menerangkan sifat hamba-hambaNya yang beriman, yang jujur dalam keimanan, perbuatan, perjuangan dan perjanjian-perjanjian mereka.<\/p>\n<h3>\u0623\u064f\u0648\u0652\u0644\u064e\u0626\u0650\u0643\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064f\u0648\u0627 \u0648\u064e\u0623\u064f\u0648\u0652\u0644\u064e\u0626\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u062a\u0651\u064e\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e<\/h3>\n<p>\u201cMereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa\u201d. [Al Baqarah:177].<\/p>\n<h3>\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u064f\u0648\u0646\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0621\u064e\u0627\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0650\u0647\u0650 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0644\u064e\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0631\u0652\u062a\u064e\u0627\u0628\u064f\u0648\u0627 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0627\u0647\u064e\u062f\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0623\u064e\u0645\u0652\u0648\u064e\u0627\u0644\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u0641\u064f\u0633\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0633\u064e\u0628\u0650\u064a\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0623\u064f\u0648\u0652\u0644\u0627\u064e\u0626\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u062f\u0650\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e<\/h3>\n<p>\u201cSesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar\u201d. [Al Hujurat:15].<\/p>\n<p>Allah juga berfirman memuji Muhajirin yang faqir dan semua sahabat beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam. (Mereka) merupakan orang-orang jujur ; Anshar ataupun Muhajirin.<\/p>\n<h3>\u0644\u0650\u0644\u0652\u0641\u064f\u0642\u064e\u0631\u064e\u0622\u0621\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0647\u064e\u0627\u062c\u0650\u0631\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0623\u064f\u062e\u0652\u0631\u0650\u062c\u064f\u0648\u0627 \u0645\u0650\u0646 \u062f\u0650\u064a\u064e\u0627\u0631\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0623\u064e\u0645\u0652\u0648\u064e\u0627\u0644\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u064a\u064e\u0628\u0652\u062a\u064e\u063a\u064f\u0648\u0646\u064e \u0641\u064e\u0636\u0652\u0644\u0627\u064b \u0645\u0651\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0631\u0650\u0636\u0652\u0648\u064e\u0627\u0646\u064b\u0627 \u0648\u064e\u064a\u064e\u0646\u0635\u064f\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064e \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u064e\u0647\u064f \u0623\u064f\u0648\u0652\u0644\u064e\u0626\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u062f\u0650\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e<\/h3>\n<p>\u201cBagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya.Mereka itulah orang-orang yang benar\u201d. [Al Hasr : 8].<\/p>\n<p>Dan sungguh semua sahabat Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam telah mendapat pengakuan dan pujian dari Allah dalam Al Qur\u2019an. Mereka juga dipuji oleh Rasulullah n dalam banyak hadits.<\/p>\n<p>Diantara sifat mereka yang paling nampak dan jelas ialah kejujuran. Agama tidak akan bisa tegak, begitu juga dunia tidak akan baik, kecuali dengan sifat ini. Para shahabat yang jujur ini serta para pewaris mereka telah menyampaikan Kitab Allah dan Sunnah RasulNya kepada kita dengan penuh kejujuran serta amanah.<\/p>\n<p>Para ulama juga menukilkan buat kita sejarah kehidupan para sahabat Radhiyallahu anhum, perlombaan mereka dalam kebaikan dan kebaikan mereka (lainnya) yang mengungguli semua umat. Jadilah mereka umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.<\/p>\n<p>Kita sudah faham pujian Allah kepada mereka secara umum dengan sifat-sifat terpuji. Diantaranya adalah kejujuran. Dan makalah saya ini, tidak akan cukup untuk menyebutkan semua hadits shahih tentang fakta-fakta kejujuran mereka. Namun saya akan menyebutkan kisah tiga orang shahabat sebagai contoh. Kisah mereka terkumpul dalam satu kejadian. Dan sahabat yang paling menonjol diantara tiga orang tersebut adalah Ka\u2019ab Bin Malik Radhiyallahu \u2018anhu ; seorang sahabat yang diselamatkan dari neraka, kemunafikan, murka Allah dan murka RasulNya berkat kejujurannya. Kisah sahabat ini sudah sangat terkenal. Haditsnya juga masyhur dan panjang. Karena keterbatasan tempat, saya akan memilih dan menyampaikan potongan-potongan hadits ini, yang menunjukkan kedudukan sahabat ini beserta temannya dalam peristiwa ini, supaya kaum muslimin bisa mengambil pelajaran dan contoh dari para sahabat yang jujur ini. Kisahnya sebagai berikut.<\/p>\n<p>Pertama. Dari Abdullah bin Ka\u2019ab, beliau berkata: Saya mendengar Ka\u2019ab Bin Malik menceritakan kisahnya ketika tidak ikut serta dalam perang Tabuk. Ka\u2019ab berkata,\u201dSebenarnya saya tidak pernah tertinggal dari Rasulullah dalam satu peperanganpun, kecuali perang Tabuk. Hanya saja, saya pernah tidak ikut perang Badr, namun pada saat itu Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam tidak mencela siapapun yang tidak ikut. Karena Rasulullah keluar hanya untuk meghadang kafilah (kelompok dagang) Quraisy, lalu Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala mempertemukan mereka dengan musuhnya tanpa terduga. Dan sungguh saya telah ikut menyaksikan Bai\u2019atul \u2018Aqabah bersama Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam ketika kami berbai\u2019at untuk Islam, dan saya tidak suka malam \u2019Aqabah itu disamakan dengan perang Badr, walaupun perang ini lebih sering diingat oleh manusia. Dan pengalamanku ketika tidak ikut Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dalam perang Tabuk, bahwasanya saya belum pernah merasa lebih kuat dan lebih mampu dibandingkan keadaan saya sewaktu tidak ikut perang ini. Demi Allah, saya tidak pernah menyediakan dua kendaraan untuk berperang, kecuali menjelang perang Tabuk ini. Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam akan berperang dalam musim yang sangat panas dan akan menempuh perjalanan yang sangat jauh, serta akan menghadapi musuh yang sangat besar. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam memberikan perintahnya kepada kaum muslimin agar mengadakan persiapan perang. Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjelaskan kepada pengikutnya jalur perjalanan mereka. Dan kaum muslimin yang ikut Rasulullah dalam perang ini banyak sekali, sehingga tidak mungkin diingat oleh seorang penghafalpun,\u201d Ka\u2019ab mengatakan,\u201dSebagian orang yang ingin tidak ikut dalam perang ini menyangka tidak akan ketahuan, kecuali ada wahyu.\u201d<\/p>\n<p>Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam melaksanakan perang ini pada musim buah, sementara saya lebih cenderung kepada buah-buahan itu. Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersama kaum muslimin telah mengadakan persiapan dan saya ingin pulang untuk persiapan. Kemudian saya pulang, tetapi saya tidak melakukan apa-apa. Saya berkata dalam hati, \u201cSaya mampu untuk melakukan itu, jika saya mau.\u201d Keadaan seperti itu terus berlarut sampai Rasulullah dan kaum muslimin sudah siap untuk berangkat. Keesokan harinya, Rasulullah dan kaum muslimin berangkat. Sementara saya belum siap sama sekali. Kemudian saya pulang, tetapi saya tidak juga mempersiapkan diri. Keadaan itu berlarut terus sehingga berangkatlah semua pasukan. Saya ingin berangkat menyusul mereka, seandainya saya mau berbuat, namun akhirnya saya tidak mampu berbuat apa-apa. Setelah Rasulullah berangkat perang, saya sangat sedih dan kalau keluar rumah, saya tidak mendapatkan seorang yang bisa saya jadikan panutan, kecuali orang-orang munafik atau orang-orang lemah yang mendapatkan keringanan dari Allah\u2019.<\/p>\n<p>Dalam potongan kisah ini, terdapat isyarat kedudukan Baia\u2019tul \u2018Aqabah dalam diri Ka\u2019ab Bin Malik Radhiyallahu \u2018anhu. Karena bai\u2019ah ini (artinya) banyak berfungsi sebagai pondasi yang sangat kokoh, yang mendasari hijrahnya para sahabat ke Madinah. Mendasari pertolongan dari kaum Anshar. Yang mendasari tegaknya Daulah Islamiyah. Juga mendasari jihad dan kekuatan Islam dan muslimin.<\/p>\n<p>Bertolak dari bai\u2019ah ini, peperangan terus meletus, penghancuran orang yang murtad serta pengiriman bala tentara ke beberapa penjujur alam untuk membuka mata hati dengan cahaya Islam dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya Islam. Berdasarkan hal-hal ini, Ka\u2019ab bin Malik menyadari, betapa besar makna Bai\u2019atul Aqabah ini, yang tidak bisa digantikan.<\/p>\n<p>Ka\u2019ab bin Malik menceritakan sebab absennya pada perang Tabuk dengan benar, dengan bahasa gamblang penuh kejujuran, keluar dari hati penuh iman. Berbeda dengan para munafiq pengecut; mereka mencari-cari alasan dusta yang kemudian disingkap Allah dalam waktu singkat. Allah menyiksa dan menempatkan mereka di neraka. (Perhatikan beberapa point berikut ini, pent.).<\/p>\n<ol>\n<li>Dia (Ka\u2019ab bin Malik) menjelaskan dengan gamblang, ketidak ikutannya bukan karena kemiskinan atau karena fisik. Sebelum perang Tabuk, ia pernah ikut beberapa peperangan, padahal kondisinya tidak sebaik ketika perang Tabuk. Dia katakan,\u201cBahwasanya saya belum pernah merasa lebih kuat dan lebih mampu dibandingkan keadaan saya sewaktu tidak ikut perang ini. Demi Allah, saya tidak pernah menyediakan dua kendaraan untuk berperang, kecuali menjelang perang Tabuk ini.\u201d<\/li>\n<li>Dia juga menyebutkan beberapa sebab yang mempengaruhi tekadnya untuk jihad, yaitu kondisi yang sangat panas, jarak perjalanan yang jauh terbentang antara Madinah dan Tabuk, serta jumlah pasukan Romawi dan orang Arab yang bersekutu dengan Romawi.<\/li>\n<li>Ka\u2019ab juga menjelaskan faktor yang mungkin paling penting dari faktor absennya, yaitu baiknya musim buah. Kemudian beliau menjelaskan sesuatu yang sangat mungkin disembunyikan, namun jiwanya yang jujur menolak kebohongan itu dan menjelaskan,\u2018saya cenderung kepada buah-buahan itu\u2019, maksudnya hawa nafsunya lebih cenderung kepada buah-buahan. Ini merupakan tingkat kejujuran yang sangat jarang dicapai orang.<\/li>\n<li>Dia menyebutkan pertarungan jiwanya, antara keinginan menyusul Rasulullah dan para mujahidin dengan keinginan untuk duduk-duduk di bawah naungan rerimbunan dan buah yang baik.<\/li>\n<li>Akhirnya, ia menceritakan penyesalannya dan perasaan tersiksa yang menimpanya akibat tidak ikut perang. Karena ia tidak menemukan satu panutan pun dalam hal ini, kecuali orang-orang munafiq dan beberapa orang yang mendapatkan keringanan dari Allah. Ini merupakan bukti hatinya yang tanggap dan imannya yang jujur.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kedua : Kemudian Ka\u2019ab bin Malik bercerita: Setelah ada berita, bahwa Rasulullah akan datang dari Tabuk, maka datanglah kesedihan saya dan hampir saja aku berdusta. Lalu saya berkata dalam hati,\u201dApa yang bisa menghindarkan saya dari murkanya Shallallahu \u2018alaihi wa sallam besok?\u201d Saya sudah minta tolong kepada keluargaku yang cerdas untuk mencarikan alasan. Setelah ada yang mengatakan, Rasulullah hampir sampai, hilanglah niatku untuk berbohong dan saya yakin, bahwa saya tidak akan bisa selamat dari murka beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam selama-lamanya. Maka saya bertekad untuk berkata sejujurnya.<\/p>\n<p>Pagi harinya Rasulullah datang. Seperti biasanya, jika baru pulang dari safar, beliau datang ke masjid dan shalat dua raka\u2019at, kemudian duduk untuk (keperluan) umatnya. Pada saat itu, orang-orang yang tidak ikut perang datang menyampaikan alasan dan mereka bersumpah. Jumlahnya sekitar 80. Rasulullah n menerima alasan mereka, membai\u2019at mereka dan memohonkan ampun buat mereka, serta menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah k .<br \/>\nSewaktu saya menghadap beliau dan mengucap salam, beliau tersenyum sinis seraya berkata,\u201dKemarilah!\u201d Saya mendekat dan duduk di hadapannya. Beliau bersabda kepada saya,\u201dApa yang menyebabkanmu tidak ikut? Bukankah engkau telah berbai\u2019at?\u201d Saya menjawab,\u201dWahai Rasulullah, demi Allah, seandainya saya duduk di hadapan penduduk dunia selain engkau, niscaya saya akan mengemukakan alasan untuk menghindarkan diri dari kemurkaannya, karena saya bisa berdebat. Tetapi demi Allah, saya tahu, seandainya saya berdusta yang membuat tuan ridha dan menerima alasan saya, namun nanti Allah akan memurkai saya lewat tuan. Dan jika saya bercerita sejujurnya, niscaya tuan akan merasa iba pada diri saya. Sungguh saya hanya mengharapkan ampunan dari Allah. Demi Allah, sesungguhnya saya tidak mempunyai alasan. Demi Allah, saya tidak pernah merasa lebih kuat dan mudah (sebelumnya) dibandingkan ketika saya tidak ikut perang bersama Rasulullah.\u201d Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda,\u201dOrang ini sudah berkata jujur. Pergilah (menunggu) sampai Allah memberikan keputusan tentangmu.\u201d Sayapun berdiri dan pergi.<\/p>\n<p>Dalam potongan hadits di atas, Ka\u2019ab menyebutkan posisinya yang baru, ketika Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan para mujahidin pulang membawa kemuliaan, kemenangan dan pahala. Manfaat apakah yang diperoleh Ka\u2019ab dari ketertinggalannya itu, meskipun penyebab tidak ikutnya adalah (karena) musim buah-buahan? Dan siapakah figur selain orang-orang munafiq dan kaum muslimin yang lemah? Hati Ka\u2019ab Bin Malik meradang karena rasa menyesal.<\/p>\n<p>Pada saat yang sama, syetan berbicara dan membisikkan kata-kata bohong. Akan tetapi, berkat karunia Allah dan pemeliharaanNya, (maka) niat bohong dan kebathilan telah lenyap dari hatinya, karena kelurusan iman dan keikhlasannya. Lalu Allah membimbingnya ke arah faktor keselamatan terbesar setelah iman, yaitu kejujuran -terutama ketika (menghadapi) bahaya dan kejadian-kejadian yang menakutkan.<\/p>\n<p>Dan perkataan Ka\u2019ab Bin Malik Radhiyallahu \u2018anhu : Setelah ada yang mengatakan, Rasulullah hampir sampai, hilanglah niatku untuk berbohong dan saya yakin, bahwa saya tidak akan bisa selamat dari murka beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam selama-lamanya. Maka saya bertekad untuk berkata sejujurnya. Pagi harinya Rasulullah datang. Seperti biasanya, jika baru pulang dari safar, beliau datang ke masjid dan shalat dua raka\u2019at.<\/p>\n<p>Ka\u2019ab menyebutkan satu perubatan sunnah yang hampir terlupakan, atau sudah terlupakan oleh banyak kaum muslimin, yaitu shalat dua raka\u2019at di masjid, ketika baru datang dari perjalanan jauh.<\/p>\n<p>Ka\u2019ab juga menceritakan sikap orang-orang munafiq, mereka berdusta dan berpura-pura, lalu menguatkan dusta mereka itu dengan sumpah, sehingga tidak ada alasan bagi Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, kecuali menerima alasan dan menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah Azza wa Jalla Yang Mengetahui perkara ghaib, Dia Maha Tahu pengkhianatan mata dan juga Tahu yang terbetik dalam hati. Sedangkan Ka\u2019ab, dengan ilmunya, dia mengetahui bahwa dusta kepada Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam tidak akan bisa menyelamatkannya dari murka Allah dan RasulNya, walaupun didukung dengan sumpah. Dia mengetahui itu semua berkat taufiq dari Allah. Lalu dia menjelaskan penyebab ketidak ikutannya dengan benar.<\/p>\n<p>Ketiga : Ka\u2019ab berkata: Genap sudah limapuluh malam masa pengucilan saya. Pagi harinya saya melakukan shalat shubuh di tingkat atas rumahku. Ketika saya duduk dalam keadaan yang telah diceritakan Allah, dada saya terasa sempit, dunia terasa sempit padahal luas, tiba-tiba saya mendengar orang berteriak di atas ketinggian,\u201dWahai Ka\u2019ab Bin Malik, bergembiralah!\u201d Saya segera bersujud (bersyukur). Saya tahu, pasti telah datang masa bahagia.<\/p>\n<p>Ka\u2019ab berkata,\u201cSetelah shalat subuh, Rasulullah memberitahukan kepada jama\u2019ah, bahwa Allah telah menerima taubat kami. Lalu para sahabat menyampaikan berita gembira itu kepada kami. Ada yang pergi kepada kedua temanku, ada yang bergegas ke saya dengan mengendarai kuda. Ada juga yang dari Aslam datang kepadaku, dia menaiki gunung (lalu berteriak), suaranya jauh lebih cepat dibandingkan kuda.<\/p>\n<p>Ketika orang yang saya dengar suaranya itu sampai kepadaku, baju yang saya kenakan saya lepas dan saya pakaikan padanya, sebagai balasan kabar gembira ini. Demi Allah, saya tidak punya pakaian yang lain saat itu. Saya meminjam dua potong pakaian, lalu berangkat menemui Rasulullah. Para sahabat berkelompok-kelompok menemuiku, seraya berucap,\u201dSelamat atas diterimanya taubatmu oleh Allah,\u201d sampai saya masuk masjid. Disana Rasulullah sedang duduk bersama para sahabat. Thalhah Bin Ubaidillah bangkit, menyalamiku dan mengucapkan selamat. Demi Allah, tidak ada seorang Muhajirin pun yang berdiri selain Thalhah.<\/p>\n<p>Abdullah bin Ka\u2019ab berkata,\u201dKa\u2019ab Bin Malik tidak pernah melupakan sambutan Thalhah.\u201d<\/p>\n<p>Ka\u2019ab Bin Malik berkata: Ketika saya mengucapkan salam kepada Rasulullah, dengan wajah ceria tanda bahagia, Rasul bersabda.<\/p>\n<p>\u0623\u064e\u0628\u0652\u0634\u0650\u0631\u0652 \u0628\u0650\u062e\u064e\u064a\u0652\u0631\u0650 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064d \u0645\u064e\u0631\u0651\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0643\u064e \u0645\u064f\u0646\u0652\u0630\u064f \u0648\u064e\u0644\u064e\u062f\u064e\u062a\u0652\u0643\u064e \u0623\u064f\u0645\u0651\u064f\u0643\u064e<\/p>\n<p>\u201cAku sampaikan kabar gembira kepadamu dengan hari yang paling baik sejak kamu dilahirkan ibumu.\u201d<\/p>\n<p>Akupun bertanya,\u201dApakah ini dari engkau, ataukah dari Allah?\u201d Beliau menjawab,\u201dBukan dariku, tetapi dari Allah.\u201d Dan Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam jika bahagia, wajahnya Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersinar bagaikan belahan bulan.<\/p>\n<p>Ka\u2019ab bin Malik bercerita: Kami tahu tanda kebahagian beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam itu. Setelah duduk di hadapan beliau, saya mengatakan,\u201dWahai Rasulullah, diantara bentuk taubatku adalah melepaskan kekayaanku sebagai shadaqah kepada Allah dan RasulNya!\u201d Beliau menjawab,\u201d(Jangan), tahanlah sebagian hartamu! Itu lebih baik buatmu.\u201d Ka\u2019ab bekata,\u201dSaya katakan,\u2019Saya menahan hartaku yang di Khaibar.\u2019<\/p>\n<p>Ka\u2019ab mengakui secara jujur penyebab ketidak ikutannya dalam perang Tabuk. Begitu juga yang dilakukan dua sahabatnya: Murarah Bin Rabi\u2019 dan Hilal Bin Umayyah. Lalu Rasulullah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk memutuskan komunikasi dengan mereka dan mengisolir mereka. Para sahabat melaksanakan perintah itu, meskipun diantara mereka termasuk keluarga dekat. Ini semua mereka lakukan dalam rangka mentaati Allah dan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Pemutusan komunikasi terus berlanjut, sementara wahyu dari Allah belum juga turun. Ujian dan masa-masa sulit itu berlangsung selama limapuluh hari.<\/p>\n<p>Berita pemboikotan ini tersebar sampai ke telinga penguasa Nasrani Ghasan. Dia menyangka, ini merupakan kesempatan untuk memalingkan Ka\u2019ab dan mengajaknya bergabung bersama mereka, untuk memuliakan Ka\u2019ab \u2013menurut mereka. Namun keimanannya kepada Allah serta RasulNya, (dia) menolak tawaran syaitani ini. Dan Ka\u2019ab juga menyadari, bahwa ini juga sebentuk ujian.<\/p>\n<p>Sebagaimana diceritakan Ka\u2019ab, bahwa masa sulit ini berakhir pada hari ke limapuluh dengan diterimanya taubat mereka oleh Allah. Sementara kondisi mereka \u2013sebagaimana cerita Ka\u2019ab- sebagaimana Allah sebutkan dalam Al Qur\u2019an, jiwa terasa sesak dan bumi terasa sempit padahal luas.<\/p>\n<p>Para sahabat Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam sangat bahagia dengan karunia yang Allah berikan kepada kawan-kawan mereka, yaitu berupa penerimaan taubat, diridhai Allah dan RasulNya. (Mendengar ini), para sahabat berlomba-lomba memberikan ucapan selamat. Ada diantara mereka yang pergi dengan jalan kaki, sehingga ia terlambat, lalu naik ke gundukan barang dan berteriak sehingga suaranya mendahului sahabat yang pergi ke Ka\u2019ab dengan menunggang kuda. (Ketika) Ka\u2019ab pergi menghadap Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, di tengah perjalanan para sahabat memberikan ucapan selamat kepadanya. Kemudian dia menjumpai Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Wajah beliau bersinar penuh bahagia. Beliau bersabda,\u201dAku menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan hari yang paling baik sejak kamu dilahirkan ibumu.\u201d Bagaimana tidak?! Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala telah menyelamatkannya dari kebinasaan, berkat kejujurannya. Sungguh, ini merupakan hari yang lebih baik dari hari bai\u2019atnya ketika masuk Islam, yang merupakan peristiwa yang lebih dicintainya daripada ikut perang Badr. Karena sangat bahagia dengan taubat dan nikmat dari Allah ini kepadanya, ia mengatakan, \u201cWahai Rasulullah, diantara bentuk taubatku adalah kulepaskan kekayaanku sebagai shadaqah kepada Allah dan RasulNya.\u201d Harta ini yang menyebabkannya tidak ikut dalam jihad. (Demikian) ini merupakan bukti lain dari kejujuran taubat dan kesungguh-sungguhannya.<\/p>\n<p>Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab,\u201dTahanlah sebagian hartamu\u201d Lalu, apa yang diperbuat Ka\u2019ab? Dia melepaskan semua hartanya yang di Madinah dan menyisakan yang di Khaibar, yang mungkin tidak menjadi penyebab absennya dalam jihad.<\/p>\n<p>Keempat : Kemudian Ka\u2019ab memberitahukan faktor utama keselamatannya yaitu,\u201dWahai Rasulullah, sesungguhnya saya diselamatkan Allah berkat kejujuran, dan sungguh diantara bentuk taubatku adalah tidak akan berbicara pada sisa umurku, kecuali berbicara dengan jujur.\u201d<\/p>\n<p>Lalu ia melanjutkan ceritanya: Demi Allah, sejak saya bercerita jujur kepada Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam sampai sekarang ini, saya tidak pernah mengetahui seorang muslimin pun yang diuji Allah dengan ujian yang lebih baik daripada ujian Allah kepadaku. Demi Allah, sejak saat itu, saya tidak pernah sengaja berbuat dusta sampai sekarang ini. Dan sungguh saya berharap, agar Allah menjaga saya pada usia yang masih tersisa. Kemudian Allah berfirman (yang artinya): Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. [At Taubah:118-119].<\/p>\n<p>Ka\u2019ab berkata: Demi Allah, Allah tidak memberikan nikmat yang lebih agung kepada saya setelah Islam, selain nikmat kejujuran saya kepada Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, sehingga saya tidak berbuat dusta yang menyebabkan saya celaka sebagai para pendusta itu. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman kepada para pendusta dengan firman yang sangat jelek. Allah berfirman (artinya): Kelak mereka bersumpah kepadamu dengan nama Allah, apabila kamu kembali kepada meraka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah kepada mereka; karena sesungguhnya mereka itu adalah najis dan tempat mereka Jahannam; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. Mereka akan bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu ridha terhadap mereka, maka sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang fasik itu. [At Taubah:95-96]<\/p>\n<p>Demikian ini balasan bagi para pendusta, meskipun dusta mereka itu hanya sekedar mencari muka dan alasan. Akan tetapi istighfar Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam sama sekali tidak berguna untuk mereka, baik ketika mereka masih hidup ataupun ketika mereka sudah meninggal. Allah berfirman.<\/p>\n<p>\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652 \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0623\u064e\u0648\u0652\u0644\u0627\u064e\u062a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652 \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0646 \u062a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u0652 \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0633\u064e\u0628\u0652\u0639\u0650\u064a\u0646\u064e \u0645\u064e\u0631\u0651\u064e\u0629\u064b \u0641\u064e\u0644\u064e\u0646 \u064a\u064e\u063a\u0652\u0641\u0650\u0631\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0628\u0650\u0623\u064e\u0646\u0651\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0643\u064e\u0641\u064e\u0631\u064f\u0648\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0650\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0644\u0627\u064e\u064a\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a \u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0648\u0652\u0645\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0627\u0633\u0650\u0642\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p>\n<p>\u201cKamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun kepada mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuhpuluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik\u201d. [At Taubah:80].<\/p>\n<p>Dalam kisah ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang tidak membersihkan jiwa mereka dengan tauhid, iman, berlaku jujur dan amal shalih. Dan terkadang ada diantara para pendusta ini berkeyakinan, bahwa perbuatan bohong dan perbuatan menipu yang mengakibatkan Rasul Shallallahu \u2018alaihi wa sallam memaafkan mereka dan memohonkan ampun buat mereka, ini semua akan menyelamatkan mereka dari adzab Allah dan penghinaan Allah di dunia dan akhirat. (Bahkan sebaliknya, pent.) Allah hancurkan angan-angan mereka itu dan Allah menyiksa mereka di dunia dan akhirat. Dan istighfar Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam untuk mereka, sama sekali tidak bermanfaat.<\/p>\n<p>Kenyataan ini dijelaskan Allah dalam surat At Taubah dan lain-lainya. Kemudian dipertegas dengan sabda Rasulullah kepada kaum Quraisy dan anggota keluarga beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, \u201dBelilah (bebaskanlah) diri kalian dari (adzab) Allah, saya tidak akan bisa memberikan manfaat sedikitpun buat kalian dari sisi Allah.\u201d<\/p>\n<p>Maka waspadalah orang-orang yang dusta \u2013kapanpun dan di manapun- dalam iman, keyakinan, perkataan dan persaksian-persaksian mereka! Kedustaan ini telah menyeret kepada kebinasaan, (sebagaimana) yang menimpa para pendusta terdahulu.<\/p>\n<p>Disini juga terdapat kabar gembira bagi orang-orang yang jujur dalam iman, Islam, perbuatan, ucapan dan persaksian mereka, dengan terhindar dari kebinasaan; sebagaimana Ka\u2019ab dan kedua sahabatnya Radhiyallahu \u2018anhum. Mereka selamat berkat kejujuran, pada saat kondisi menuntut orang yang lemah iman dan berjiwa lemah untuk berbuat dusta. Allah berfirman.<\/p>\n<h3>\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u064f \u064a\u064e\u0646\u0641\u064e\u0639\u064f \u0627\u0644\u0635\u0651\u064e\u0627\u062f\u0650\u0642\u0650\u064a\u0646\u064e \u0635\u0650\u062f\u0652\u0642\u064f\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u062c\u064e\u0646\u0651\u064e\u0627\u062a\u064f\u064f \u062a\u064e\u062c\u0652\u0631\u0650\u064a \u0645\u0650\u0646\u0652 \u062a\u064e\u062d\u0652\u062a\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0652\u0644\u0623\u064e\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627\u0631\u064f \u062e\u064e\u0627\u0644\u0650\u062f\u0650\u064a\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a\u0647\u064e\u0622 \u0623\u064e\u0628\u064e\u062f\u064b\u0627 \u0631\u0651\u064e\u0636\u0650\u064a\u064e \u0627\u0644\u0644\u0647\u064f \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0631\u064e\u0636\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f \u0630\u064e\u0644\u0650\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0648\u0652\u0632\u064f \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0638\u0650\u064a\u0645\u064f<\/h3>\n<p>\u201cAllah berfirman:\u201dIni adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar\u201d. [Al Maidah:119].<\/p>\n<p>BUAH KEJUJURAN : KEBERUNTUNGAN<br \/>\nDalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim, dari Thalhah bin Ubaidillah, ia mengatakan: Ada seorang lelaki dari Najd datang kepada Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dalam keadaan rambut acak-acakan. Kami mendengar gema suaranya, tetapi kami tidak faham, sampai ia mendekat kepada Rasulullah. Ternyata ia bertanya tentang Islam, maka Rasulullah bersabda,\u201d(Islam itu) shalat lima kali sehari-semalam.\u201d Orang itu bertanya,\u201dApakah ada kewajiban (shalat) lainnya atas saya?\u201d Rasulullah menjawab,\u201dTidak ada, kecuali engkau mau melaksanakan yang sunnah.\u201d Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda,\u201dDan puasa Ramadhan.\u201d Dia bertanya,\u201dApakah ada kewajiban (puasa) lainnya atas saya?\u201d Rasulullah menjawab,\u201dTidak ada, kecuali engkau mau melaksanakan yang sunnah.\u201d<\/p>\n<p>Thalhah mengatakan: Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menyebutkan zakat, orang itu bertanya,\u201dApakah ada kewajiban (zakat) lainnya atas saya?\u201d Rasulullah menjawab,\u201dTidak ada, kecuali engkau mau melaksanakan yang sunnah.\u201d<\/p>\n<p>Thalhah mengatakan: Kemudian orang itu pulang sambil berkata,\u201dDemi Allah, saya tidak akan menambah dan juga tidak akan menguranginya.\u201d Rasulullah bersabda.<\/p>\n<p>\u0623\u064e\u0641\u0652\u0644\u064e\u062d\u064e \u0625\u0650\u0646\u0652 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e<\/p>\n<p>\u201cDia beruntung, jika ia jujur\u201d<\/p>\n<p>Dalam kitab Shahih Muslim terdapat hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu \u2018anhu, ia berkata: Sesungguhnya kami dilarang bertanya kepada Rasulullah tentang sesuatu. Dan kami sangat heran pada kedatangan seorang laki-laki badui menghadap Rasulullah, seraya bertanya,\u201dWahai Rasulullah, seorang utusanmu telah mendatangi kami dan mengatakan, bahwa engkau mengaku diutus Allah.\u201d Rasulullah bersabda,\u201dDia benar.\u201d Orang itu bertanya,\u201dSiapakah yang menciptakan langit?\u201d Rasulullah n menjawab,\u201dAllah.\u201d Orang itu bertanya (lagi),\u201dSiapakah yang menciptakan bumi?\u201d Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab,\u201dAllah.\u201d Orang itu bertanya (lagi),\u201cSiapakah yang menancap gunung dan menciptakan semua yang ada di sana?\u201d Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab,\u201dAllah.\u201d Lelaki tadi mengatakan,\u201dDemi Dzat yang menciptakan langit, bumi dan yang menancapkan gunung, apakah Allah (yang benar-benar) mengutusmu?\u201d Rasul menjawab,\u201dYa.\u201d Lelaki itu berkata,\u201dUtusanmu juga mengaku, bahwa wajib atas kami untuk shalat lima kali sehari-semalam.\u201d Rasulullah menjawab,\u201dDia benar.\u201d Orang itu bertanya lagi,\u201dDemi Dzat Yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?\u201d Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab,\u201dYa.\u201d Lelaki itu berkata,\u201dUtusanmu juga mengaku, bahwa wajib atas kami zakat dari harta kami.\u201d Rasulullah menjawab,\u201dDia benar.\u201d Orang itu bertanya lagi,\u201dDemi Dzat Yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?\u201d Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab,\u201dYa.\u201d Lelaki itu berkata,\u201dUtusanmu juga mengaku, bahwa wajib atas kami untuk puasa bulan Ramadhan dalam setahun.\u201d Rasulullah menjawab,\u201dDia benar.\u201d Orang itu bertanya lagi,\u201dDemi Dzat Yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?\u201d Beliau n menjawab,\u201dYa.\u201d Lelaki itu berkata,\u201dUtusanmu juga mengaku, bahwa wajib atas kami untuk haji bagi siapa saja yang mampu.\u201d Rasulullah menjawab,\u201dDia benar.\u201d Orang itu bertanya lagi,\u201dDemi Dzat Yang mengutusmu, apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?\u201d Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab,\u201dYa.\u201d<\/p>\n<p>Anas Radhiyallahu \u2018anhu berkata: Kemudian orang itu pergi dan berkata,\u201dDemi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak akan menambah dan tidak menguranginya.\u201d Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda.<\/p>\n<h3>\u0644\u064e\u0626\u0650\u0646\u0652 \u0635\u064e\u062f\u064e\u0642\u064e \u0644\u064e\u064a\u064e\u062f\u0652\u062e\u064f\u0644\u064e\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0652\u062c\u064e\u0646\u0651\u064e\u0629\u064e<\/h3>\n<p>Jika ia jujur, pasti dia akan masuk syurga.<\/p>\n<p>Kedua penanya dalam hadits di atas adalah orang cerdas. Keduanya telah diberi Allah kecerdasan, kecerdikan dan pertanyaan yang baik, terutama penanya yang kedua. Ada yang mengatakan, ia adalah Dhamam Bin Tsa\u2019labah Al Hudzali. Orang pertama bertanya tentang syariat Islam. Maka Rasulullah menjawab dengan hal-hal yang diwajibkan atas seorang hamba, berupa rukun agama ini setelah syahadatain. Karena sang penanya zhahirnya seorang muslim, maka Rasul Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjelaskan, bahwa Islam itu adalah kewajiban-kewajiban (yang telah disebutkan) ini.<\/p>\n<p>Sang penanya pertama ini, juga mengakui hal serta konsisten melaksanakannya. Karenanya, ia ingin tahu, adakah kewajiban lain disamping rukun-rukun yang telah disebutkan ini? Dan Rasul menjawab, tidak ada, kecuali perbuatan sunnah.<\/p>\n<p>Ketika Rasulullah telah membedakan antara yang wajib dengan yang sunnah, sang penanya tadi bersumpah, bahwa ia tidak akan menambah dan juga tidak akan mengurangi. (Mendengar sumpah ini), Rasulullah menjawab untuk memberikan kabar gembira berupa pahala yangbesar bagi si penanya dan umat Islam yang melaksanakan kewajiban-kewajiban ini dengan benar, dia beruntung, jika ia jujur. Maksudnya, perbuatannya sejalan dengan perkataannya. Inilah sebuah kejujuran. Jadi keberuntungan terwujud dari kejujurannya dalam berbuat dan berkata. Dan penanya pertama ini sudah diberi kejujuran oleh Allah.<\/p>\n<p>Sedangkan penanya kedua, pertanyaannya lebih dalam dan luas dibandingkan dengan pertanyaan orang pertama. Penyusun kitab At Tahrir, yaitu Muhammad Bin Ismail Al Asfahani mengatakan,\u201cIni menunjukkan baiknya pertanyaan orang ini, keindahan kalimat dan urutannya. Dia pertama kali menanyakan tentang kejujuran utusan yang ditugaskan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam untuk mengajak mereka masuk Islam; \u201cApakah ia jujur, bahwa engkau utusan Allah?\u201d Rasul Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab,\u201dDia benar.\u201d Kemudian orang itu bertanya tentang pencipta langit dan bumi dan siapakah yang menancapkan gunung-gunung, karena orang ini seperti halnya orang Arab lainnya yang beriman kepada tauhid rububiyah.<\/p>\n<p>Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab setiap pertanyaan dengan kalimat Allah.<\/p>\n<p>Kemudian, orang itu memastikan kebenaran syari\u2019at-syari\u2019at Islam yang disampaikan oleh utusan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, seperti: shalat, zakat dan puasa. Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menjawab, dia benar.<\/p>\n<p>Ketika Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam sudah selesai menjawab pertanyaan-pertanyaannya, orang itu berkata,\u201dDemi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, saya tidak akan menambah dan tidak menguranginya.\u201d Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda,\u201dJika ia jujur, pasti dia akan masuk syurga.\u201d<\/p>\n<p>Alangkah besarnya buah kejujuran ini ; jujur dalam i\u2019tiqad, jujur dalam berbicara dan dalam beramal.<\/p>\n<p>Ini adalah sebagian manfaat kejujuran. Kejujuran akan membimbing si pelaku kepada bir (perbuatan taat) di dunia yang merupakan induk perbuatan baik, dan juga akan mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah Azza wa Jalla. Jadi orang-orang yang jujur akan kekal di surga. Mereka mendapatkan kesenangan yang sangat diidamkan, yang melebihi kedudukan ini, yaitu keridhaan Allah.<\/p>\n<p>Perbuatan jujur membimbing si pelaku kepada perbuatan bir, kemudian ke syurga. Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda.<\/p>\n<h3>\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0635\u0651\u0650\u062f\u0652\u0642\u064e \u064a\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u0628\u0650\u0631\u0651\u0650 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0652\u0628\u0650\u0631\u0651\u064e \u064a\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a \u0625\u0650\u0644\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0652\u062c\u064e\u0646\u0651\u064e\u0629\u0650<\/h3>\n<p>\u201cSesungguhnya kejujuran itu akan membimbing ke perbuatan bir, dan perbuatan bir akan membimbing masuk surga\u201d.<\/p>\n<p>Di antara manfaat kejujuran, ialah mendapatkan ridha Allah, kemudian akan dimasukkan ke dalam surga. Allah berfirman, yang artinya: \u201d Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadapnya. Itulah keberuntungan yang paling besar\u201d. [Al Maidah:119].<\/p>\n<p>Berbahagialah orang-orang yang jujur. Semoga Allah dengan karunia dan rahmatNya, menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Dermawan dan Maha Pemurah.<\/p>\n<h3>\u0648\u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u0649 \u0646\u0628\u064a\u0646\u0627 \u0645\u062d\u0645\u062f \u0648 \u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0648 \u0635\u062d\u0628\u0647 \u0648 \u0633\u0644\u0645<\/h3>\n<p>________<br \/>\nFootnote<br \/>\n[1]. Lihat firman Allah dalam QS Maryam ayat 41, 54 dan 57<\/p>\n<p>Majalah As-Sunnah Edisi 05\/Tahun VII\/1423H\/2002M.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Syaikh Rabi Bin Hadi Al Madkhali (Diterjemahkan dari Majalah Al Ashalah dengan sedikit perubahan, Edisi 28\/Tahun ke 5, 15<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":406,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=404"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/404\/revisions\/405"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/406"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=404"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=404"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=404"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}