{"id":381,"date":"2019-02-25T02:53:15","date_gmt":"2019-02-25T02:53:15","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=381"},"modified":"2019-02-25T02:53:15","modified_gmt":"2019-02-25T02:53:15","slug":"kedermawanan-keluarga-anshar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/kedermawanan-keluarga-anshar\/","title":{"rendered":"KEDERMAWANAN KELUARGA ANSHAR"},"content":{"rendered":"<p>Ustadz Abu Minhal, Lc<\/p>\n<p>Seorang Muslim yang baik akan suka untuk berderma dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan dan yang tengah terjerat kesulitan. Tangannya terbentang membawa derma dan bantuan, meskipun tidak diminta. Ia terdorong untuk menolong sesama dengan harta yang dimiliki oleh anjuran-anjuran agama yang menyemangati umat Islam untuk memperhatikan kebutuhan orang lain. Selain itu, keyakinannya bahwa sifat\u00a0<em><i>al-karam<\/i><\/em>\u00a0(dermawan) merupakan salah satu akhlak Islam dan salah satu sifat sosial seorang Muslim yang taat.<\/p>\n<p>Dalam sejarah Islam, sifat\u00a0<em><i>al-karam<\/i><\/em>\u00a0(dermawan) sangat melekat pada golongan Anshar dan menjadi simbol mereka. Bahkan mereka melakukan jenis al-karam yang terbaik, yaitu al-\u00eets\u00e2r yang menjadi salah satu faktor All\u00e2h Azza wa Jalla Rabbul \u2018Alamin memuji mereka dalam al-Qur`\u00e2n.<a name=\"_ftnref1\"><\/a><a href=\"#_ftn1\">[1]<\/a><\/p>\n<p><strong><b>Mengenal Asal-Usul Kaum Ansh\u00e2r<\/b><\/strong><br \/>\nKata\u00a0<strong><b>\u0627\u0644\u0623\u0646\u0635\u0627\u0631<\/b><\/strong>\u00a0(al-Anshar) adalah bentuk jamak dari kata\u00a0<strong><b>\u0646\u0627\u0635\u0631<\/b><\/strong>\u00a0(n\u00e2shir) yang bermakna penolong. Mereka itu adalah penduduk Madinah yang telah beriman kepada All\u00e2h Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu \u2018alaihi wa sallam yang menjadi orang-orang yang menolong Ras\u00fblull\u00e2h Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dari dua suku besar kota Madinah, Aus dan Khazraj. Sebelumnya, mereka dikenal dengan Bani Qailah. Qailah adalah ibu yang menyatukan mereka.<\/p>\n<p>Predikat al-Ansh\u00e2r yang mulia ini hanya melekat pada diri mereka saja, karena mereka telah menyediakan tempat tinggal bagi Ras\u00fblull\u00e2h Shallallahu \u2018alaihi wa sallam dan orang-orang yang datang berhijrah dari Makkah ke Madinah yang kemudian dikenal dengan kaum Muh\u00e2jir\u00een. Tidak itu saja, mereka juga memperhatikan keperluan-keperluan dan kebutuhan-kebutuhan hidup kaum Muhajirin dan dengan jiwa dan harta-benda mereka, serta lebih mengutamakan kepentingan kaum Muhajirin dalam banyak hal daripada kepentingan diri dan kebutuhan mereka sendiri, walaupun mereka dalam kesulitan hidup dan membutuhkan. Demikian uraian al-H\u00e2fizh Ibnu Hajar al-\u2018Asqal\u00e2ni rahimahullah.<a name=\"_ftnref2\"><\/a><a href=\"#_ftn2\">[2]<\/a><\/p>\n<p>All\u00e2h Azza wa Jalla pun menyebut mereka dengan penamaan ini. Hal ini berdasarkan satu atsar dari Anas bin M\u00e2lik Radhiyallahu anhu yang pernah ditanya oleh seseorang bernama Ghailan bin Jar\u00eer, \u201cTentang (nama) Ansh\u00e2r, apakah kalian menamakan diri kalian dengannya atau All\u00e2hlah yang menamakan kalian dengannya?\u201d. Anas Radhiyallahu anhu menjawab, \u201cBahkan All\u00e2hlah yang menamakan kami dengan sebutan Anshar\u201d<a name=\"_ftnref3\"><\/a><a href=\"#_ftn3\">[3]<\/a><\/p>\n<p>Perkenalan mereka dengan Islam dimulai dengan kebiasaan Ras\u00fblull\u00e2h Shallallahu \u2018alaihi wa sallam memanfaatkan musim haji untuk mendakwahi kabilah-kabilah yang datang ke Makkah setelah datangnya perintah untuk berdakwah secara terang-terangan. Pada tahun ke-11 kenabian, enam orang dari Madinah menerima Islam. Seruan dakwah yang disampaikan Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam kepada mereka pada suatu malam tidak menemui hambatan. Sebagian mereka berkata kepada yang lain, \u201cKalian tahu tidak, demi All\u00e2h, ia adalah benar-benar nabi (akhir zaman) yang sudah disebut-sebut oleh kaum Yahudi untuk memerangi kalian dengannya. Janganlah kalian sampai didahului orang-orang Yahudi untuk mengimaninya\u201d.<\/p>\n<p>Pada musim haji tahun ke-12 dan 13 kenabian, terjadilah baiat (perjanjian setia) antara rombongan dari mereka dengan Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam di Mina yang kemudian dikenal dengan Baiat \u2018Aqabah Pertama dan Baiat \u2018Aqabah Kedua. Dan pada Baiat Aqabah II, mereka menerima poin-poin baiat, di antaranya untuk bertauhid kepada All\u00e2h, taat dalam keadaan senang dan malas, serta berjanji membela Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam.<a name=\"_ftnref4\"><\/a><a href=\"#_ftn4\">[4]<\/a><\/p>\n<p><strong><b>Karakter Anshar, Dermawan Dan Lebih Mengutamakan Kebutuhan Orang Lain<\/b><\/strong><br \/>\nAll\u00e2h Azza wa Jalla telah memberitahukan tentang keutamaan kaum Anshar dalam al-Qur`\u00e2n. All\u00e2h Azza wa Jalla berfirman:<\/p>\n<h2>\u0648\u064e\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u062a\u064e\u0628\u064e\u0648\u0651\u064e\u0621\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u062f\u0651\u064e\u0627\u0631\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0652\u0625\u0650\u064a\u0645\u064e\u0627\u0646\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0642\u064e\u0628\u0652\u0644\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u064a\u064f\u062d\u0650\u0628\u0651\u064f\u0648\u0646\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0647\u064e\u0627\u062c\u064e\u0631\u064e \u0625\u0650\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062c\u0650\u062f\u064f\u0648\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a \u0635\u064f\u062f\u064f\u0648\u0631\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u062d\u064e\u0627\u062c\u064e\u0629\u064b \u0645\u0650\u0645\u0651\u064e\u0627 \u0623\u064f\u0648\u062a\u064f\u0648\u0627 \u0648\u064e\u064a\u064f\u0624\u0652\u062b\u0650\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0623\u064e\u0646\u0652\u0641\u064f\u0633\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0648\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u062e\u064e\u0635\u064e\u0627\u0635\u064e\u0629\u064c\u00a0\u06da\u00a0\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064f\u0648\u0642\u064e \u0634\u064f\u062d\u0651\u064e \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u0650\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0623\u064f\u0648\u0644\u064e\u0670\u0626\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0641\u0652\u0644\u0650\u062d\u064f\u0648\u0646\u064e<\/h2>\n<p><em><i>Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) \u2018mencintai\u2019 orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung<\/i><\/em>\u00a0[ Al-Hasyr\/59:9]<\/p>\n<p>All\u00e2h Azza wa Jalla memuji kaum Ansh\u00e2r karena lebih mengutamakan orang-orang yang lebih membutuhkan daripada diri mereka sendiri. Mereka mulai dengan orang-orang lain terlebih dahulu sebelum diri mereka, saat mereka sendiri butuh terhadap hal tersebut.<\/p>\n<p>Kedudukan ini lebih tinggi daripada kedudukan orang-orang yang All\u00e2h Azza wa Jalla sebutkan dengan firman-Nya yang artinya: (Dan mereka memberikan makanan yang disukainya)<a name=\"_ftnref5\"><\/a><a href=\"#_ftn5\">[5]<\/a>\u00a0\u00a0dan firman-Nya: (dan memberikan harta yang dicintai)<a name=\"_ftnref6\"><\/a><a href=\"#_ftn6\">[6]<\/a><\/p>\n<p>Sebab, orang-orang itu, yang disebutkan dalam dua ayat di atas, mereka bersedekah dalam keadaan menyukai apa yang mereka sedekahkan. Dan mungkin saja mereka tidak membutuhkannya atau tidak ada kepentingan mendesak terhadapnya. Sementara kaum Anshar mengesampingkan diri mereka, meskipun ada kebutuhan dan keperluan mereka terhadap apa yang mereka sedekahkan.<a name=\"_ftnref7\"><\/a><a href=\"#_ftn7\">[7]<\/a><\/p>\n<p>Ini adalah salah satu karakter golongan Anshar yang dengan itu mereka mengalahkan orang lain dan menjadi ciri khas mereka yang membedakan mereka dari orang lain, yaitu al-\u00eets\u00e2r yang merupakan bentuk kedermawanan yang sempurna, dalam bentuk mengutamakan orang lain dengan sesuatu yang disukai oleh jiwa seperti harta dan lain sebagainya dan memberikannya kepada orang lain, meskipun membutuhkan hal tersebut, bahkan dalam keadaan kritis dan kesusahan.<\/p>\n<p>Demikian ini tidak terjadi kecuali dari seseorang yang berakhlak bersih dan cintanya karena All\u00e2h Azza wa Jalla lebih diutamakan daripada cintanya kepada syahwat dan kelezatannya. Di antaranya kisah nyata seorang Ansh\u00e2r yang menjadi sebab turunnya ayat ini, ketika lebih mengutamakan tamu dengan makanan yang dimiliki untuk dirinya dan keluarga serta anak-anak, sehingga mereka bermalam dalam keadaan lapar.<a name=\"_ftnref8\"><\/a><a href=\"#_ftn8\">[8]<\/a><\/p>\n<p>Seorang Muslim ketika menyaksikan orang lain pantas diutamakan daripada dirinya, ia akan melakukannya. Ia kenyangkan orang lain, meski harus menahan lapar, menyegarkan tenggorokan orang lain, walau harus merasa kehausan. Hal ini bukanlah pemandangan asing dan aneh pada seorang Muslim yang taat kepada ajaran agamanya.<a name=\"_ftnref9\"><\/a><a href=\"#_ftn9\">[9]<\/a><\/p>\n<p><strong><b>Keluarga Dermawan Yang Menjadi Sebab Turunnya Ayat<\/b><\/strong><br \/>\nDari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ada seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam , lalu mengatakan, \u201cSesungguhnya aku dalam kesulitan\u201d. Kemudian Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam mengutus ke sebagian istri Beliau, lalu istri Beliau itu mengatakan,\u201dDemi Dzat Yang mengutusmu dengan kebenaran, kami tidak memiliki selain air saja\u201d. Kemudian Beliau Shallallahu \u2018alaihi wa sallam mengutus seseorang ke istri yang lain, dan mengatakan jawaban yang serupa, hingga semua istri-istri Beliau mengatakan demikian. Lalu Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda, \u201cSiapakah yang mau menjamu orang ini malam ini?\u201d.Maka, seorang lelaki Ansh\u00e2r berkata, \u201cSaya, wahai Ras\u00fblull\u00e2h\u201d. Maka orang Anshar tersebut bertolak bersamanya menuju tempat tinggalnya. Ia berkata kepada istrinya, \u201cMuliakanlah tamu Ras\u00fblull\u00e2h!\u201d.<\/p>\n<p>Dalam riwayat lain, lelaki dari Anshar ini berkata kepada istrinya, \u201cApakah engkau punya sesuatu?\u201d. Istrinya menjawab, \u201cTidak, selain makanan untuk anak-anak\u201d. Lelaki Ansh\u00e2r ini mengarahkan, \u201cCoba lalaikan anak-anak (dari makanan itu) dengan sesuatu. Dan jika mereka menginginkan makan malam, maka tidurkanlah mereka!. Dan bila tamu kita telah masuk, maka padamkanlah penerangan, dan tampakkanlah kepada dia, seolah-olah kita sedang makan (bersamanya)\u201d. Sang tamu makan (jamuan), sementara mereka melewati malam dengan mengikat perut mereka. Di pagi hari, lelaki (Ansh\u00e2r) ini menemui Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam , lalu Beliau memuji mereka (dengan berkata): \u201c<em><i>Sungguh, All\u00e2h takjub dengan perbuatan kalian terhadap tamu kalian semalam<\/i><\/em>\u201d. Kemudian All\u00e2h menurunkan firman-Nya:<\/p>\n<h2>\u0648\u064e\u064a\u064f\u0624\u0652\u062b\u0650\u0631\u064f\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0623\u064e\u0646\u0652\u0641\u064f\u0633\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0648\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0628\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652 \u062e\u064e\u0635\u064e\u0627\u0635\u064e\u0629\u064c\u00a0\u06da\u00a0\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u064f\u0648\u0642\u064e \u0634\u064f\u062d\u0651\u064e \u0646\u064e\u0641\u0652\u0633\u0650\u0647\u0650 \u0641\u064e\u0623\u064f\u0648\u0644\u064e\u0670\u0626\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0641\u0652\u0644\u0650\u062d\u064f\u0648\u0646\u064e<\/h2>\n<p><em><i>dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung<\/i><\/em>\u201d. [Muttafaqun alaih]<a name=\"_ftnref10\"><\/a><a href=\"#_ftn10\">[10]<\/a><\/p>\n<p>Hadits ini menunjukkan orang-orang Ansh\u00e2r suka mengutamakan orang lain meski dalam keadaan membutuhkan.\u00a0<a name=\"_ftnref11\"><\/a><a href=\"#_ftn11\">[11]<\/a><\/p>\n<p><strong><b>Penutup<\/b><\/strong><br \/>\nSemoga beberapa kisah keluarga dermawan dari golongan Ansh\u00e2r ini bermanfaat bagi kita dan menggerakkan hati kita untuk berbuat lebih dalam berinfaq dengan apa yang kita miliki, apalagi di bulan Ramadhan yang akan tiba. Karena seorang Muslim berjalan mengikuti jalan orang-orang terdahulu yang telah All\u00e2h Azza wa Jalla ridhai dan puji. Amin.<\/p>\n<p>Majalah As-Sunnah Edisi 01\/Tahun XXI\/1438H\/2017M.<\/p>\n<p>_______<br \/>\nFootnote<br \/>\n<a name=\"_ftn1\"><\/a><a href=\"#_ftnref1\">[1]<\/a>\u00a0Tais\u00eerul Kar\u00eemir Rahm\u00e2n hlm. 789<br \/>\n<a name=\"_ftn2\"><\/a><a href=\"#_ftnref2\">[2]<\/a>\u00a0Fathul B\u00e2ri 1\/122<br \/>\n<a name=\"_ftn3\"><\/a><a href=\"#_ftnref3\">[3]<\/a>\u00a0HR. Al-Bukhari no.3776<br \/>\n<a name=\"_ftn4\"><\/a><a href=\"#_ftnref4\">[4]<\/a>\u00a0Raudhatul Anw\u00e2r f\u00ee S\u00eeratil An-Nabiyyil Mukht\u00e2r hlm.129-135.<br \/>\n<a name=\"_ftn5\"><\/a><a href=\"#_ftnref5\">[5]<\/a>\u00a0QS. Al-Insan\/76 :8 6<br \/>\n<a name=\"_ftn6\"><\/a><a href=\"#_ftnref6\">[6]<\/a>\u00a0QS. Al-Baqarah\/2:177<br \/>\n<a name=\"_ftn7\"><\/a><a href=\"#_ftnref7\">[7]<\/a>\u00a0Lihat Tafsir al-Qur`anil \u2018Azhim 8\/71.<br \/>\n<a name=\"_ftn8\"><\/a><a href=\"#_ftnref8\">[8]<\/a>\u00a0Tais\u00eerul Kar\u00eemir Rahm\u00e2n hlm. 789<br \/>\n<a name=\"_ftn9\"><\/a><a href=\"#_ftnref9\">[9]<\/a>\u00a0H\u00e2kadz\u00e2 \u2018Allamanan Nabiyyu hlm. 178<br \/>\n<a name=\"_ftn10\"><\/a><a href=\"#_ftnref10\">[10]<\/a>\u00a0HR. Al-Bukh\u00e2ri no.3798 dan Muslim no.2054<br \/>\n<a name=\"_ftn11\"><\/a><a href=\"#_ftnref11\">[11]<\/a>\u00a0Bahjatun N\u00e2zhir\u00een 1\/618.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ustadz Abu Minhal, Lc Seorang Muslim yang baik akan suka untuk berderma dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan dan yang<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":382,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[14],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=381"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":383,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/381\/revisions\/383"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/382"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=381"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=381"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=381"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}