{"id":392,"date":"2019-03-11T03:18:15","date_gmt":"2019-03-11T03:18:15","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=392"},"modified":"2020-08-17T07:53:40","modified_gmt":"2020-08-17T07:53:40","slug":"manhaj-abdur-rahman-bin-muljam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/manhaj-abdur-rahman-bin-muljam\/","title":{"rendered":"Manhaj ABDUR-RAHMAN BIN MULJAM"},"content":{"rendered":"<p>ABDUR-RAHMAN BIN MULJAM,<\/p>\n<p>POTRET BURAM SEORANG KORBAN PEMIKIRAN KHAWARIJ<\/p>\n<p>Oleh Muhammad \u2018Ashim bin Musthafa<\/p>\n<p>Kebenaran pemahaman dan itikad yang baik merupakan tonggak penting dalam mengaplikasikan ajaran Islam secara benar. Dua perkara ini harus seiring-sejalan. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, maka tabiat orang-orang Yahudi -yang tidak mempunya itikad baik di hadapan hukum Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala -, dan penganut Nash\u00e2ra -yang berjalan tanpa petunjuk ilmu- akan berkembang di tengah umat. Akibatnya timbullah kerusakan.<\/p>\n<p>Contoh perihal bahaya dari pemahaman yang tidak lurus ini, dapat dilihat pada diri \u2018Abdur- Rahmaan bin Muljam. Sosok ini telah teracuni pemikiran Khawaarij. Yaitu satu golongan yang kali pertama keluar dari jama\u2019atul-muslim\u00een. Sejarah mencatat kejahatan kaum Khawaarij ini telah melakukan pembunuhan terhadap Am\u00eerul-Mu`min\u00een \u2018Ali bin Abi Th\u00e2lib, yang juga kemenakan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/p>\n<p>SIAPAKAH \u2018ABDUR-RAHM\u00c2N BIN MULJAM?<\/p>\n<p>Merupakan kekeliruan jika ada yang menganggap \u2018Abdur-Rahm\u00e2n bin Muljam dahulu seorang yang jahat. Sebelumnya, \u2018Abdur-Rahm\u00e2n bin Muljam ini dikenal sebagai ahli ibadah, gemar berpuasa saat siang hari dan menjalankan shalat malam. Namun, pemahamannya tentang agama kurang menguasai.<\/p>\n<p>Meski demikian, ia mendapat gelar al-Muqri`. Dia mengajarkan Al-Qur`\u00e2n kepada orang lain. Tentang kemampuannya ini, Khalifah \u2018Umar bin al Khaththab sendiri mengakuinya. Dia pun pernah dikirim Khaliifah \u2018Umar ke Mesir untuk memberi pengajaran Al-Qur`\u00e2n di sana, untuk memenuhi permintaan Gubernur Mesir, \u2018Amr bin al-\u2018Aash, karena mereka sedang membutuhkan seorang q\u00e2ri.<\/p>\n<p>Dalam surat balasannya, \u2018Umar menulis: \u201cAku telah mengirim kepadamu seorang yang sh\u00e2lih, \u2018Abdur-Rahm\u00e2n bin Muljam. Aku merelakan ia bagimu. Jika telah sampai, muliakanlah ia, dan buatkan sebuah rumah untuknya sebagai tempat mengajarkan Al-Qur`\u00e2n kepada masyarakat\u201d.<\/p>\n<p>Sekian lama ia menjalankan tugasnya sebagai muqri`, sampai akhirnya benih-benih pemikiran Khaw\u00e2rij mulai berkembang di Mesir, dan berhasil menyentuh \u2018\u00e2thifah (perasaan)nya, hingga kemudian memperdayainya.[1]<\/p>\n<p>MERENCANAKAN PEMBUNUHAN TERHADAP \u2018ALI BIN ABI TH\u00c2LIB [2]<\/p>\n<p>Inilah salah satu keanehan \u2018Abdur-Rahm\u00e2n yang sudah terjangkiti pemikiran Khaw\u00e2rij. Tiga orang penganut paham Khaw\u00e2rij \u2013 \u2018Abdur-Rahm\u00e2n bin Muljam al-Himyari, al-Burak bin \u2018Abdillah at-Tam\u00eemi dan \u2018Amr bin Bakr at-Tam\u00eemi \u2013 mereka berkumpul bersama, sambil mengingat-ingat tentang \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu yang telah menghabisi kawan-kawan mereka di perang Nahraw\u00e2n. Mereka pun berdoa memohon rahmat kebaikan bagi orang-orang yang telah menemui ajalnya itu.<\/p>\n<p>Peristiwa peperangan Nahraw\u00e2n sangat membekaskan luka mendalam pada hati mereka. Salah seorang dari mereka berkata: \u201cApa lagi yang akan kita perbuat setelah kepergian mereka? Mereka tidak takut terhadap apapun di jalan Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala. Sebaiknya kita mengorbankan jiwa dan mendatangi orang-orang yang sesat itu [3]. Kita bunuh mereka, sehingga negeri ini terbebas dari mereka, dan kita pun telah melunasi balas dendam?\u201d<\/p>\n<p>Akhirnya, mereka merencanakan balas dendam dengan merancang pembunuhan terhadap tiga orang yang mereka anggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Pembunuhan ini mereka anggap sebagai tangga untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala. Mereka sepakat melakukan pembunuhan terhadap tiga orang itu, yaitu \u2018Ali bin Abi Th\u00e2lib, Mu\u2019awiyyah dan \u2018Amr bin al \u2018\u00c2sh Radhiyallahu \u2018anhum, dan mereka berani mempertaruhkan nyawa untuk mewujudkan rencana keji itu.<\/p>\n<p>Rencana \u2018Abdur- Rahm\u00e2n bin Muljam untuk membunuh \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu kian menguat setelah didorong oleh seorang perempuan.<\/p>\n<p>Dikisahkan, adalah Fith\u00e2m nama wanita itu. Kecantikannya yang masyhur di tengah kaum muslimin telah berhasil merebut hati \u2018Abdur-Rahm\u00e2n bin Muljam. Hingga ia melupakan misi jahatnya di Kufah, yaitu membunuh Amirul-Mu`minin \u2018Ali bin Abi Th\u00e2lib Radhiyallahu \u2018anhu. Namun tak terduga, hasratnya memperistri wanita yang terkenal cantik itu, justru memicu niatnya yang sempat terlupakan.<\/p>\n<p>Pasalnya, selain permintaan mas kawin yang berupa kekayaan duniawi, wanita ini juga memasukkan pembunuhan terhadap \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu sebagai syarat, jika Ibnu Muljam ingin memperistrinya. Syarat pinangan yang aneh ini yang kemudian mengingatkan Ibnu Muljam dengan niat jahat itu, dan ia bertambah semangatnya untuk segera mewujudkan niat buruknya. Katanya,\u201dYa, ia adalah bagianku. Demi Allah, tidaklah aku datang ke tempat ini kecuali dengan niat untuk membunuh \u2018Ali\u201d. Syarat ini terpenuhi dan pernikahan pun dilaksanakan. Semenjak itu, sang wanita ini selalu membakar semangat suaminya untuk merealisasikan niatnya. Bahkan ia memberi bantuan kepada Ibnu Muljam seorang lelaki yang bernama Ward\u00e2n untuk mewujudkan rencana jahat itu.<\/p>\n<p>Setelah itu, Ibnu Muljam pun mengajak seseorang yang Syabiib bin Najdah al Asyja\u2019i. Katanya,\u201dMaukah engkau memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat?\u201d<\/p>\n<p>Tetapi, begitu mendengar yang dimaksud ialah membunuh \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu, maka Syab\u00eeb menampiknya. Karena ia mengetahui, \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu memiliki jasa yang sangat besar bagi Islam dan kaum muslimin, dan ia memiliki kedekatan dalam hal kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<br \/>\n.<br \/>\nMelihat penolakan ini, Ibnu Muljam tak kalah cerdik. Dengan agresifitasnya, ia membakar emosi Syab\u00eeb dengan menyebut kematian orang-orang Khawarij di tangan \u2018Ali. Yang akhirnya, ia berhasil menjinakkan hati Syab\u00eeb. Padahal Khalifah \u2018Ali bin Th\u00e2lib -pada masa itu- ialah orang yang paling tekun beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, paling zuhud terhadap dunia, paling berilmu dan paling bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla.<\/p>\n<p>Mereka bertiga kemudian bergerak melancarkan niatnya pada malam 17 Ramadhan 41 H . Hari yang sudah diputuskan oleh Ibnu Muljam, al-Burk dan \u2018Amr bin Bakr untuk menyudahi nyawa tiga orang sahabat Rasulullah, yaitu \u2018Ali, Mu\u2019awiyyah, dan Amr bin al-\u2018\u00c2sh Radhiyallahu \u2018anhum.<\/p>\n<p>Begitu waktu subuh tiba, sebagaimana biasa Amirul-Mu`minin \u2018Ali bin Th\u00e2lib keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat Subuh dan membangunkan manusia. Saat itulah pedang Khawarij yang beracun menciderai \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu. Ketika Ibnu Muljam menyabetkan pedangnya pada bagian pelipis \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu, ia berseru: \u201cTidak ada hukum kecuali hukum Allah, bukan milikmu atau orang-orangmu (wahai \u2018Ali),\u201d lantas ia membaca ayat :<\/p>\n<p>\u201cDan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya\u201d. [al Baqarah\/2:207].[4]<\/p>\n<p>Mendapat serangan ini, Amirul-Mu`minin berteriak meminta tolong. Dan akhirnya Ibnu Muljam berhasil ditangkap hidup-hidup. Adapun Ward\u00e2n, ia langsung terbunuh. Sedangkan Syab\u00eeb berhasil meloloskan diri.<\/p>\n<p>AKHIR KEHIDUPAN \u2018ABDUR-RAHMAAN BIN MULJAM<\/p>\n<p>Ketika Amirul-Mu`minin \u2018Ali bin Th\u00e2lib Radhiyallahu \u2018anhu dipastikan meninggal karena serangan Ibnu Muljam, maka diputuskanlah hukuman mati bagi Ibnu Muljam. Hukuman ini diawali dengan memotong kedua kaki dan tangannya dan menusuk dua matanya, kemudian dilanjutkan dengan membakar jasadnya.<\/p>\n<p>Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentang Ibnu Muljam: \u201cSebelumnya, ia adalah seorang ahli ibadah, taat kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala. Akan tetapi, akhir kehidupannya ditutup dengan kejelekan (su`ul kh\u00e2timah). Dia membunuh Amirul-Mu\u2019minin \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu dengan alasan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala melalui tetesan darahnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala memberi ampunan dan keselamatan bagi kita\u201d.[5]<\/p>\n<p>Berbeda dengan anggapan kalangan Khaw\u00e2rij. Di tengah mereka, \u2018Abdur-Rahm\u00e2n bin Muljam ini dielu-elukan bak pahlawan. Dia mendapatkan pujian dan sanjungan. Di antaranya keluar dari \u2018Imr\u00e2n bin Hathth\u00e2n. Orang ini, sebelumnya dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli ibadah. Namun, perkawinannya dengan seorang wanita yang memiliki pemikiran Khaw\u00e2rij, menjadikannya berubah secara drastis. Dia mengikuti pemahaman istrinya. Dia merangkai bait-bait sya\u2019ir sebagai pujian yang ditujukan kepada \u2018Abdur-Rahm\u00e2n bin Muljam:<\/p>\n<p>Oh, sebuah sabetan dari orang bertakwa, tiada yang ia inginkan<br \/>\nselain untuk menggapai keridhaan di sisi Dzat Pemilik \u2018Arsyi<br \/>\nSuatu waktu akan kusebut namanya, dan aku meyakininya<br \/>\n(sebagai) insan yang penuh timbangan (kebaikannya) di sisi Allah.[6]<\/p>\n<p>Pujian ini tentu merupakan perbuatan ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga dapat menyeret seseorang menjadi keliru dalam memandang kebatilan hingga terlihat sebagai kebenaran di matanya. Na\u2019\u00fbdzu billahi min dz\u00e2lik. Golongan lain yang juga memberi sanjungan kepada pembunuh \u2018Ali Radhiyallahu \u2018anhu, yaitu golongan Nushairiyyah. Konon katanya, karena Ibnu Muljam telah melepaskan \u201cruh il\u00e2hi\u201d dari tanah.[7]<\/p>\n<p>BEBERAPA PELAJARAN DARI KISAH DI ATAS<\/p>\n<ol>\n<li>Pemahaman yang benar dalam mengaplikasikan Islam merupakan keharusan bagi seorang muslim. Dalam hal ini, para sahabat merupakan generasi Islam pertama, yang pastinya paling memahami Islam. Mereka mereguknya langsung dari Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Ketika muncul pergolakan yang disulut kaum Khawaarij, tidak ada satu pun dari sahabat yang merapat ke barisan mereka. Pemahaman-pemahaman terhadap Islam yang tidak mengacu kepada para sahabat -sebagai generasi pertama umat Islam- hanya akan berakhir dengan kekelaman. Motif mereka sesat, karena beranggapan pembunuhan ini sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala. Alasan demikian tentu menjatuhkan citra Islam, dan menjadi ternoda karenanya. Hal ini bisa menimpa siapa pun yang berbuat tanpa dasar ilmu, tanpa pemahaman yang lurus, dan hanya mengandalkan perasaan atau hawa nafsu semata.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Kebodohan itu berbahaya, lantaran menyebabkan ketidakjelasan barometer syar\u2019i bagi seseorang, sehingga membuat kelemahan dalam tashawwur (pendeskripsian) dalam memandang suatu masalah.[8]<\/li>\n<li>Bahaya teman dekat (istri, suami) yang berpemikiran buruk atau menyimpang. Wallahu a\u2019lam<\/li>\n<\/ol>\n<p>Majalah As-Sunnah Edisi 03\/Tahun XII\/1429H\/2008M<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>_______<br \/>\nFootnote<br \/>\n[1]. Nukilan dari Al Ghuluww, Mazh\u00e2hiruhu, Asb\u00e2buhu, \u2018Il\u00e2juhu, Muhammad bin N\u00e2shir al \u2018Uraini, Pengantar: Syaikh Sh\u00e2lih al Fauz\u00e2n, Tanpa Penerbit, Cetakan I, Tahun 1426 H.<br \/>\n[2]. Lihat al-Bidayah wan-Nih\u00e2yah, Imam Ibnu Kats\u00eer rahimahullah, Maktabah ash-Shaf\u00e2, Cetakan I, Tahun 1423H-2003 M (7\/266-268)<br \/>\n[3]. Maksudnya ialah \u2018Ali bin Abi Th\u00e2lib, Mu\u2019awiyyah dan \u2018Amr bin al-\u2018\u00c2sh Radhiyallahu \u2018anhum.<br \/>\n[4]. Ibnu Muljam mengira dirinya masuk dalam konteks ayat yang ia baca itu, Pen.).<br \/>\n[5]. Miz\u00e2nul-I\u2019tid\u00e2l, Abu \u2018Abdillah Muhammad adz-Dzahabi, Darul-Ma\u2019rifah, Beirut, tanpa tahun, 2\/592.<br \/>\n[6]. Al-Farqu bainal-Firaq, \u2018Abdul-Q\u00e2hir al-Baghd\u00e2di, Darul-Kutub al-\u2018Ilmiyyah, tanpa tahun, hlm. 62-63.<br \/>\n[7]. Al-Maus\u00fb\u2019atul-Muyassaratu fil Ad-y\u00e2ni wal-Mazh\u00e2hibi wal-Ahz\u00e2bil-Mu\u2019\u00e2shirah, Cetakan V, Tahun 1424 H \/ 2003 M, 1\/392.<br \/>\n[8]. Asb\u00e2bu Ziy\u00e2datil-\u2018Im\u00e2n wa Nuqsh\u00e2nihi, Prof Dr. \u2018Abdur-Razz\u00e2q al-\u2018Abb\u00e2d, Ghir\u00e2s, Cetakan III, Tahun 2003M, hlm. 62.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ABDUR-RAHMAN BIN MULJAM, POTRET BURAM SEORANG KORBAN PEMIKIRAN KHAWARIJ Oleh Muhammad \u2018Ashim bin Musthafa Kebenaran pemahaman dan itikad yang baik<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":393,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[10],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/392"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=392"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/392\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":394,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/392\/revisions\/394"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/393"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=392"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=392"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=392"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}