{"id":293,"date":"2018-10-10T02:37:22","date_gmt":"2018-10-10T02:37:22","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=293"},"modified":"2018-10-10T02:37:22","modified_gmt":"2018-10-10T02:37:22","slug":"sebab-sebab-ikhtilaf-di-kalangan-ulama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/sebab-sebab-ikhtilaf-di-kalangan-ulama\/","title":{"rendered":"SEBAB-SEBAB IKHTILAF DI KALANGAN ULAMA"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Oleh: Abu \u2018Abdillah Ibn Abi Muhammad Sholih<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Perlu kita ketahui bahwasanya pembahasan fiqih pada zaman Nabi \ufdfa tidak pernah dituliskan dan dibukukan sebagaimana yang kita kenal pada zaman kita sekarang ini. Begitu pula pembahasan tentang masalah hukum-hukum syari\u2019at pada saat itu tidak sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli fiqih setelah zaman beliau \ufdfa , di mana mereka mengerahkan segala kemampuan mereka untuk menjelaskan segala masalah baik tentang hukum-hukum, syari\u2019at-syari\u2019at ataupun adab-adab, masing-masing disertai dengan dalil dan dalil setiap ulama terkadang berbeda dengan yang lainnya.<!--more--><\/p>\n<p>* Sebab-Sebab Ikhtilaf (Perselisihan\/beda pendapat) Para Sahabat dan Tabi\u2019in Dalam Masalah <em>Furu\u2019 <\/em>(Cabang agama).<\/p>\n<p>Di zaman Rasulullah \ufdfa tatkala beliau berwudhu, para sahabat melihatnya, maka merekapun berwudhu sebagaimana beliau berwudhu. Begitu pula merekapun mengambil segala sesuatu dari beliau \ufdfa tanpa mencari penjelasan dari beliau \ufdfa tentang mana <em>rukun<\/em>, mana <em>syarat <\/em>dan sebagainya. Demikianlah adab yang baik dari mereka.<\/p>\n<p>Inilah keadaan beliau n secara keumuman, tidak menjelaskan bahwasanya <em>fardhu<\/em>nya wudhu ada enam atau empat, dan tidak menjelaskan di dalam wudhu harus adanya <em>muwalah<\/em> (berturut-turut), sehingga wudhu tersebut dihukumi sah atau tidak karena hal itu. Sedangkan para ulama sesudah mereka menjelaskan hal itu secara detail. Para sahabat jarang sekali mempertanyakan hal demikian kepada Nabi \ufdfa, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas:<\/p>\n<p>&#8220;<em>Aku tidak melihat suatu kaumpun yang lebih baik dari para sahabat Rasulullah <\/em><em>n<\/em><em> , mereka tidak pernah bertanya kepada beliau kecuali tentang tiga belas permasalahan sampai beliau wafat, semuanya tersebut di dalam al-Qur\u2019an<\/em>, diantaranya:<\/p>\n<h2>\u064a\u064e\u0633\u0652\u0623\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e\u0643\u064e \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0634\u0651\u064e\u0647\u0652\u0631\u0650 \u0627\u0644\u0652\u062d\u064e\u0631\u064e\u0627\u0645\u0650 \u0642\u0650\u062a\u064e\u0627\u0644\u064d \u0641\u0650\u064a\u0647\u0650<\/h2>\n<p><em>Mereka bertanya kepada-mu tentang bulan al-haram untuk berperang didalamnya <\/em>(Al-Baqarah: 217)<\/p>\n<h2>\u0648\u064e \u064a\u064e\u0633\u0652\u0623\u064e\u0644\u064f\u0648\u0646\u064e\u0643\u064e \u0639\u064e\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u062d\u0650\u064a\u0636\u0650<\/h2>\n<p><em>Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid. <\/em>(Al-Baqarah: 222)<\/p>\n<p>Ibnu Abbas berkata<em>: \u201cTidaklah mereka bertanya kecuali tentang masalah yang bermanfaat bagi mereka<\/em>.\u201d (Riwayat Ad-Darimi di dalam Sunannya 1\/48, dan disebutkan oleh AL-Haitsami di dalam Majma\u2019 Az-Zawaid 1\/158)<\/p>\n<p>Ibnu Umar juga pernah menyatakan yang senada: <em>\u201cJanganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi, sebab aku mendengar Umar bin Al-Khaththab melaknat orang yang bertanya tentang apa yang belum terjadi<\/em>\u201d.<\/p>\n<p>Ibnu Al-Qasim juga berkata: \u201c<em>Sesungguhnya kamu bertanya tentang segala sesuatu yang dahulu kami tidak pernah pertanyakan, dan kamu menyelidiki (membahas) tentang segala sesuatu yang kami tidak pernah menyelidiki, dan kalian mempertanyakan segala sesuatu yang kami tidak mengetahui ilmunya, seandainya kami tahu, tidaklah halal bagi kami untuk menyembunyikannya<\/em>.\u201d (Atsar-atasar ini dikeluarkan oleh Imam Ad-Darimi di dalam Sunannya I\/47-48).<\/p>\n<p>Seandainya hadits-hadits beliau n dipelajari, niscaya akan kita dapati bahwa beliau memberikan fatwa ketika ditanya tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi, beliau menetapkan keputusan hukum di saat permasalahan dilaporkan kepada beliau, dan tatkala beliau melihat manusia berbuat baik maka beliau memujinya, atau beliau melihat kemungkaran maka beliau mengingkarinya.<\/p>\n<p>Demikian pula sikap para sahabat, mereka akan diam jika ditanya tantang suatu perkara yang mereka tidak mengetahuinya. Inilah Abu Bakar, <em>beliau ditanya suatu hadits Nabi <\/em>\ufdfa <em>tentang hak waris nenek, maka beliau menjawab: \u201cAku tidak pernah mendengar Rasulullah <\/em>\ufdfa <em>bersabda tentang masalah ini\u201d. Kemudian beliaupun bertanya kepada orang banyak, tatkala selesai shalat dhuhur beliau berkata: \u201cSiapa diantara kamu yang mendengar Rasulullah <\/em>\ufdfa <em>bersabda tentang nenek -dalam hak warisnya-?\u201d. Al-Mughirah bin Syu\u2019bah menjawab: \u201cSaya\u201d. Abu Bakar bertanya: \u201cApa yang kamu dengar?\u201d. Al-Mughirah bin Syu\u2019bah menjawab: \u201cRasulullah <\/em><em>n<\/em><em> memberinya seperenam\u201d. Abu Bakar bertanya lagi: \u201cApakah ada selainmu yang mengetahui?\u201d. Maka Muhammad bin Maslamah berkata: \u201cDia (Al-Mughirah bin Syu\u2019bah) benar.\u201d Maka Abu Bakar memberinya (bagian nenek)\u00a0 seperenam.<\/em> (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ad-Darimi dan At-Tirmidzi dan beliau menshahihkannya).<\/p>\n<p>Begitu pula Umar tatkala beliau tidak tahu, beliau bertanya kepada para sahabat yang lain. Seperti tentang masalah Waba\u2019 Tha\u2019un (penyakit menular di kota) Amwas tatkala beliau di dalam perjalanan menuju Syam tahun 17 H. Yang akhirnya beliau mengambil hadits\u00a0 dari Abdirahman bin Auf . Dari Abdullah bin \u2018Amir, bahwasanya \u2018Umar keluar menuju Syam, tatkala sampai di suatu daerah dekat Tabuk -sampai khabar kepada beliau bahwa Waba\u2019 melanda Syam. Maka beliaupun bermusyawarah dengan para sahabat Muhajirin dan Anshor, baik yang muda maupun yang tua, apakah beliau tetap masuk ke daerah yang terlanda waba\u2019 ataukah tidak. Tetapi\u00a0 mereka berselisih pendapat dalam masalah ini, adapun pendapat beliau (Umar) adalah kembali -pulang-. Kemudian Abdurrahman bin Auf datang dan menyatakan bahwa dia mempunyai ilmu tentang hal tersebut, yaitu bahwa Rasulullah n telah bersabda:<\/p>\n<h2>\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0633\u064e\u0645\u0650\u0639\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0647\u0650 \u0628\u0650\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u064d \u0641\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064e\u0642\u0652\u062f\u064e\u0645\u064f\u0648\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0625\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0642\u064e\u0639\u064e \u0628\u0650\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u064d \u0648\u064e\u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0647\u064e\u0627 \u0641\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064e\u062e\u0652\u0631\u064f\u062c\u064f\u0648\u0627 \u0641\u0650\u0631\u064e\u0627\u0631\u064b\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f<\/h2>\n<p><em>Apabila kalian mendengar waba\u2019 melanda suatu daerah, maka janganlah kalian memasukinya, dan apabila waba\u2019 melanda suatu daerah dan kalian ada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar lari darinya. <\/em>Maka Umar pun kembali ke Sarg setelah mendengar hadits dari Abdurrahman Ibn Auf. (HSR. Imam Al-Bukhari di dalam Shahihnya 10\/179, 12\/344 dan Imam Muslim 14\/208-212).<\/p>\n<p>Dan masih banyak lagi kisah lain yang senada di dalam <strong><em>Shahihain<\/em><\/strong> dan <strong><em>Sunan<\/em><\/strong>.<\/p>\n<p>Ringkasnya, inilah kebiasaan mulia Nabi \ufdfa , sehingga sahabat melihat dari diri beliau \ufdfa apa yang Allah mudahkan bagi dirinya, baik dalam masalah ibadah, fatwa ataupun penetapan-penetapan hukum. Kemudian semua itu diilmui dan dijaga oleh para sahabat sesuai dengan keadaan dan sebab terjadinya. Sehingga \u2013bisa jadi- diantara mereka ada yang menilai sesuatu sebagai hal yang <em>mubah<\/em> (dibolehkan) , orang lain menilainya sebagai hal yang <em>mustahab<\/em> (dianjurkan), sedangkan orang lain lagi menilainya sebagai hal yang <em>mansukh <\/em>(telah dihapus hukumnya) berdasarkan alamat-alamat dan tanda-tanda yang ada pada suatu masalah.<\/p>\n<p>Kemudian berakhirlah masa beliau \ufdfa yang mulia, sedangkan para sahabat berada dalam keadaan seperti ini. Lalu mereka berpencar ke berbagai negeri untuk menyebarkan <em>risalah Muhammadiyah<\/em> yang mulia. Merekapun menjadi panutan di dalam segala hal oleh setiap kaum di mana para sahabat berada. Kemudian mulailah muncul berbagai kejadian dan permasalahan baru, yang mereka \u2013para kaum itu- meminta fatwa kepada sebagian sahabat, maka masing-masing para sahabat <em>beristimbat <\/em>(mengambil kesimpulan hukum) sebatas apa yang mereka ketahui. Apabila mereka tidak mendapati dari apa yang mereka ketahui, maka mereka <em>berijtihad<\/em> (mencurahkan segenap kemampuan untuk mengetahui hukum syar\u2019i) dengan akal mereka berdasarkan <em>\u2018ilat<\/em> (sebab hukum) yang Rasulullah n menetapkan hukum-hukum. Maka ditetapkanlah hukum-hukum tersebut menjadi umum selama tidak keluar dari maksud penetapan beliau n. Dari sini mulailah timbul <em>ikhtilaf <\/em>(perselisihan) di antara mereka, karena beberapa keadaan:<\/p>\n<ol>\n<li><strong> Seorang sahabat mendengar suatu hukum atau fatwa di dalam suatu permasalahan yang tidak didengar oleh sahabat lain<\/strong>. Kemudian sahabat yang tidak mendengar itu <em>berijtihad<\/em> di dalam masalah tersebut dengan akalnya, sehingga dan hal ini bisa terjadi beberapa kemungkinan:<\/li>\n<li><strong>a)<\/strong><strong> Ijtihadnya sesuai dengan hadits.<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contoh: Apa yang diriwayatkan oleh Imam Nasai dan lainnya <em>bahwa Ibnu Mas\u2019ud ditanya tentang seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, dan suaminya belum menyebutkan jenis dan jumlah maharnya saat akad nikah, maka beliau berkata: \u201cAku tidak pernah mendapati Rasulullah <\/em>\ufdfa <em>menetapkan hukum demikian\u201d, maka mereka -sahabat- berselisih selama sebulan dan tidak mendapati jawaban. Kemudian Ibnu Mas\u2019ud berijtihad dengan akalnya dan menetapkan bahwa wanita tersebut mendapatkan mahar sebagaimana diberikan kepada istri-istri yang lain, tanpa adanya tambahan ataupun pengurangan, dan wanita tersebut wajib ber\u2018iddah -masa menanti- dan berhak mendapatkan warisan. Kemudian Ma\u2019qil bin Yasar berdiri dan bersaksi bahwasanya Rasulullah <\/em><em>n<\/em><em> menetapkan hukum serupa bagi istri-istri mereka. Maka Ibnu Mas\u2019ud merasa bahagia dengan hal ini, dengan\u00a0 kebahagiaan yang belum pernah ia dapati sebelum Islam<\/em>.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>b) <\/strong><strong>Terjadi diskusi -perdebatan- di antara sahabat. Kemudian sahabat yang <em>berijtihad <\/em>itu mengikuti hadits yang dia dengar dan meninggalkan <em>ijtihadnya<\/em>. <\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: Apa yang diriwayatkan oleh para Imam ahli hadits, <em>bahwasanya Abu Hurairah mempunyai pendapat, bagi orang yang mendapati waktu pagi dalam keadaan junub maka puasanya tidak sah. Sampai sebagian istri-istri Nabi <\/em>\ufdfa <em>mengkhabarkan apa yang menyelisihi pendapatnya dan beliau rujuk kepada hadits<\/em>.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>c) Hadits sampai kepadanya akan tetapi tidak bersesuaian dengan persangkaan yang diyakininya, sehingga dia tidak meninggalkan <\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: Apa yang diriwayatkan oleh para Ahli Ushul, bahwa <em>Fatimah binti Qais bersaksi kepada Umar Ibn Khaththab bahwasanya dahulu dia ditalak tiga dan Rasulullah <\/em>\ufdfa <em>tidak menetapkan baginya nafakah dan tempat tinggal, tetapi Umar menolak persaksiannya, dan berkata: \u201cKami tidak akan meninggalkan Kitabullah karena ucapan seorang wanita yang aku tidak tahu apakah dia benar atau dusta, maka wanita yang ditalak tiga berhak mendapatkan nafakah dan tempat tinggal.\u201d<\/em> (HR. Imam Muslim, Nasa\u2019i, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, dan Ath-Thahawi).<\/p>\n<p>Aisyah berkata:\u00a0 \u201c<em>Wahai Fathimah tidaklah engkau takut kepada Allah<\/em>?\u201d<\/p>\n<p>-yakni berkenaan ucapan Fatimah binti Qais-: \u201cTidak ada tempat tinggal dan tidak ada nafakah (bagi wanita yang ditalak tiga).\u201d (Imam Bukhari 9\/477)<\/p>\n<ol>\n<li><strong>d) Hadits tentang masalah tersebut sama sekali tidak pernah sampai kepadanya.<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: Sebagaimana dikeluarkan oleh Imam Muslim, bahwasanya <em>Ibnu Umar memerintahkan para wanita apabila mereka mandi -janabat- untuk menguraikan rambut mereka. Kemudian berita ini didengar oleh Aisyah, maka beliau berkata: \u201cSungguh aneh Ibnu Umar ini! Dia memerintahkan para wanita untuk menguraikan rambut mereka -saat mandi,\u00a0 tidakkah -lebih baik- untuk memerintahkan mereka agar menggundul kepalanya! Sesungguhnya aku pernah mandi bersama Rasulullah <\/em>\ufdfa <em>dari satu bejana dan tidak lebih dari tiga siraman yang aku lakukan di kepalaku\u201d.<\/em><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Perbedaan persepsi.<\/strong> Di antara kondisi yang menyebabkan ikhtilaf di antara sahabat adalah, bahwa mereka melihat Rasulullah \ufdfa mengerjakan suatu amalan kemudian sebagian mereka menganggap hal tersebut sebagai <em>qurbah<\/em> (amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta\u2019ala), sedangkan yang lain menganggapnya sebagai <em>ibahah<\/em> (sesuatu yang dibolehkan) saja.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: jumhur ulama berpendapat bahwasanya <em>ar-raml<\/em> (lari-lari kecil) di dalam <em>thawaf<\/em> adalah sunnah, adapun Ibnu Abbas berpendapat: Bahwa Nabi mengerjakannya hanyalah karena kesamaan antara syariat dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin sebelum syari\u2019at diturunkan, dan bukan merupakan sunnah. (Lihat Al-Inshaf fi Bayani Asbabil Ikhtilaf oleh Waliyullah Ad-Dahlawi).<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Diantaranya juga adalah <em>ikhtilaful-wahm<\/em> (perselisihan karena kekeliruan).<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Abu Dawud dari Sa\u2019id bin Jubair bahwasanya dia berkata: \u201cSaya berkata kepada kepada Ibnu Abbas: \u201cWahai Abal-Abbas, aku begitu terkejut terhadap ikhtilaf yang terjadi di kalangan para sahabat Nabi \ufdfa di dalam masalah <em>ihlal<\/em> (Ucapan <strong><em>talbiyah<\/em><\/strong><em>: Labbaik Allahumma labbaik, Labbaik laa syarikalahu labbaik,<\/em> secara keras yang diucapkan oleh Rasulullah tatkala memulai amalan haji)\u201d.<\/p>\n<p>Maka Ibnu Abbas berkata: \u201cSesungguhnya aku adalah orang yang paling tahu tentang masalah tersebut, sesungguhnya tidaklah beliau berhaji kecuali sekali saja, dan dari sanalah mereka berselisih. Rasulullah mulai keluar untuk berhaji, setelah beliau shalat dua rekaat di masjidnya di Dzil-Hulaifah beliau mulai -berniat- di majlisnya dan <em>berihlal<\/em> dengan haji. Dari sana sebagaian orang mendengarnya dan merekapun menghafal dan menjaganya. Kemudian beliau mulai menunggangi kendaraannya, maka tatkala menuju jalan ke arah Makkah beliaupun <em>berihlal<\/em>. Sebagian orang yang lain mendapati keadaan ini, padahal tidak mendapati yang sebelumnya, -yang demikian ini dikarenakan manusia datang secara berbondong-bondong tidak sekalian satu rombongan, dan mereka mendengar ihlalnya Nabi \ufdfa tatkala kendaraan -tungangan- beliau mulai berjalan ke arah Makkah. Maka mereka pun berpendapat tidaklah Nabi <em>berihlal<\/em> kecuali saat tungangannya berjalan menuju Makkah. Kemudian Rasulullah berlalu dan tatkala berada di tempat yang tinggi, beliaupun <em>berihlal<\/em> dan keadaan ini didapati oleh sebagian orang yang lain lagi, maka merekapun berpendapat bahwasanya tidaklah beliau <em>berihlal <\/em>kecuali saat berada di tempat yang tinggi. Maka demi Allah sesungguhnya beliau mulai dari mushallanya, dan saat tungangannya berjalan menuju Makkah, dan saat berada di tempat yang tinggi\u201d.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong> Di antaranya adalah ikhtilaf sahwi (perselisihan karena lupa).<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar beliau berkata: \u201cRasulullah berumrah pada bulan Rajab, kemudian Aisyah mendengar hal tersebut dan menetapkan bahwa Ibnu Umar telah lupa\u201d. (Jam\u2019ul Fawaid I\/345-346).<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><strong> Juga diantaranya adalah ikhtilaf adh-dhabt (ketelitian).<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: Apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dari Nabi bahwasanya orang mati diadzab karena tangisan keluarganya, maka Aisyah mendengar hal tersebut dan menghukumi Ibnu Umar keliru di dalam menerima hadits ini. Aisyah berkata: \u201cRasulullah melewati sebuah kuburan kemudian bersabda: \u201cSesungguhnya (mayit di dalam kubur) ini sedang diadzab sekarang, karena tangisan keluarganya\u201d. Ibnu Umar menyangka bahwasanya adzab disebabkan oleh tangisan dan menyangka hukum tersebut bersifat umum bagi setiap orang mati. Maka Aisyah\u00a0 berkata : \u201cSemoga Allah mengampuni Abi Abdirrahman, dia telah keliru. Sesungguhnya Allah Ta\u2019ala berfirman:<\/p>\n<h2>\u00a0\u0648\u064e\u0644\u0627\u064e \u062a\u064e\u0632\u0650\u0631\u064f \u0648\u064e\u0627\u0632\u0650\u0631\u064e\u0629\u064c \u0648\u0650\u0632\u0652\u0631\u064e \u0623\u064f\u062e\u0652\u0631\u064e\u0649<\/h2>\n<p><em>Tidaklah seseorang menanggung beban dosa orang lain\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Hanyasanya Rasulullah bersabda: \u201cSesungguhnya (mayit di dalam kubur) ini sedang diadzab sekarang, dan keluarganya menangisinya.\u201d (Lihat Musnad Imam Ahmad, Al-Inshaf fi Bayani Asbab il Ikhtilaf, Al-ayat Al-Bayinat fi \u2018Adami Sima\u2019il Mautaa oleh Al-Albani).<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li><strong> <em>Ikhtilaf<\/em> di dalam \u2018<em>ilat <\/em>(sebab\/alasan adanya hukum).<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contohnya: Masalah berdiri untuk jenazah. Sebagian di antara mereka berkata bahwa hal itu sebagai pengagungan\/pemuliaan terhadap malaikat, maka berlaku bagi jenazah mukmin maupun kafir. Sedangkan orang lain berpendapat bahwa hal itu karena dahsyatnya kematian maka berlaku bagi keduanya. Dan pendapat lain: Sebuah jenazah Yahudi melewati Rasulullah maka beliau berdiri karenanya sebab benci kalau jenazah tersebut lebih tinggi dari kepalanya, maka yang demikian ini berlaku khusus bagi jenazahnya orang kafir. (Lihat Al-Inshaf, halaman 30).<\/p>\n<ol start=\"7\">\n<li><strong> Juga <em>ikhtilaf<\/em> di dalam menggabungkan dua riwayat yang berbeda.<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Contoh: Rasulullah \ufdfa melarang buang hajat dengan menghadap atau membelakangi kiblat. Sebagian mereka berpendapat hukum ini bersifat umum dan tidak dimansukh -dihapus-. Kemudian ada riwayat bahwa Jabir bin Abdillah melihat Rasulullah setahun sebelum wafatnya beliau buang air kecil menghadap kiblat, maka sebagian mereka berpendapat bahwa hadits ini adalah nasakh (menghapuskan) larangan sebelumnya. Demikian juga Ibnu Umar melihat pernah melihat Nabi membuang hajat membelakangi kiblat dan menghadap ke Syam, maka sebagian yang lain membantah ucapan mereka sebelumnya.<\/p>\n<p>Sebagian ulama menggabungkan dua riwayat ini, Asy-Sya\u2019bi dan yang lain berpendapat bahwasanya larangan tersebut berlaku khusus seandainya dilakukan di tanah lapang. Namun apabila berada di jamban (bangunan\/tempat tertutup) maka tidak mengapa menghadap atau membelakangi kiblat. Sedangkan sebagian yang lain berpendapat bahwa ucapan beliau adalah <em>umum<\/em> dan <em>muhkam (<\/em>pasti;tetap) sehingga wajib untuk dikerjakan oleh umatnya, adapun perbuatan beliau memiliki kemungkinan kekhususan bagi Nabi maka tidak bisa dijadikan dalil untuk menghapuskan.<\/p>\n<p>Kesimpulannya, bahwa\u00a0 para sahabat Nabi telah berbeda pendapat di dalam berbagai masalah, kemudian hal itu diambil oleh para Tabi\u2019in sebatas kemampuan mereka. Masing-masing mereka -Tabi\u2019in- menghafal apa-apa yang didengar dari Nabi dan pendapat-pendapat para sahabat serta mencernanya, kemudian mereka mengumpulkan setiap permasalahan yang diperselisihkan sebatas kemampuan mereka dan merajihkan (menyatakan kuatnya) sebagian pendapat dan menyisihkan pendapat lainnya walaupun bersumber dari para <em>kibar sahabat<\/em> (para sahabat besar). Maka dari sinilah kemudian muncul <em>ikhtilaf<\/em> (perbedaan pendapat) yang lebih luas, sebab setiap \u2018alim dari ulama Tabi\u2019in memiliki <em>madzhab<\/em> (pendapat) dengan ilmu yang ada pada mereka. Dan setiap negeri disandarkan kepada seorang imam, seperti:<\/p>\n<p>&#8211; Sa\u2019id bin Al-Musayyib dan Salim bin Abdullah bin \u2018Umar di Madinah. Dan sesudah keduanya ada Az-Zuhri, Qadhi Yahya bin Sa\u2019id dan Rabi\u2019ah bin \u2018Abdirahman.<\/p>\n<p>&#8211; \u2018Atha\u2019 bin Abi Rabah di Makkah.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0 Ibrahim An-Nakha\u2019i dan Asy-Sya\u2019bi di Kufah<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0 Al-Hasan-Al-Bashri di Bashrah.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0 Thawus bin Kaisan di Yaman.<\/p>\n<p>&#8211;\u00a0\u00a0 Makhul di Syam.<\/p>\n<p>Maka Allah Ta\u2019alla menjadikan manusia haus terhadap ilmu-ilmu mereka, mencintai, serta mengambil al-hadits, fatwa-fatwa para sahabat, perkataan, dan <em>madzhab-madzhab<\/em> (pendapat-pendapat) mereka, sehingga mereka menjadi poros-poros ilmu setelah zaman para sahabat.<\/p>\n<h3>SEBAB-SEBAB IKHTILAF MADZHAB-MADZHAB FUQAHA<\/h3>\n<p>Sebagaimana kita ketahui dari pembahasan di atas tentang peran tabi\u2019in, maka kita ketahui pula bahwa Allah Ta\u2019alla menjadikan masa tersebut sebagai masa dimulainya para pembawa ilmu sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah \ufdfa :<\/p>\n<h2>\u064a\u064e\u062d\u0652\u0645\u0650\u0644\u064f \u0647\u064e\u0630\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064e \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0643\u064f\u0644\u0651\u0650 \u062e\u064e\u0644\u064e\u0641\u064d \u0639\u064f\u062f\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f\u0647\u064f<\/h2>\n<p><em>Ilmu ini dibawa pada setiap zaman oleh orang-orang kepercayaan.\u00a0 <\/em>(Lihat Al-Inshaf halaman: 34).<\/p>\n<p>Mereka mengambil segala macam ilmu -syari\u2019at- dari orang-orang yang mereka kenal, dan mereka meriwayatkan hadits Nabi, mendengar putusan-putusan dari hakim-hakim tiap negara-negara dan fatwa-fatwa para ahli fatwa, serta mereka menanyakan berbagai permasalahan dan mereka berijtihad di dalam masalah itu semua, sehingga jadilah mereka para pembesar kaum. Kemudian mereka menetapkan hukum, berfatwa, meriwayatkan hadits dan mengajarkan ilmu.<\/p>\n<p>Apabila terjadi ikhtilaf di antara hadits-hadits Nabi di dalam suatu masalah, maka\u00a0 mereka memutuskannya dengan ucapan para sahabat. Maka jika Tabi\u2019in berpendapat dengan <em>nasakh<\/em> (penghapusan hukum), mengambil\u00a0 makna yang bukan zhahirnya, atau mereka tidak menjelaskannya akan tetapi mereka sepakat untuk meninggalkan atau tidak berpendapat tentang hal itu maka mereka senantiasa mengikuti para sahabat di dalam semua masalah itu.<\/p>\n<p>Apabila terdapat ikhtilaf di dalam <em>madzhab<\/em> (pendapat) para sahabat dan tabi\u2019in tentang suatu masalah, maka yang dipilih oleh setiap \u2018alim adalah pendapat ahli negerinya dan guru-guru mereka, sebab mereka lebih tahu tentang kebenaran pendapat-pendapat mereka, dan mereka lebih menguasai tentang usul yang berhubungan dengan masalah yang terjadi, dan hati mereka lebih condong kepada keutamaan dan kedalaman ilmu ulama negeri mereka.<\/p>\n<p>Apabila terjadi kesepakatan ahli balad (penduduk suatu negeri) atas suatu masalah, mereka mengambilnya dan memegangnya dengan sekuat tenaga, sebagaimana disitir oleh Imam Malik: \u201cYang dinamakan Sunnah menurut kami adalah sesuatu yang tidak ada ikhtilaf padanya.\u201d <strong><em>(Al-Inshaf hal. 37).<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Tetapi apabila terjadi ikhtilaf diantara mereka, mereka mengambil pendapat yang paling kuat dan paling rajih, entah karena banyaknya orang yang berpendapat tentang masalah yang sama atau karena sesuai dengan qiyas yang kuat atau berdasarkan ijtihad dari Kitab dan Sunnah. Sebagaimana diungkapkan oleh Imam Malik: \u201cIni sebaik-baik apa yang aku dengar.\u201d <strong><em>(Al-Inshaf hal 37).<\/em><\/strong><\/p>\n<p>Apabila mereka tidak mendapati jawaban permasalahan yang mereka hadapi pada apa yang mereka hafal dari sahabat, mereka akan mengikuti isyarat-isyarat dan tuntutan-tuntutan dari atsar para sahabat. Dan pada zaman mereka inilah mulai terilhami penulisan ilmu dari berbagai disiplin ilmu.<\/p>\n<p><strong>Imam Malik <\/strong>adalah orang yang paling terpercaya dan paling kuat dari sisi sanad di antara mereka tentang hadits-hadits penduduk Madinah dari Rasulullah. Beliau juga paling tahu tentang putusan-putusan hukum Umar bin Al-Khathab dan ucapan-ucapan Abdullah bin Umar, \u2018Aisyah dan para sahabat yang lain .<\/p>\n<p><strong>Begitu pula Abu Hanifah <\/strong>senantiasa melazimi madzhab (pendapat) Ibrahim An-Nakha\u2019i dan sahabat-sahabatnya, dan beliau memiliki kemampuan yang lebih di dalam madzabnya dan begitu teliti di dalam masalah tersebut.<\/p>\n<p>Di antara sahabat-sahabat Abu Hanifah yang masyhur dan sering disebut-sebut adalah Abu Yusuf, beliau diangkat sebagai kepala Qadhi\/Hakim pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid. Dari beliaulah madzhab Abu Hanifah menjadi terkenal dan tersebar. Di antara sahabat Abu Hanifah yang lain adalah Muhammad bin Al-Hasan, beliau adalah yang terbaik, mengambil ilmu dari Abu Hanifah dan juga dari Abu Yusuf. Kemudian beliau keluar menuju Madinah, dan di sana beliau bertemu dengan Imam Malik dan belajar <strong><em>Al-Muwatha\u2019<\/em><\/strong> darinya, kemudian kembali ke negerinya. Dan mulailah mencocokkan apa yang beliau dapati dari <strong><em>Al-Muwatha\u2019<\/em><\/strong> dengan madzhab sahabat-sahabatnya, permasalahan demi permasalahan. Jika sesuai maka langsung diterima, namun apabila ada ikhtilaf dan mendapati pendapat sebagian sahabat atau tabi\u2019in sesuai dengan madzhabnya, maka beliau menerima hal tersebut. Dan jika mendapati qiyas yang lemah atau ijtihad yang tidak kuat menyelisihi hadits shahih yang diamalkan oleh fuqaha atau menyelisihi kebanyakan amalan ulama, maka beliau tinggalkan madzhabnya dan berpegang dengan madzhab para salaf -shahih- yang dipandang lebih rajih (kuat).<\/p>\n<p>Namun demikian, Abu Yusuf maupun Muhammad bin Al-Hasan tetap senantiasa berpijak pada atsar Ibrahim An-Nakha\u2019i sebagaimana Abu Hanifah. Sedangkan ikhtilaf antara mereka terjadi karena kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut:<\/p>\n<p>* Pilihan yang dilakukan oleh Abu Hanifah terhadap madzhab Ibrahim An-Nakha\u2019i bertentangan dengan pendapat keduanya (Ibrahim An-Nakha\u2019i dan Abu Yusuf), kemudian Muhammad bin Hasan\u00a0 menulis dan mengabungkan pendapat ketiganya (Ibrahim, Abu Hanifah, dan Abu Yusuf), dari sinilah manusia mengambil banyak manfaat dan mereka menyebutnya sebagai madzhab Abu Hanifah.<\/p>\n<p>* Bahwasanya penyebutan madzhab Abu Hanifah dan madzhab Abu Yusuf dan Muhammad\u00a0 adalah satu, padahal Abu Yusuf dan Muhammad juga <em>mujtahid muthlak<\/em> (tidak terikat ulama lain), dan pertentangan yang terjadipun tidak sedikit, namun karena kesepakatan mereka di dalam dasar yang sama, maka ketiga pendapat mereka tetap dianggap satu madzhab.<\/p>\n<p>Adapun <strong>Imam Syafi\u2019i<\/strong>\u00a0 mulai nampak pada permulaan munculnya dua madzhab di atas, dan beliau mulai melihat dua madzhab tadi dan mendapati permasalahan-permasalahan yang membutuhkan koreksi, dan hal ini beliau sebutkan di dalam Kitabnya <strong><em>Al-Umm<\/em><\/strong> pada bab-bab awal, diantaranya:<\/p>\n<ol>\n<li>Beliau mendapati mereka mengambil hadits-hadits <em>mursal <\/em>dan <em>munqati\u2019 <\/em>, maka dari sini diketahui bahwa pengambilan dalil mereka memiliki cacat. Sebab seandainya jalan-jalan hadits-hadits dikumpulkan, maka akan nampak banyak hadits-hadits mursal yang tidak memiliki sumber, dan hadits-hadits mursal yang menyelisihi hadits musnad. Maka beliau menetapkan untuk tidak mengambil hadits mursal sebagai hujjah, kecuali dengan beberapa syarat, hal ini disebutkan di dalam kitab-kitab Ushul fiqih.<\/li>\n<li>Sesungguhnya kaidah-kaidah penggabungan antara permasalahan yang diperselisihkan belum ditetapkan oleh mereka, sehingga dari sini timbul beberapa keganjilan-keganjilan pada hasil-hasil ijtihad mereka. Maka Imam Syafi\u2019i menetapkan kaidah-kaidah ushul untuk permasalahan ini, dan menuliskannya di dalam buku tersendiri, yaitu Ar-Risalah, yang buku ini kemudian dikenal sebagai tulisan pertama tentang ushul fiqih.<\/li>\n<li>Bahwasanya sebagian dari hadits-hadits shahih belum\/tidak sampai kepada ulama Tabi\u2019in yang mereka menjadi sandaran fatwa, sehingga mereka berijtihad dengan akal, mengikuti dalil-dalil yang bersifat umum, atau mengikuti pendapat orang-orang yang telah lalu dari kalangan sahabat, dan mereka berfatwa sesuai dengan hal tersebut. Kemudian muncul penshahihan hadits-hadits pada kurun ke-3, dan para ulama pengumpul dan penshahih hadits itu tidak peduli walaupun bertentangan dengan pendapat ahli negerinya. Sebab terdapat banyak hadits Nabi yang hanya diriwayatkan oleh satu atau dua sahabat Nabi saja, kemudian tidaklah diriwayatkan dari mereka kecuali oleh satu atau dua Tabi\u2019i saja, begitu seterusnya, yang hal ini terkadang tidak diketahui oleh ahli fiqih. Hal ini begitu gamblang pada masa para penghafal dan pengumpul jalan-jalan hadits. Banyak hadits-hadits yang diriwayatkan oleh penduduk Bashrah -contohnya-, tetapi tidak diketahui oleh penduduk negeri lainnya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Kemudian Imam Syafi\u2019i menjelaskan bahwasanya para ulama dari kalangan sahabat dan Tabi\u2019in senantiasa mencari hadits di dalam setiap masalah, apabila mereka tidak mendapatkannya mereka berpegang dengan hujjah yang lain. Lalu apabila suatu hadits shahih nampak kepada mereka, maka mereka kembali rujuk dari pendapat mereka kepada hadits yang shahih. Apabila keadaannya seperti ini, maka keadaan mereka \u2013yang terkadang- tidak berpegang dengan hadits bukanlah suatu cela (karena mereka tidak sengaja menyelisihi hadits-Red), kecuali apabila sudah dijelaskan kecacatan hadits tersebut!<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li>Bahwasanya ucapan-ucapan para sahabat dikumpulkan pada zaman Imam Syafi\u2019i, kemudian mulai diketahui banyaknya ucapan-ucapan tersebut berbeda-beda dan tersebar di berbagai penjuru alam. Beliau juga melihat banyak di antaranya yang menyelisihi hadits shahih, disebabkan hadits itu belum sampai kepada mereka. Dan Salafush Shalih senantiasa berpegang kepada ucapan-ucapan para sahabat, sampai datang kepada mereka berita tentang hadits yang shahih, kemudian mereka akan meninggalkan ucapan-ucapan itu jika bertentangan dengan hadits yang shahih.<\/li>\n<li>Beliau memandang sebagian kaum dari kalangan fuqaha mencampur-baurkan pendapat seseorang dengan nash, baik dengan qiyas yang tidak tepat atau selainnya, yang tidak ada perintahnya dari syari\u2019at, sehingga tidak dapat dibedakan satu dengan lainnya. Dan kadang mereka menamakan dengan al-istihsan (menganggap baik sesuatu). Sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnul-Hajib di dalam Mukhtashar Al-Ushul: \u201cBarangsiapa beristihsan berarti dia telah membuat syari\u2019at.\u201d Jadi jelasnya, tatkala Imam Syafi\u2019i melihat keadaan-keadaan yang terjadi pada generasi sebelumnya -sebagaimana dijelaskan- maka beliau mengambil fiqih langsung dari nash, kemudian beliau mulai menetapkan kaidah-kaidah ushul, mengembangkannya dan menulis buku. Hal itu berlangsung dengan baik dan bermanfaat, sehingga para fuqaha menyetujuinya dan mulai bertebaran di berbagai negeri untuk mengajarkannya, baik secara meringkas maupun memberikan penjelasan. Dan kemudian dikenal dengan madzhab Asy-Syafi\u2019i.<\/li>\n<\/ol>\n<p>SEBAB-SEBAB IKHTILAF ANTARA AHLI HADITS DAN AHLI FIQIH<\/p>\n<p>Perlu diketahui bahwa para ulama di masa Sa\u2019id bin Al-Musayyib, Ibrahim An-Nakha\u2019i, Az-Zuhri, Imam Malik, Sufyan Ats-Tsauri dan generasi setelahnya, sangat membenci mempergunakan akal terlalu mendalam. Mereka menghindar dari berfatwa dan mengambil kesimpulan hukum kecuali dalam keadaan darurat yang tidak mungkin untuk mengelak, sebab perhatian mereka yang utama adalah meriwayatkan dari Rasulullah.<\/p>\n<p>Tatkala Abdullah bin Mas\u2019ud \u00a0ditanya tentang sesuatu beliau menjawab: \u201cJanganlah kalian terburu-buru dengan bala\u2019 (bencana) sebelum turunnya, sesungguhnya di kalangan muslimin terdapat orang yang menjawab setiap pertanyaan apabila ditanya.\u201d Juga diriwayatkan ucapan yang semakna dari \u2018Umar, Ali, Ibnu \u2018Abbas, dan Ibnu\u00a0 Mas\u2019ud tentang kebencian mereka atas perkataan terhadap sesuatu yang belum terjadi. (Lihat Al-Inshaf halaman 46).<\/p>\n<p>Ibnu \u2018Umar berkata kepada Jabir bin Zaid: \u201cSesungguhnya engkau termasuk salah satu dari fuqaha Bashrah, maka janganlah engkau berfatwa kecuali dengan Al-Qur\u2019an atau dengan Sunnah yang telah diajarkan, sebab jika engkau tidak berbuat demikian, niscaya engkau binasa dan membinasakan.\u201d<\/p>\n<p>Tatkala Abu Salamah tiba di Bashrah, Abun-Nadhar berkata: \u201cAku mendatanginya (Abu Salamah) beserta Al-Hasan, kemudian dia berkata kepada Al-Hasan: \u201cEngkau adalah Hasan?, tidak ada seorangpun di Bashrah ini yang aku sangat suka untuk menemuinya selain darimu, sebab sampai berita kepadaku bahwasanya engkau berfatwa dengan akalmu, janganlah engkau berfatwa dengan akalmu, tetapi hendaklah engkau berfatwa dengan Sunnah dari Rasulullah n atau dengan Kitabullah. (Riwayat-riwayat ini dikeluarkan oleh Ad-Darimi).<\/p>\n<p>Keadaan seperti ini kemudian berkembang, dan tersebarlah penulisan hadits dan <em>atsar <\/em>(riwayat) di negeri-negeri Islam, serta penulisan-penulisan <em>shuhuf<\/em> (lembaran-lembaran) dan naskah-naskah, sampai-sampai hampir setiap ahli riwayat memiliki tulisan atau naskah tersendiri, disebabkan oleh kebutuhan mereka yang sangat besar terhadap tulisan. Banyak dari mereka berusaha untuk bertemu dengan para ulama, walaupun harus mengadakan perjalanan jauh dan melelahkan, ke Hijaz, Syam, Iraq, Mesir, Yaman, Khurasan, dan sebagainya. Mereka mengumpulkan buku-buku, mencari naskah-naskah, dan memeriksa tentang <em>gharibul hadits<\/em> (kata-kata yang asing\/aneh\/jarang digunakan\u00a0 yang ada di dalam hadits) dan <em>atsar<\/em>. Disebabkan semangat dan perhatian mereka yang besar di dalam mengumpulkan hadits dan atsar membuahkan sesuatu yang tidak terkumpul oleh seorangpun pada zaman sebelumnya. Terkumpullah <em>hadits-hadits gharib, mutaba\u2019ah dan syawahid<\/em> serta nampak bagi mereka hadits-hadits shahih yang tidak nampak pada para ahli fatwa sebelum mereka.<\/p>\n<p>Sebagaimana pengakuan Imam Syafi\u2019i terhadap kelebihan Imam Ahmad di dalam hal tersebut, Imam Syafi\u2019i berkata: \u201cEngkau lebih tahu dari kami tentang hadits-hadits shahih, maka apabila engkau dapati hadits yang shahih, beritakan kepada kami, sehingga aku akan berpndapat dengan hadits tersebut. Baik hadits itu dari Kufah, Bashrah,\u00a0 ataupun Syam\u201d. Yang demikian ini karena ada banyak hadits shahih tidak diriwayatkan kecuali oleh penduduk negeri tertentu. Hadits yang demikian \u2013biasanya- tidak diketahui oleh banyak ahli fatwa. Pada zaman mereka inilah mulai terkumpul atsar-atsar fuqaha setiap negeri dari kalangan sahabat dan tabi\u2019in. Padahal orang-orang sebelum mereka belum memiliki kemampuan kecuali sekedar mengumpulkan hadits-hadits negeri mereka dan sahabat mereka.<\/p>\n<p>Pada zaman tersebut, para ulama peneliti senantiasa mengutamakan ilmu riwayat dan menyusun hadits secara fiqih, dan tidak terbetik pada diri mereka untuk menyusun fiqih secara taqlid kepada orang-orang dahulu. Karena terkadang hadits-hadits dan atsar-atsar yang mereka riwayatkan itu justru bertentangan dengan setiap madzhab yang ada. Maka mereka lebih memilih untuk mengambil dan mengikuti hadits Nabi serta atsar para sahabat dan para Tabi\u2019in serta mujtahid yang berdasarkan kaidah-kaidah yang mereka tetapkan.<\/p>\n<p>DARI PENJELASAN DI ATAS DAPAT KITA SIMPULKAN:<\/p>\n<p>Bahwa para ulama jika menjumpai suatu permasalahan, sedangkan jawabannya di dalam Al-Qur\u2019an masih memiliki beberapa kemungkinan, maka mereka menjadikan Sunnah Rasulullah sebagai penjelasan Al-Qur\u2019an. Namun apabila mereka tidak mendapati jawabannya, baik di dalam Al-Qur\u2019an maupun Sunnah Rasulullah \ufdfa , dan mereka pun sudah mengerahkan segala kemampuan untuk mencari dan meneliti hadits-hadits yang ada namun merekapun tidak mendapatinya, barulah mereka mengambil ucapan sekelompok sahabat dan Tabi\u2019in, dan mereka tidak terikat kepada satu kaum saja dan menyepelekan yang lain. Akan tetapi kapanpun didapati hadits shahih yang menjelaskan tentang suatu masalah, maka tidak selayaknya menyelisihinya, lalu mengikuti yang selainnya yang bertentangan dengannya, baik atsar maupun ijtihad seseorang dari kalangan mujtahidin.<\/p>\n<p>Dan apabila mayoritas khalifah dan fuqaha sepakat atas suatu masalah, maka yang demikian dapat diikuti \u2013bahkan wajib diikuti-, akan tetapi apabila mereka ber-ikhtilaf maka diambil ucapan dari orang yang paling berilmu, yang paling wara\u2019, dan yang paling kuat hafalannya. Namun jika didapati dua pendapat yang sama-sama kuat, dan tidak dapat dipecahkan maka mereka kembalikan kepada keumuman nash Al-Kitab dan Sunnah Rasululla. Wallahu A\u2019lam.<\/p>\n<p>Bahan Bacaan:<\/p>\n<p>&#8211; Al-Inshaf Fi Bayaani Asbaabil Ikhtilaf oleh Syaikh Waliyullah Ad-Dahlawi.<\/p>\n<p>&#8211; Hakikatut Ta\u2019yin oleh Syaikh Muhammad \u2018Ied \u2018Abbaasi.<\/p>\n<p>&#8211; I\u2019laamul \u2018Ibaad oleh Syaikh Muhammad \u2018Ied \u2018Abbaasi.<\/p>\n<p>&#8211; Ta\u2019riefur Raghib oleh Syaikh Muhammad \u2018Ied \u2018Abbaasi.<\/p>\n<p>&#8211; Shifat Shalat Nabi n oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.<\/p>\n<p>[Majalah As-Sunnah Edisi 01 Tahun V]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Abu \u2018Abdillah Ibn Abi Muhammad Sholih Perlu kita ketahui bahwasanya pembahasan fiqih pada zaman Nabi \ufdfa tidak pernah dituliskan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":294,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[10],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=293"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":295,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/293\/revisions\/295"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/294"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=293"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=293"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=293"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}