{"id":389,"date":"2019-03-11T03:16:13","date_gmt":"2019-03-11T03:16:13","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=389"},"modified":"2020-08-17T07:51:59","modified_gmt":"2020-08-17T07:51:59","slug":"meniti-ilmu-diatas-manhaj-salaf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/meniti-ilmu-diatas-manhaj-salaf\/","title":{"rendered":"MENITI ILMU DIATAS MANHAJ SALAF"},"content":{"rendered":"<p>Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA<\/p>\n<p>Manhaj Salaf,[1] merupakan satu-satunya metode pemahaman dan pengamalan agama Islam yang dijamin kebenarannya oleh Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala dan Rasul-Nya Shallallahu \u2018alaihi wa sallam . Oleh karena itu, jaminan mendapatkan keridhaan Allah Azza wa Jalla hanya diberikan kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan ihsan (kebaikan). Dinyatakan dalam firman Allah Azza wa Jalla :<\/p>\n<h2>\u0648\u064e\u0627\u0644\u0633\u0651\u064e\u0627\u0628\u0650\u0642\u064f\u0648\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0648\u0651\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0647\u064e\u0627\u062c\u0650\u0631\u0650\u064a\u0646\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0646\u0652\u0635\u064e\u0627\u0631\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u062a\u0651\u064e\u0628\u064e\u0639\u064f\u0648\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0625\u0650\u062d\u0652\u0633\u064e\u0627\u0646\u064d \u0631\u064e\u0636\u0650\u064a\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0631\u064e\u0636\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0646\u0652\u0647\u064f \u0648\u064e\u0623\u064e\u0639\u064e\u062f\u0651\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u062c\u064e\u0646\u0651\u064e\u0627\u062a\u064d \u062a\u064e\u062c\u0652\u0631\u0650\u064a \u062a\u064e\u062d\u0652\u062a\u064e\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627\u0631\u064f \u062e\u064e\u0627\u0644\u0650\u062f\u0650\u064a\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a\u0647\u064e\u0627 \u0623\u064e\u0628\u064e\u062f\u064b\u0627 \u06da\u00a0\u0630\u064e\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u0641\u064e\u0648\u0652\u0632\u064f \u0627\u0644\u0652\u0639\u064e\u0638\u0650\u064a\u0645\u064f<\/h2>\n<p>Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar (para sahabat Radhiyallahu anhum) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [at-Taubah\/9:100].<\/p>\n<p>Dalam ayat ini, Allah Azza wa Jalla menyebutkan jaminan keridhaan-Nya bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk para sahabat Radhiyallahu anhum, dengan syarat mereka mengikutinya dengan ihsan (kebaikan). Artinya, yaitu mengikuti petunjuk mereka secara keseluruhan dalam memahami dan mengamalkan agama ini, baik dalam aqidah (keyakinan), ibadah, tingkah laku, bergaul, bersikap, berdakwah, dan semua sisi lainnya dalam beragama. Ringkasnya, mengikuti petunjuk para sahabat Radhiyallahu anhum dalam mengilmui (memahami) dan mengamalkan agama ini secara menyeluruh.<\/p>\n<p>Tentang penafsiran ayat di atas, Imam Ibnu Katsir berkata: \u201cOrang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan, ialah orang-orang yang mengikuti jejak (petunjuk) mereka yang baik, dan sifat-sifat mereka yang terpuji, serta selalu mendoakan kebaikan bagi mereka secara diam-diam maupun terang-terangan\u201d.[2]<\/p>\n<p>MANHAJ SALAF: MANHAJ ILMU DAN AMAL<br \/>\nInilah salah satu keistimewaan terbesar yang terdapat pada manhaj salaf. Manhaj ini dibangun di atas ilmu (pemahaman) agama yang benar, dan pengamalan yang baik. Seseorang yang benar-benar mengikuti manhaj ini, ia akan terbimbing dalam pemahaman agamanya, sehingga akan terhindar dari segala bentuk syubhat,[3] sekaligus terbimbing dalam pengamalan ilmu tersebut sehingga terhindar dari segala bentuk syahwat (hawa nafsu, Red.).[4]<\/p>\n<p>Dengan keistimewaan ini pula, Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala memberi pensifatan terhadap petunjuk yang dibawa Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dalam firman-Nya:<\/p>\n<h2>\u0645\u064e\u0627 \u0636\u064e\u0644\u0651\u064e \u0635\u064e\u0627\u062d\u0650\u0628\u064f\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u063a\u064e\u0648\u064e\u0649\u0670<\/h2>\n<p>Kawanmu (Nabi Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam) tidak sesat (dalam ilmu) dan tidak pula menyimpang (dalam amal). [an-Najm\/53:2].<\/p>\n<p>Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala mensucikan petunjuk yang dibawa Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dari dua kerusakan. Yaitu: adh-dhal\u00e2l (kesesatan),[5] dan al-ghaw\u00e2yah\/al-ghayy (penyimpangan).[6] Ini berarti, tedapat dua bimbingan sekaligus. Yaitu al-huda (bimbingan dalam ilmu dan pemahaman) dan ar-rusyd (bimbingan dalam amal). Dan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam ialah seorang yang paling sempurna dalam memahami dan mengamalkan agama ini.[7]<\/p>\n<p>Demikian pula dua bimbingan ini ada pada petunjuk yang dibawa al-khulafa` ar-r\u00e2syid\u00een (para sahabat utama yang menggantikan kepemimpinan Rasulullah setelah beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam). Disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam : \u201cHendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnah (petunjuk)ku dan petunjuk al-khulafa\u2019 ar-r\u00e2syid\u00een al-mahdiyyin \u2026\u201d.[8]<\/p>\n<p>Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam menyebut para sahabat utama yang menggantikan kepemimpinan beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam sebagai al-khulafa\u2019 ar-r\u00e2syid\u00een al-mahdiyyin. Artinya para khalifah yang memiliki ar-rusyd, yaitu bimbingan dalam amal (lawan dari al-ghaw\u00e2yah); dan memiliki al-huda, yaitu bimbingan dalam ilmu dan pemahaman (lawan dari adh-dhal\u00e2l). Ini menunjukkan, seseorang yang benar-benar mengikuti petunjuk al-khulafa\u2019 ar-r\u00e2syid\u00een dan termasuk pula para sahabat Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam secara keseluruhan, maka orang itu akan terbimbing dengan baik dalam memahami dan mengamalkan agama Islam ini.<\/p>\n<p>Kita mengetahui, para ulama Ahlus-Sunnah wal-Jama\u2019ah dari kalangan at-Tabi\u2019in yang menimba ilmu secara langsung dari para sahabat Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam , mereka tidak hanya mempelajari secara teori belaka, akan tetapi juga mempelajari cara mengamalkan dan mempraktekkan ilmu tersebut.<\/p>\n<p>Abu \u2018Abdirrahm\u00e2n \u2018Abdullah bin Habib bin Rubayyi\u2019ah as-Sulami al-Kuufi[9] berkata: \u201cKami mempelajari Al-Qur`\u00e2n dari suatu kaum (para sahabat Radhiyallahu anhum) yang menyampaikan kepada kami, bahwa dulunya, ketika mereka mempelajari sepuluh ayat (Al-Qur`\u00e2n dari Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam), mereka tidak akan berpindah ke sepuluh ayat berikutnya sampai mereka (benar-benar) memahami kandungan ayat-ayat tersebut. Maka kamipun mempelajari Al-Qur`\u00e2n sekaligus cara mengamalkannya. Dan setelah kami nanti, akan datang suatu kaum yang mereka mempelajari Al-Qur`an seperti meminum air, yaitu Al-Qur`\u00e2n itu tidak melampui tenggorokan mereka (maksudnya, tidak masuk ke dalam hati mereka)\u201d[10].<\/p>\n<p>PARA ULAMA SALAF, MEREKA MERUPAKAN IMAM DALAM ILMU DAN AMAL<br \/>\nJika mencermati dengan seksama biografi para imam besar Ahlus-Sunnah wal-Jama\u2019ah, kita akan mengetahui, mereka tidak hanya disifati sebagai orang-orang yang mendalam ilmu agamanya saja, akan tetapi, mereka juga orang-orang yang menjadi teladan dalam ibadah dan amal shalih.<\/p>\n<p>Misalnya Rab\u00ee\u2019 bin Khutsaim al-K\u00fbfi (wafat tahun 65 H),[11] ia merupakan salah seorang imam besar dari kalangan Tabi\u2019in \u2018senior\u2019 yang terpercaya dalam meriwayatkan hadits. Dia termasuk murid sahabat yang mulia \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu. Lantaran ketekunannya dalam ibadah dan ketakwaan, sehingga guru beliau sendiri -Abdullah bin Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu \u2013 memujinya dengan mengatakan: \u201cSeandainya Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam melihatmu, maka sungguh beliau akan mencintaimu. Setiap kali melihatmu, aku mengingat orang-orang yang selalu menundukkan diri (kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala).\u201d[12]<\/p>\n<p>Muhammad bin Sirin al-Bashri (wafat tahun 110 H),[13] ia seorang imam besar Tabi\u2019in yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits. Di dalam biografinya diterangkan, beliau ialah seorang yang sangat wara` (hati-hati dalam masalah halal dan haram) dan seorang yang tekun beribadah. Abu \u2018Aw\u00e2nah al-Yasykuri mengomentari tentang beliau: \u201cAku melihat Muhammad bin Sirin di pasar; tidak seorangpun melihatnya, kecuali orang itu akan mengingat Allah\u201d.[14]<\/p>\n<p>Tsabit bin Aslam al-Bun\u00e2ni al-Bashri (wafat tahun 123 H atau 127 H),[15] ia juga seorang imam besar dari kalangan Tabi\u2019in yang terpercaya dalam meriwayatkan hadits. Dia termasuk murid senior sahabat yang mulia, Anas bin M\u00e2lik Radhiyallahu anhu. Tsabit bin Aslam sangat tekun beribadah, bahkan ia disifati sebagai orang yang paling tekun beribadah pada masanya, sehingga Anas bin Malik Radhiyallahu anhu memujinya dengan mengatakan: \u201cSesungguhnya, Tsabit termasuk pembuka pintu-pintu kebaikan\u201d.[16]<\/p>\n<p>Dalam memujinya, Anas bin Malik Radhiyallahu anhu mengisyaratkan kepada hadits yang diriwayatkannya dari Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda: \u201cSesungguhnya di antara manusia ada pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan\u201d.[17]<\/p>\n<p>\u2018Abdullah bin al-Mubarak al-Marwazi (wafat tahun 181 H),[18] ia seorang imam besar ternama dari kalangan Atba\u2019ut Tabi\u2019in (murid para Tabi\u2019in) yang sangat terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits. Pensifatan terhadapnya, ialah sebagai orang yang pada diri beliau terkumpul semua sifat-sifat kebaikan; sampai-sampai Imam Sufyan bin \u2018Uyainah memujinya dengan mengatakan: \u201cAku memperhatikan (membandingkan) sifat-sifat para sahabat Radhiyallahu anhum dengan sifat-sifat \u2018Abdullah bin al-Mubarak, maka aku tidak melihat para sahabat Radhiyallahu anhum melebihi keutamaannya, kecuali karena para sahabat Radhiyallahu anhum menyertai Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan berjihad bersamanya\u201d.[19]<\/p>\n<p>Begitu pula dengan Ibnu Hajar dalam Taqr\u00eebut-Tahdz\u00eeb (hlm. 271), ia berkata: \u201cDia (\u2018Abdullah bin al-Mubarak, Red.) adalah seorang yang terpercaya lagi sangat teliti (dalam meriwayatkan hadits), memiliki ilmu dan pemahaman (yang mendalam), dermawan lagi (sering) berjihad (di jalan Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala). Pada dirinya terkumpul (semua) sifat-sifat baik\u201d.<\/p>\n<p>Sehubungan dengan pembahasan di atas, ada satu nukilan menarik yang disebutkan oleh al-Khathib al-Baghdaadi dalam kitab beliau, Tarikh Baghdad (9\/58), dan adz-Dzahabi dalam Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (13\/203), dalam biografi imam besar penghafal hadits yang ternama, yaitu Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy\u2019ats as-Sijistani (wafat tahun 275 H), pemilik kitab Sunan Abi Dawud.<\/p>\n<p>Dalam nukilan itu disebutkan mata rantai guru-guru beliau dalam mempelajari ilmu hadits sehingga diketahui sampai kepada Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam. Mereka ialah Imam Ahmad bin Hambal, beliau guru utama Imam Abu Dawud; kemudian Waqi\u2019 bin al-Jarrah ar-Ruaasi, beliau termasuk guru utama Imam Ahmad; lalu Sufyan bin Sa\u2019id ats-Tsauri, beliau merupakan guru utama Imam Waqi\u2019 bin al-Jarrah; selanjutnya Manshur bin al-Mu\u2019tamir, beliau termasuk guru utama Sufyan ats-Tsauri, selanjutnya Ibrahim bin Yazid an-Nakh\u00e2`i, ialah termasuk guru utama Manshur bin al-Mu\u2019tamir; kemudian \u2018Alqamah bin Qais an-Nakhaa`i, beliau merupakan guru utama Ibrahim an-Nakh\u00e2`i dan termasuk murid \u201csenior\u2019 sahabat yang mulia \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu. Selanjutnya \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu, beliaulah yang langsung menimba ilmu dari Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam .<\/p>\n<p>Mereka ini, semua merupakan imam-imam besar Ahlul-Hadits yang sangat terpercaya dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam , sehingga hadits-hadits mereka dicantumkan dalam kitab-kitab hadits ternama, seperti Shah\u00eeh al-Bukh\u00e2ri, Shah\u00eeh Muslim, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Yang menarik dari nukilan itu, bahwasanya semua imam-imam besar tersebut disifati sebagai \u201corang yang diserupakan dengan gurunya dalam petunjuk dan tingkah lakunya\u201d; mulai dari Sahabat \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu, beliau diserupakan dengan Nabi Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dalam petunjuk dan tingkah lakunya, kemudian \u2018Alqamah diserupakan dengan \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu dalam petunjuk dan tingkah lakunya, seterusnya sampai kepada Imam Abu Dawud, beliau diserupakan dengan Imam Ahmad bin Hambal dalam petunjuk dan tingkah lakunya.<\/p>\n<p>Dalam nukilan tersebut, kita mendapati para ulama Ahlus Sunnah dalam menimba ilmu agama tidak hanya mengutamakan pengambilan ilmu secara teori belaka, akan tetapi juga mengambil dan meneladani petunjuk dan tingkah laku guru-guru mereka secara maksimal, sehingga Imam Abu Dawud dapat mengambil dan meneladani petunjuk dan tingkah laku Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam melalui teladan yang diambil dari guru-guru beliau, padahal rentang masa antara beliau dengan Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam sangat jauh.<\/p>\n<p>NASIHAT UNTUK PARA PENGIKUT MANHAJ SALAF<br \/>\nDari keterangan di atas sangat jelaslah, di antara keistimewaan terbesar yang ada pada manhaj salaf, yaitu perhatian dan kesemangatan mereka dalam mempelajari dan mengamalkan petunjuk Al-Qur`\u00e2n dan Sunnah Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam . Oleh karena itu, maka kita yang menisbatkan diri kepada manhaj ini, seharusnya berusaha untuk mengikuti petunjuk mereka, agar kita termasuk ke dalam golongan \u201corang-orang yang mengikuti petunjuk mereka dengan kebaikan\u201d dan mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala . Karena kalau bukan kita \u2013 terlebih lagi para penuntut ilmu di antara kita \u2013 yang semangat mempelajari dan mengamalkan petunjuk Al- Qur`\u00e2n dan Sunnah Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam , lalu siapa lagi?!<\/p>\n<p>Marilah kita perhatikan dengan seksama nasihat Imam al-Khat\u00eeb al-Baghdadi[20] tentang adab-adab utama yang seharusnya dimiliki oleh para penuntut ilmu. Beliau berkata, semestinya para penuntut ilmu hadits (berusaha) membedakan (antara) dirinya dengan kebiasaan orang-orang awam dalam semua urusan (tingkah laku dan sikap)nya, dengan (berusaha) mengamalkan petunjuk Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam semaksimal mungkin, dan membiasakan dirinya mengamalkan sunnah-sunnahnya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala berfirman:<\/p>\n<h2>\u0644\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0644\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a \u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0644\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u0650 \u0623\u064f\u0633\u0652\u0648\u064e\u0629\u064c \u062d\u064e\u0633\u064e\u0646\u064e\u0629\u064c<\/h2>\n<p>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. [al-Ahz\u00e2b\/33:21].<\/p>\n<p>Kemudian al-Khat\u00eeb al-Baghdadi membawakan beberapa atsar (riwayat) dari ulama Salaf, di antaranya ucapan Imam al-Hasan al-Bashri: \u201cDahulu, jika seseorang menuntut ilmu agama, maka tidak lama kemudian terlihat (pengaruh ilmu tersebut) pada sifat khusyu\u2019 (tunduk)nya (kepada Allah), tingkah lakunya, ucapannya, pandangannya dan (perbuatan) tangannya\u201d.<\/p>\n<p>Juga atsar dari Imam Ahmad bin Hambal, ketika ada seorang penuntut ilmu yang bermalam di rumah beliau, maka Imam Ahmad menyiapkan air (untuk berwudhu), kemudian paginya Imam Ahmad datang kepada tamunya tersebut dan mendapati air yang beliau siapkan tidak berkurang sama sekali, maka beliau berkata: \u201cSubhanallah (Maha Suci Allah)! Seorang penuntut ilmu tidak melakukan wirid (dzikir dan shalat) pada malam hari?!\u201d<\/p>\n<p>Demikianlah, petunjuk para ulama Salaf dalam menjalankan agama ini; yang kita mengaku menisbatkan diri kepada manhaj mereka, akan tetapi sudahkah kita menerapkan petunjuk mereka dalam diri kita?<\/p>\n<p>Semoga tulisan ini menjadi koreksi dan penambah motivasi bagi kita untuk lebih semangat mencari ilmu yang bermanfaat, dan berusaha melatih diri mengamalkan ilmu tersebut, serta tidak lupa banyak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala , agar kita diberi kemudahan dalam menempuh manhaj yang lurus ini.<\/p>\n<p>Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala , semoga Dia senantiasa melimpahkan taufik dan petunjuk-Nya kepada kita, sehingga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengikuti petunjuk para ulama Salaf dengan kebaikan, serta menjadikan diri kita tetap istiqamah di atas manhaj yang lurus ini sampai akhir hayat.<\/p>\n<p>Majalah As-Sunnah Edisi 03\/Tahun XII\/1429H\/2008M.<br \/>\n_______<br \/>\nFootnote<br \/>\n[1]. Metode beragama yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan para ulama Ahlus-Sunnah yang mengukuti petunjuk mereka.<br \/>\n[2]. Tafsir Ibnu Katsir, 4\/432.<br \/>\n[3]. Artinya kerancuan dan kesalahpahaman dalam memahami agama Islam, yang disebabkan ketidakmampuan membedakan antara yang benar dan yang batil (salah). Lihat keterangan Ibnul-Qayyim dalam kitabnya Ig\u00e2tsatul-Lahaf\u00e2n, hlm. 40 \u2013Maw\u00e2ridul-Am\u00e2n.<br \/>\n[4]. Artinya memperturutkan keinginan nafsu yang buruk dan mendahulukannya daripada petunjuk Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala dan Rasul-Nya Shallallahu \u2018alaihi wa sallam . Ibid.<br \/>\n[5]. Kerusahan dalam ilmu dan pemahaman.<br \/>\n[6]. Kerusakan dalam amal.<br \/>\n[7]. Lihat keterangan Ibnul-Qayyim dalam kitab Miftahu D\u00e2ris-Sa\u2019\u00e2dah, 1\/40.<br \/>\n[8]. HR Abu Dawud (no. 4607), at-Tirmidzi (no. 2676), Ibnu Majah (no. 42 dan 43) dan al-Hakim (no. 329) dan lain-lain, dari sahabat yang mulia al \u2018Irbaadh bin Saariyah Radhiyallahu anhu. Riwayat ini dinyatakan shah\u00eeh oleh at- Tirmidzi, al-Hakim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi, begitu pula Syaikh al-Alb\u00e2ni dalam ash-Shah\u00eehah (no. 937).<br \/>\n[9]. Beliau ialah seorang Tabi\u2019in senior yang terpercaya dan teliti dalam meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam, sehingga riwayat hadits beliau dicantumkan oleh para imam ahli hadits dalam kitab-kitab hadits mereka, seperti halnya al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nas\u00e2`i, dan lain-lain. Beliau wafat pada sekitar tahun 73 atau 74 H. Biogarafi beliau terdapat di dalam kitab Tahdz\u00eebul-Kamala (14\/408), Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (4\/267), dan Taqr\u00eebut-Tahdz\u00eeb (hlm. 250).<br \/>\n[10]. Atsar ini dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (4\/269). Dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama \u2018Atha` bin as-Saaib al-Kuufi. Ibnu Hajar di dalam kitab Taqr\u00eebut-Tahdz\u00eeb (hlm. 250) berkata tentang perawi ini: \u201cDia adalah seorang yang sangat jujur, akan tetapi (hafalannya) tercampur\u201d.<br \/>\nMeskipun demikian, perawi yang meriwayatkan darinya dalam atsar ini ialah Hamm\u00e2d bin Zaid al-Bashri yang meriwayatkan darinya sebelum hafalannya tercampur, sebagaimana ucapan Imam Ali bin al-Mad\u00eeni dan al-\u2018Uqaili (lihat kitab Tahdz\u00eebul-Kam\u00e2l, 7\/185). Riwayat ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari ucapan sahabat yang mulia \u2018Abdullah bin Mas\u2019ud Radhiyallahu anhu, yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya (1\/60) dengan sanad yang semua perawinya terpercaya, akan tetapi Sulaiman bin Mihraan al-A\u2019masy meriwayatkannya dengan \u2018an\u2019anah, sedangkan ia seorang mudallis.<br \/>\n[11]. Biografi beliau dalam Tahdz\u00eebul-Kam\u00e2l (9\/70) dan Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (4\/258).<br \/>\n[12]. Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (4\/258), juga dinukil oleh al-M\u00eezi dalam Tahdz\u00eebul-Kam\u00e2l (9\/72) dan Ibnu Hajar dalam kitab Taqr\u00eebut-Tahdz\u00eeb (hal. 157).<br \/>\n[13]. Biografi beliau dalam Tahdzibul-Kamal (25\/344) dan Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (4\/606).<br \/>\n[14]. Lihat Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (4\/610). Sifat beliau ini menunjukkan bahwa beliau ialah wali (kekasih) Allah Subhanahu wa Ta\u2019ala, karena Rasululah Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda: \u201cWali (kekasih) Allah ialah seseorang yang jika (manusia) memandangnya maka mereka akan ingat kepada Allah\u201d. HR ath-Thabrani dalam al-Mu\u2019jamul-Kab\u00eer (no. 12325), Dhiya\u2019uddin al-Maqdisi dalam al-Ah\u00e2ditsul-Mukht\u00e2rah (2\/212), dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan kuat oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shah\u00eehah (no. 1733) karena diriwayatkan dari jalur lain yang saling menguatkan.<br \/>\n[15]. Biografi beliau terdapat dalam Tahdzibul-Kamal (4\/342) dan Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (5\/220).<br \/>\n[16]. Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (no 35679). Semua perawinya terpercaya kecuali Zaid bin Dirham al-Bashri; tidak ada seorang imampun yang menyatakannya sebagai orang yang terpercaya kecuali Ibnu Hibban yang menyebutkannya dalam kitab ats-Tsiq\u00e2t (4\/247).<br \/>\n[17]. HR Ibnu Majah (no. 237) dan Ibnu Abi \u2018Ashim dalam kitab as-Sunnah (no. 251). Dinyatakan hasan (baik) oleh Syaikh al-Alb\u00e2ni dalam ash-Shah\u00eehah (no. 1332) karena diriwayatkan dari berbagai jalur lain yang saling menguatkan.<br \/>\n[18]. Biografi beliau dalam Tahdzibul-Kamal (16\/5) dan Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (8\/378).<br \/>\n[19]. Lihat Tahdzibul-Kamal (16\/16) dan Siyaru A\u2019l\u00e2min Nubal\u00e2` (8\/390).<br \/>\n[20]. Lihat kitab beliau, al-J\u00e2mi\u2019 li Akhl\u00e2qir-R\u00e2wi wa \u00c2d\u00e2bis-S\u00e2mi\u2019 (1\/215).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA Manhaj Salaf,[1] merupakan satu-satunya metode pemahaman dan pengamalan agama Islam yang dijamin kebenarannya<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":390,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[10],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=389"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":391,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/389\/revisions\/391"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/390"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=389"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=389"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=389"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}