{"id":223,"date":"2018-10-03T02:40:23","date_gmt":"2018-10-03T02:40:23","guid":{"rendered":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/?p=223"},"modified":"2018-10-08T01:22:02","modified_gmt":"2018-10-08T01:22:02","slug":"semua-akan-memasuki-neraka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/semua-akan-memasuki-neraka\/","title":{"rendered":"SEMUA AKAN MEMASUKI NERAKA"},"content":{"rendered":"<p>Oleh<\/p>\n<p>Ustadz Ashim bin Musthafa, Lc<\/p>\n<h2>\u0648\u064e\u0625\u0650\u0646 \u0645\u0650\u0651\u0646\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0631\u0650\u062f\u064f\u0647\u064e\u0627<br \/>\n\u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u0643\u064e \u062d\u064e\u062a\u0652\u0645\u064b\u0627 \u0645\u0651\u064e\u0642\u0652\u0636\u0650\u064a\u0651\u064b\u0627 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0646\u064f\u0646\u064e\u062c\u0650\u0651\u064a \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u062a\u0651\u064e\u0642\u064e\u0648\u0627 \u0648\u0651\u064e\u0646\u064e\u0630\u064e\u0631\u064f \u0627\u0644\u0638\u0651\u064e\u0627\u0644\u0650\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e \u0641\u0650\u064a\u0647\u064e\u0627 \u062c\u0650\u062b\u0650\u064a\u0651\u064b\u0627<\/h2>\n<p><em>Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.<\/em> [Maryam\/19: 71-72]<!--more--><\/p>\n<p>PENJELASAN AYAT :<\/p>\n<p>Ayat ini (ayat pertama) merupakan kabar berita dari Allah Azza wa Jalla kepada seluruh makhluk ; baik orang-orang yang shaleh ataupun durhaka, Mukmin maupun orang kafir. Setiap orang akan mendatangi neraka. Ini sudah menjadi ketentuan Allah Azza wa Jalla dan janji-Nya kepada para hamba. Tidak ada keraguan tentang terjadinya peristiwa itu. Allah Azza wa Jalla pasti akan merealisasikannya. [1]<\/p>\n<p>Yang perlu diketahui, Ulama ahli tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian kata <em>al-wur\u00fbd<\/em> [2] (mendatangi neraka) dalam ayat tersebut. Sebagian Ulama menyatakan, maksudnya neraka dihadirkan di hadapan segenap makhluk, sehingga semua orang akan merasa ketakutan. Setelah itu, Allah Azza wa Jalla menyelamatkan kaum <em>muttaq\u00een<\/em> (orang-orang yang bertakwa). Atau menurut penafsiran yang lain, semua makhluk akan memasukinya. Meski kaum Mukminin memasukinya, akan tetapi neraka akan menjadi dingin dan keselamatan bagi mereka. Di samping itu, terdapat penafsiran lain yang memaknainya dengan mendekati neraka. Dan ada yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah panas badan yang dialami kaum Mukminin saat menderita sakit panas. [3]<\/p>\n<p>Syaikh \u2018Abdul Muhsin menyatakan bahwa penafsiran paling populer mengenai ayat di atas ada dua pendapat. Pertama, semua memasuki neraka, akan tetapi mereka (kaum Mukminin) tidak mengalami bahaya. Kedua, mereka semua melewati <em>shir\u00e2th<\/em> (jembatan) sesuai dengan kadar amal shalehnya.Jembatan ini terbentang di atas permukaan neraka Jahannam. Jadi, orang yang melewatinya dikatakan telah mendatangi neraka. Penafsiran ini dinukil Ibnu Kats\u00eer rahimahullahdari Ibnu Mas\u2019\u00fbd Radhiyallahu \u2018anhu. [4]<\/p>\n<p>Dari dua pendapat ini, Imam Ibnul Abil \u2018Izzi rahimahullah (wafat tahun 792 H) memandang bahwa pendapat kedua itulah yang paling kuat dan r\u00e2jih. Beliau berkata: \u201cUlama tafsir berbeda pendapat mengenai pengertian al-wur\u00fbd dalam firman Allah Surat Maryam ayat 71, manakah pendapat yang benar? Pendapat yang paling jelas dan lebih kuat adalah melintasi shir\u00e2th.\u201d [5]<\/p>\n<p>Untuk menguatkan pendapat ini, Imam Ibnul Abil \u2018Izzi rahimahullah berhujjah dengan ayat selanjutnya (QsMaryam\/19:72) dan hadits riwayat Imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahihnya no. 6354. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Umm Mubasysyir Radhiyallahu \u2018anha, ia mendengar Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam bersabda saat berada di samping Hafshah Radhiyallahu \u2018anha , \u201cTidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon (ikut serta dalam perjanjian Hudaibiyah, red) yang akan masuk neraka\u201d. Hafshah (bertanya-tanya dengan) berkata, \u201cMereka akan memasukinya wahai Rasulullah\u201d. Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam pun menyanggahnya. Hafshah Radhiyallahu \u2018anha berdalil dengan membaca ayat (yang artinya): \u201cDan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan. (Mendengar ini) Nabi Shallallahu \u2018alaihi wa sallam kemudian (mendudukkan masalah seraya) bersabda, \u201cSungguh Allah telah berfirman setelahnya: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut)\u201d.<\/p>\n<p>Usai mengetengahkan hadits di atas, Imam Ibnu Abil \u2018Izzi rahimahullah mengatakan bahwa beliau (Rasulullah) Shallallahu \u2018alaihi wa sallam mengisyaratkan (dalam hadits) bahwa maksud alwur\u00fbd (mendatangi neraka) tidak mesti memasukinya. Begitu juga selamatnya (seseorang) dari mara bahaya tidak mesti ia telah mengalaminya. Akan tetapi, dengan adanya kondisi (genting) yang terjadi itu sudah cukup (kemudian dia selamat dari ancaman itu). Barang siapa dikejar musuh yang hendak membunuhnya, namun musuh tidak sanggup menangkapnya, maka untuk orang yang tidak tertangkap ini bisa dikatakan: Allah telah menyelamatkannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya:<\/p>\n<h2>\u0648\u064e\u0644\u064e\u0645\u0651\u064e\u0627 \u062c\u064e\u0627\u0621\u064e \u0623\u064e\u0645\u0652\u0631\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0646\u064e\u062c\u0651\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0647\u064f\u0648\u062f\u064b\u0627<\/h2>\n<p><em>Dan ketika adzab Kami datang, Kami selamatkan H\u00fbd<\/em>\u2026[H\u00fbd \/11:58],<\/p>\n<h2>\u0641\u064e\u0644\u064e\u0645\u0651\u064e\u0627 \u062c\u064e\u0627\u0621\u064e \u0623\u064e\u0645\u0652\u0631\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0646\u064e\u062c\u0651\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0635\u064e\u0627\u0644\u0650\u062d\u064b\u0627<\/h2>\n<p><em>Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Saleh<\/em>\u2026[H\u00fbd \/11:66],<\/p>\n<h2>\u0648\u064e\u0644\u064e\u0645\u0651\u064e\u0627 \u062c\u064e\u0627\u0621\u064e \u0623\u064e\u0645\u0652\u0631\u064f\u0646\u064e\u0627 \u0646\u064e\u062c\u0651\u064e\u064a\u0652\u0646\u064e\u0627 \u0634\u064f\u0639\u064e\u064a\u0652\u0628\u064b\u0627<\/h2>\n<p><em>Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu\u2019aib<\/em> [H\u00fbd \/11:94]<\/p>\n<p>Siksa Allah Azza wa Jalla tidak ditimpakan kepada mereka, akan tetapi menimpa orang selain mereka Jika tidak ada faktor-faktor keselamatan yang Allah Azza wa Jalla anugerahkan bagi mereka secara khusus, niscaya siksa akan menimpa mereka juga. Demikian pula pengertian al-wur\u00fbd (mendatangi neraka), maksudnya orangorang akan melewati neraka dari atas shir\u00e2th. Kemudian Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zhalim di neraka dalam keadaan berlutut\u201d [6]<\/p>\n<p>Senada dengan keterangan di atas, sebelumnya Imam Naw\u00e2wi rahimahullah (wafat tahun 676 H) pun menguatkan arti menyeberangi shir\u00e2th. Beliau rahimahullah berkata dalam menerangkan hadits Umm Mubasysyir Radhiyallahu \u2018anha : \u201cYang benar, maksud al-wur\u00fbd (mendatanginya) dalam ayat adalah melewati shir\u00e2th. Shir\u00e2th adalah sebuah jembatan yang terbentang di atas neraka Jahanam. Para penghuni neraka akan terjatuh di dalamnya. Sementara selain mereka akan selamat\u201d. [7]<\/p>\n<p>Dalam kitab al-Jaw\u00e2buss Shah\u00eeh (1\/228), Syaikhul Isl\u00e2m Ibnu Taimiyah rahimaullah juga mer\u00e2jihkan pengertian <em>al-wur\u00fbd<\/em> dengan menyeberangi shir\u00e2th [8]. Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafizhahull\u00e2h juga memilih pendapat ini dalam tafsirnya [9].<\/p>\n<p>ORANG-ORANG BERTAKWA SELAMAT MELINTASI SHIR\u00c2TH<\/p>\n<p>Amal shaleh akan sangat berpengaruh dalam proses melewati shir\u00e2th ini. Semakin banyak amal shaleh seseorang di dunia, maka ia akan semakin cepat dalam menyeberanginya. Allah Azza wa Jalla menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya sesuai dengan amal mereka.<\/p>\n<p>Syaikh as-Sa\u2019di rahimahullah mengatakan: \u201cOrang-orang menyeberanginya sesuai dengan kadar amaliahnya (di dunia). Sebagian melewatinya secepat kedipan mata, atau secepat angin, secepat jalannya kuda terlatih maupun seperti kecepatan larinya hewan ternak. Sebagian (menyeberanginya) dengan berlarilari, berjalan dan merangkak. Sebagian yang lain tersambar dan terjerumus jatuh di dalam neraka. Masing-masing sesuai dengan ketakwaannya. Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya \u201cKemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa (kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan membiarkan orang-orang zhalim (yang menzhalimi diri mereka sendiri dengan kekufuran dan maksiat) di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut.\u201d [10]<\/p>\n<p>Semoga Allah k dengan rahmat dan kasih-Nya berkenan menyelamatkan kita sekalian dari neraka.<\/p>\n<p>PELAJARAN DARI AYAT:<\/p>\n<ol>\n<li>Mengandung penetapan kewajiban beriman keberadaan neraka.<\/li>\n<li>Penetapan kewajiban mengimani shir\u00e2th.<\/li>\n<li>Penetapan kepastian menyeberangi jembatan di atas neraka.<\/li>\n<li>Ketetapan Allah Azza wa Jalla pasti terjadi.<\/li>\n<li>Orang-orang bertakwa akan selamat dari siksa neraka.<\/li>\n<li>Orang-orang f\u00e2jir (berbuat jahat) akan binasa karena kesyirikan dan maksiat mereka.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Wall\u00e2hu a\u2019lam.<\/p>\n<p>Footnote<\/p>\n<p>[1]. Silahkan lihat 532 Adhw\u00e2ul Bay\u00e2n 4\/381, al-Aisar (1\/738)<\/p>\n<p>[2]. Mashdar (bentuk pembendaan) dari kata kerja warada yaridu yang merupakan asal kata dari w\u00e2ridu (w\u00e2rid\u00fbh\u00e2) yang tertera dalam ayat<\/p>\n<p>[3]. Silahkan lihat Adhw\u00e2ul Bay\u00e2n 4\/372, Tais\u00eerul Kar\u00eemir Rahm\u00e2n hlm. 498<\/p>\n<p>[4]. J\u00e2miur Ras\u00e2il Syaikh \u2018Abdul Muhsin al-\u2018Abb\u00e2d (1\/260) dengan diringkas<\/p>\n<p>[5]. Syarhul Aq\u00eedatith Thah\u00e2wiyah hlm. 416, takhr\u00eej Syaikh al-Alb\u00e2ni<\/p>\n<p>[6]. Ibid<\/p>\n<p>[7]. Syarhu Shah\u00eeh Muslim (16\/275)<\/p>\n<p>[8]. Nukilan dari Syarhul \u2018Aq\u00eedatil W\u00e2sithiyyah, Kh\u00e2lid \u2018Abdullah al-Mushlih, hlm. 145<\/p>\n<p>[9]. Aisarut Taf\u00e2s\u00eer (1\/738)<\/p>\n<p>[10]. Tais\u00eerul Kar\u00eemir Rahm\u00e2n hlm. 499 dengan diringkas<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>[Majalah As-Sunnah Edisi 09\/Tahun XIII\/1430H\/2009M]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Ustadz Ashim bin Musthafa, Lc \u0648\u064e\u0625\u0650\u0646 \u0645\u0650\u0651\u0646\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0625\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0627\u0631\u0650\u062f\u064f\u0647\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0631\u064e\u0628\u0650\u0651\u0643\u064e \u062d\u064e\u062a\u0652\u0645\u064b\u0627 \u0645\u0651\u064e\u0642\u0652\u0636\u0650\u064a\u0651\u064b\u0627 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u0646\u064f\u0646\u064e\u062c\u0650\u0651\u064a \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0627\u062a\u0651\u064e\u0642\u064e\u0648\u0627 \u0648\u0651\u064e\u0646\u064e\u0630\u064e\u0631\u064f<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/223"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=223"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":268,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/223\/revisions\/268"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media\/224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bckpmjlh.majalahassunnah.net\/backup\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}